Assalamualaikum teman-teman pembaca. Terimakasih sudah setia meramaikan beranda blog ini setiap waktu. Berharap informasi dan tulisan yang dibagi di sini bermanfaat dan memberi inspirasi baru untuk teman-teman semua.
momentum-pergantian-tahun
Sumber Gambar: pexels.com

Waktu berlalu begitu gesit, tanpa pernah menunggu kesiapan kita untuk mengikuti. Tanpa terasa detik ini kita sudah berada dalam dekapan bulan Muharram 1444 H.
Sebelumnya, walau agak terlambat beberapa hari izinkan saya ikut mengucapkan selamat tahun baru 1 Muharram 1444 H. Semoga momentum tahun baru ini, menjadi awal yang tepat untuk kembali bermuhasabah dan berbenah menuju hijrah pada kehidupan yang lebih baik.
Bicara tentang tahun baru hijriah, tidak bisa lepas dari kata hijrah. Nah, pada postingan kali ini saya ingin berbagi cara sederhana keluarga kami dalam memaknai momentum pergantian tahun.

Momentum untuk Mengingat dan Mengevaluasi Kelalaian

Manusia mana sih yang bebas dari kelalaian? Itu yang terus selalu kami ingat. Setiap hari selalu ada potensi kelalain yang dilakukan, dan orang yang paling sering menerima imbas dari kelalain tersebut adalah diri sendiri dan orang terdekat.
Momen pergantian tahun --khususnya hijriah-- menjadi momen sakral untuk kembali menoleh ke belakang. Membuka sejenak lembaran-lembaran perjalanan hidup yang sudah dilewati. Meneliti kembali satu demi satu kelalaian diri. Mencatat dan mengevaluasi setiap kelalaian, mengapa bisa terjadi dan bagaimana caranya agar tidak terulang lagi.
Tidak perlu malu untuk mengakui kelalaian diri. Semua itu adalah fitrah kita sebagai insan yang meman tidak luput dari semua itu. Adalah tugas kita sebagai manusia untuk senantiasa berikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kehari.
Dan awal tahun baru hijriah ini, kembali menjadi pengingat bagi kami untuk mengevaluasi semua kelalaian tersebut. Tujuannya tidak lain adalah sebagai pengingat dan pemandu langkah ke depan. Sedapat mungkin diri berikhtiar agar jangan sampai mengulang kelalaian sama di masa yang akan datang.

Momentum untuk Mensyukuri Kehidupan

Kami meyakini bahwa setiap tangis dan tawa yang menghiasi hari adalah anugerah Allah yang hadir dengan nuansa yang berbeda. Sama ketika kita menerima kado dari seseorang yang kita segani. Terkadang ada kado yang dibungkus dengan indah menarik perhatian dan memantik rasa senang. Namun ada juga kado yang dibungkus ala kadarnya hingga dilirik sebelah mata. Respon kita seringkali berbeda menerima kado dengan tampilan yang berbeda tersebut, padahal isinya sama.
Kami belajar untuk memaknai hidup dengan bijak. Memandang setiap jejak takdir dari Allah dengan kaca mata positif untuk melatih hati lebih terampil dalam bersyukur. Ketika momen tangis menghampiri, kami belajar untuk menarik nafas lebih dalam agar bisa tersenyum dan berpikir dengan jernih. Ada pesan apa di balik semua ini? Kami terus belajar untuk menemukan pesan rahasia di balik derai tangis yang terjadi. Tidak jarang, setelah sekian waktu berlalu kami baru mampu memahami apa pesan yang diselipkan di balik takdir tersebut.
Sebaliknya, ketika takdir tawa menghiasi hari-hari kami belajar untuk tidak jumawa dan melihat lebih jauh ke sekeliling. Mungkin ada tawa yang bisa dibagi pada sesama. Agar kebahagiaan ini terus langgeng dan dirasakan secara luas.
Pergantian tahun menjadi momen sakral bagi kami untuk kembali mensyukuri setiap cerita yang menghiasi lembaran kehidupan kami selama ini. Kami bersyukur dengan semua pelajaran indah di balik setiap takdir tangis sebagaimana kami bersyukur dengan kebahagiaan yang hadir bersama takdir tawa. Alhamdulillah 'ala kulli hal, kuasa-Nya yang telah membawa kami hingga ke titik ini.

Momentum untuk Memaafkan Masa Lalu

Banyak kesalahan di masa lalu yang terkadang membuat hati kesal. Mengapa sampai melakukan kesalahan sefatal itu? Mengapa harus mengambil langkah yang salah? Mengapa tidak bisa berbuat sebaik orang lain?
No no no, awal tahun ini kami memutuskan untuk menerima seburuk apapun takdir di masa lalu. Semua sudah terjadi dan mustahil bisa diulangi. Hal yang bisa dilakukan saat ini adalah mengambil hikmah dan pelajaran dari semua yang sudah terjadi. Kemudian berjanji pada diri untuk menghiasi hari ini dan ke depannya dengan takdir-takdir terbaik yang bisa diikhtiarkan.
Untuk itu langkah pertama yang kami pilih adalah belajar untuk memaafkan masa lalu. Ikhlas dengan semua takdir yang sudah terjadi. Untuk kemudian bangkit dengan strategi-strategi baru untuk meminimalisir terulangnya kesalahan yang sama.

Momentum untuk Mempersiapkan Diri Menjadi Orang Tua

Memasuki tahun baru 1444 H ini kami sedang mempersiapkan diri menyambut kelahiran anak pertama. Usia kehamilan memasuki trimester ketiga, artinya tinggal hitungan minggu lagi status kami dengan izin Allah akan berubah menjadi orang tua.
Inilah yang membuat momen pergantian tahun baru kali ini menjadi istimewa. Ada rasa tidak sabar menunggu kelahiran buah hati. Ada rasa harap yang hanya bisa disimpan dalam hati. Penantian yang seringkali membuat waktu seakan berjalan melambat.
Awal tahun ini menjadi momentum bagi kami untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua. Mempersiapkan fisik, mental dan materi tentunya. Terkadang terbersit tanya dalam hati, sudah benar-benar siapkah kami menjadi orang tua.
Namun apapun itu tidak ada pilihan lain, selain harus bersiap sekarang juga. Mempersiapkan fisik yang kuat untuk melahirkan, mengasuh hingga mencari nafkah yang halal untuk membesarkan anak. Mempersiapkan mental baja dengan perubahan-perubahan ritme hidup yang sudah pasti jauh berbeda. Mempersiapkan materi yang tentunya akan jauh lebih banyak dari pada hidup berdua.

Tahun baru 1444 H memang sudah berjalan dalam hitungan hari. Namun, masih dalam nuansa tahun baru tentunya. So, tidak ada salahnya kita memaknai momen ini dengan cara kita masing-masing. Dan, inilah cara sederhana kami dalam memaknai momentum tahun baru hijriah. Terimakasih.

0 Comments