Monday, September 7, 2020

, , ,

Memahami Misteri Rezeki

Bagaimana rezeki datang menghampiri? Tidak sepenuhnya berada dalam kuasa tangan kita. Ada campur tangan Sang Pemilik rezeki yang seringkali tak terduga. Jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa apa yang ada dalam genggaman seratus persen bisa dikendalikan. Sama sekali tidak! Terkadang apa yang sudah di tangan pun kalau dia tidak ditakdirkan untuk kita bisa lenyap dalam waktu sekejap.

Bicara tentang rezeki memang tidak pernah habisnya. Tulisan, seminar, pelatihan dan buku-buku seputar rezeki selalu laris manis di pasaran. Di agensi penulis, tawaran menulis buku dengan tema seputar rezeki selalu ada. Beberapa buku yang saya tulis pun pernah mengangkat tema ini.

Btw, seringkali kita salah dalam memahami rezeki. Rezeki seringkali kita pahami dalam bentuk uang ataupu benda. Padahal, rezeki Allah itu sungguh luas. Semua nikmat yang dikaruniakan Allah pada kita adalah rezeki, baik nikmat yang memang kita harapkan ataupun tidak.

Memahami Pembungkus Rezeki

Gambar 1. Setiap Makluk Sudah Tertakar Rezekinya

Saya senang belajar dari siapa saja, membaca apa saja, termasuk perkara rezeki ini. Membaca banyak tulisan dan mendengar petuah dari para guru saya memahami bahwa sejatinya apapun yang hadir dalam kehidupan kita adalah rezeki dari Allah. Tidak terkecuali hal-hal yang kita nilai musibah.

Rezeki itu adalah hadiah atau pemberian dari Allah Swt. Lazimnya hadiah, terkadang ada yang diberikan dengan bungkus yang indah, bungkus yang biasa saja atau bahkan tanpa bungkus. Begitu jugalah halnya dengan rezeki. Terkadang ia hadir dengan bungkus yang menyenangkan, hati kita pun bahagia menerimanya. Contohnya, kesuksesan, pasangan yang baik, pekerjaan yang mentereng, dan hal-hal yang membahagiakan lainnya. Kita bahagia dan bangga menerimanya, hal-hal tersebut pun kita sebut dengan rezeki.

Rezeki adalah bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Kasih sayang itu tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan. Terkadang dibungkus dalam bentuk musibah, ujian, kehilangan dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Ketika kehilangan, kita seingkali menganggap bahwa kita sudah kehilangan rezeki. Padahal boleh jadi itulah rezeki yang sesungguhnya yang sedang dibungkus Allah dengan musibah kehilangan. Sebab. Allah tidak mengambil sesuatu dari hamba-Nya melainkan diganti dengan sesuatu yang lebih sesuai dan baik untuk sang hamba tersebut.

Demikianlah rezeki dari Allah. Tidak selalu berbungkus keindahan dan hal-hal yang kita senangi. Allah kuasa dan berkehendak membungkus rezekinya dengan bungkus apapun yang Allah mau. Namun, satu hal yang kita harus yakin adalah bahwa apapun bentuk pembungkus rezeki dari Allah isinya tetaplah baik dan terbaik. Selalu hadir bersamanya pesan-pesan hikmah, jika kita mampu menyelaminya hati akan meleleh tunduk penuh syukur pada Allah Azza Wajalla yang maha mengatur kehidupan kita. Betapa indah dan Maha Pemurahnya Allah mengurus setiap detil kehidupan kita.

Fokuslah Pada Isi Bukan Bungkusnya

Gambar 2. Fokus Pada Isi Bukan Bungkus

Sebelumnya kita sudah paham dan sepakat bahwa Allah menghadirkan rezeki dalam hidup kita beserta bungkusnya. Ada yang dibungkus dengan kesenangan dan sesuai dengan harapan manusiawi kita. Ada juga yang hadir dengan bungkus kesulitan, ujian yang sulit bagi hati kita untuk menerima dengan senang hati. Tapi, itu adalah rezeki yang sudah ditakdirkan Allah yang harus diterima dengan penuh kesyukuran dan kesabaran.

Jika rezeki adalah bentuk kasih sayang Allah, lalu mengapa mesti ada sedih dan kecewa ketika menerimanya dalam bungkus yang tidak sesuai dengan harapan kita? Tak lain karena kita terlalu fokus pada bungkusnya, hingga abai dengan isinya.

Dari sini kita belajar akan pentingnya untuk fokus pada isi bukan pada bungkus. Percaya bahwa takdir Allah adalah yang terbaik.

Contohnya, ketika kehilangan sesuatu yang disayangi secara manusiawi hati kita pasti sedih. Tapi coba sejenak menarik nafas, tahan, lepaskan pelan-pelan. Coba alihkan perhatian kita dari kesedihan akan kehilangan dengan mencoba menemukan apa maksud Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang disayangi tersebut. Adakah mungkin itulah cara Allah untuk mengingatkan kita agar tidak berlebihan dalam menyayangi sesuatu yang bisa melalaikan kita dari mengingat Allah? Ataukah ini adalah cara Allah untuk mengosongkan satu ruang dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. So, bersabarlah dan tetap berbaik sangka pada Allah.

Prasangka Baik adalah Kuncinya

So, kuncinya adalah berbaik sangka selalu pada Allah. Percayalah Allah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan bagi makhluk-Nya. Apa-apa yang diberikan dan apa-apa yang dimbilnya kembali adalah untuk kebaikan kita. Jangan pernah berkecil hati dengan sesuatu yang belum dimiliki dan jangan jumawa dengan semua pencapaian yang telah diraih.

Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagi kita. Dan boleh jadi kita sangat mencintai sesuatu sementara hal tersebut buruk bagi kita. Bukankah Allah Maha Mengetahui sesuatu, sementara pengetahuan manusia terbatas?

So, berbaik sangkalah dengan semua ketetapan Allah Swt.

Keterangan Sumber Foto:

1. Koleksi pribadi

2. Koleksi Pribadi

Continue reading Memahami Misteri Rezeki

Friday, June 19, 2020

, ,

Hari Pertama Kembali Mengaji Di Rumah Tahfiz Al Hidayah Pasca Darurat Pandemi Covid-19

Rumah Tahfiz Al Hidayah
Gambar 1. Kelas Al Quran Putri Rumah Tahfiz Al Hidayah Jl. Napal Desa Gumanti

Rumah Tahfiz Al Hidayah – Assalamualaikum Sahabat Pembaca yang sudah berkenan mampir di laman ini. Bagaimana suasana New Normal hari ini? Sudah mulai ramai beraktivitas di luar rumah kah? Bagaimana pun aktivitas New Normal sahabat, tetap patuhi protokol kesehatan  dan jaga jarak ya!

Pandemi Covid-19 memang telah mempengaruhi banyak hal, tidak terkecuali aktivitas belajar mengajar di Rumah Tahfiz Al Hidayah. Dua bulan lebih aktivitas belajar mengajar diliburkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dampak dari pandemi ini. Hari-hari yang biasanya dikelilingi riuhnya lantunan Al quran dari lisan-lisan kecil anak-anak mendadak hening. Bersyukur sore dan malam anak-anak yang mengaji di rumah masih tetap berdatangan.

Dua bulan lebih tak kumpul dengan anak-anak pastinya rindu. Karenanya, ketika Ustaz Rahmad Hidayatullah, pimpinan Rumah Tahfiz meminta pendapat tentang kemungkinan kegiatan belajar mengajar di Rumah Tahfiz Al Hidayah kembali dibuka, Saya langsung mengiyakan. Seketika wajah-wajah polos dan ceria anak-anak memenuhi slide momori di kepala.

Pelukan Pertama Pasca Pandemi dan Bagaimana Saya Berada di Sini

Rumah Tahfiz Al Hidayah
Gambar 2. Musholla Mini Al Hidayah

Senin (08/06/2020) pukul 14.00 WIB kurang lima belas menit saat Saya sampai di depan Warung Sarapan ‘Nyak Ni’, tempat di mana proses belajar mengajar santri putri Rumah Tahfiz Al Hidayah berlangsung. Untuk sementara kegiatan belajar mengajar santri putri memang masih di mushola kecil di belakang warung ini. Hanya santri putra yang sudah menempati saung belajar di Kompleks Rumah Tahfiz Al Hidayah yang baru dalam proses pembangunan.

Sampai di sana ternyata anak-anak sudah menunggu. Ada sekitar 10 orang anak-anak usia Sekolah Dasar. Beberapa tampak khusyuk mengulang hafalan, sementara yang lain asyik ngobrol dan bercanda dengan kawannya. Melihat kedatangan Saya kompak mereka bangun dan berlari menyambut. Tanpa dikomando mereka membentuk antrian untuk salim.

“Assalamualaikum ustazah,” sapa riang anak-anak ditimpali celoteh khas mereka. Satu demi satu anak-anak salim, cium tangan dan memeluk Saya eraaat sekali. Ini adalah pelukan pertama mereka pasca pandemi. Masha Allah, bahagia sekali kembali bisa memeluk tubuh-tubuh mungil ini. Dua bulan lebih tidak merasakan ritual ini, karena sejak libur memang tidak pernah bertemu dengan mereka. Lebih dari itu, kebahagiaan terbesar adalah ketika bisa kembali berkumpul dan membersamai mereka dalam ikhtiar mencintai Al Quran.

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang pantas kami dustakan. Ketika Engkau menggariskan jalan takdirku berada di tengah-tengah mereka. Berada dalam barisan generai terbaik, generasi Al Quran.

Sebelumnya, tak pernah berani bermimpi bisa menghafal Al quran apalagi mendampingi para penghafal Al quran seperti ini. Terlebih Saya bukanlah lulusan pesantren penghafal Al Quran, bukan juga lulusan sekolah agama. Saya hanya perempuan sederhana yang selalu bersemangat untuk belajar agama dan terlebih ilmu Al quran dari mana saja. Bahkan termasuk dari mereka yang sedang belajar sekalipun.

Saya selalu ingat nasehat guru ngaji puluhan tahun lalu saat baru belajar mengaji di Mesjid Al Mukmin Desa Semelinang Darat. Sang guru selalu mengajarkan kami hadist Rasul yang berpesan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dari buaian hingga ke liang lahat. Jadi, tidak ada kata lulus dalam menuntut ilmu. Ilmu Allah ini maha luas dan tidak akan pernah selesai untuk diarungi. Nasehat itulah yang terus memelihara semangat dan motivasi Saya untuk belajar dari waktu ke waktu.

Semangat itu juga yang kemudian mengantarkan Saya berada di tengah-tengah generasi pecinta Al quran ini. Saya tidak tau seperti apa orang lain menilai kemampuan Saya dalam mengaji Al quran. Namun yang jelas, ketika sudah diminta berkali-kali –sebelumnya sempat Saya tolak-- untuk mengajari anak-anak mengaji di Rumah Tahfiz Al Hidayah, Saya merasa malu untuk menolak lagi. Klo cuma sekali mungkin Saya masih bisa berkilah belum mampu, ataupun belum saatnya. Tapi kalau sudah berkali-kali Saya merasa malu sama Allah yang Maha Baik. Mungkin ini adalah cara Allah untuk memberi kesempatan pada Saya mengalirkan ilmu dan semangat yang dititipkan agar tidak berhenti hanya pada diri.

Gotong Royong dan Bermain

Rumah Tahfiz Al Hidayah
Gambar 3. Santri Putri Rumah Tahfiz Al Hidayah Gotong Royong Membersihkan Musholla Tempat Mengaji

“Ustazah Mushollanya kotor,” lapor anak-anak.

Dua bulan lebih libur ngaji, musholla kecil tempat mengaji itu memang tidak pernah digunakan. Sebenarnya bangunan itu bukan musholla kampung yang biasa digunakan untuk tempat sholat lima waktu. Bangunan tersebut sebentuk pondok kecil yang memang dibangun khusus untuk tempat belajar mengaji anak-anak. Ketika aktivitas mengaji libur otomatis tidak ada yang menempati dan mengurusi kebersihannya.

Saran dari Bunda Akri, --Bundanya Al Hidayah :)-- kegiatan Rumah Tahfiz Al Hidayah hari pertama ini sebaiknya gotong royong dan bermain bersama saja. “Lepas kangen dulu dengan anak-anak,” saran Beliau.

Jadilah gotong royong dan bermain bersama menjadi kegiatan anak-anak putri Rumah Tahfiz Al Hidayah di hari pertama ngaji. Anak-anak dengan penuh semangat menyapu, mengepel lantai dan membersihkan behel serta meja Al quran. Ternyata cukup banyak juga sampah-sampah plastik makanan yang berserakan di sekitar mushola. Satu PR lagi yang harus ditanamkan pada anak-anak agar ‘tidak buang sampah sembarangan’.

Belajar Al quran wajib, menghafal Al quran perlu, mengaji itu sangat penting, tapi yang jauh lebih wajib, perlu dan penting adalah membentuk akhlak anak-anak termasuk akhlak pada lingkungan. Inilah yang kami coba terapkan di Rumah Tahfizh Al Hidayah. Tidak mudah memang, terlebih jika anak-anak sudah terbiasa buang sampah sembarangan di rumah dan lingkungannya. Tapi dengan terus diingatkan, beri contoh dan doa yang tak putus, semoga kebiasaan baik yang kita tanamkan tubuh menjadi karakter dalam diri anak-anak.

“Dooorrr!” letusan keras dari arah tempat pembakaran. Seketika semua kaget, semua panik!

 “Ada petasan mungkin yang ikut terbakar tu,” seru Bunda Akri dengan santai dari dapur.

Ooo akhirnya semua bernafas lega melanjutkan acara bersih-bersih. Tidak butuh waktu lama mushola mungil itu sudah bersih dan siap digunakan.

“Haus Ustazah,”

“Panas Ustazah, ke depan aja yuk!”

Anak-anak mulai mengeluh kehausan dan kepanasan. Beberapa tampak mulai tak nyaman dan ingin melepas jilbab. Kalau tidak takut dihukum mungkin sudah pada lepas jilbab hehe.... Beberapa juga mulai guling-guling di lantai.

Setelah sekeliling musholla dipastikan bersih kami pun pindah ke depan, lebih tepatnya ke ruangan tamu rumah bunda akri. Di sana anak-anak berebut duduk depan kipas sementara Saya dan Ustazah Tasya ke dapur bunda minta dibuatkan minuman untuk anak-anak.

Waktu masih menunjukkan pukul 15.00 WIB kurang saat anak-anak selesai menikmati minumannya. Masih ada waktu lebih kurang setengah jam menjelang ashar. Mengisi waktu menjelang ashar ini, Ustazah Tasya memandu anak-anak bermain estapet gelang karet. Sayangnya lupa dokumentasi kemaren, padahal seru!

Capek bermain, anak-anak kembali duduk melingkar. Kali ini kegiatan diisi dengan saling berbagi cerita selama libur kemaren. Tidak lupa Saya cek hafalan mereka dengan teknik sambung ayat, mengingat banyak yang cerita selama di rumah tidak lagi mengulang-ulang hafalannya. Dan kegiatan ngaji hari pertama ini pun ditutup dengan doa dan sholat ashar berjamaah.

Keterangan Sumber Gambar:

1. Koleksi Pribadi

2. Koleksi Pribadi

3. Koleksi Pribadi

Continue reading Hari Pertama Kembali Mengaji Di Rumah Tahfiz Al Hidayah Pasca Darurat Pandemi Covid-19

Sunday, June 7, 2020

, , , , , ,

Sudah Siapkah Untuk Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal?

New Normal – Tiga bulan sudah kita dituntut untuk melakukan aktivitas di rumah saja. Sedapat mungkin hindari keluar rumah kecuali untuk sesuatu yang benar-benar urgent. Bekerja, belajar dan beribadah semua dilakukan dari rumah. Sehingga muncul berbagai istilah baru seperti work from home, learning from home, buy from home, shopping from home dan lain sebagainya. Pokoknya tiga bulan ini kita benar-benar dilatih untuk mencintai aktivitas di rumah. Kembali mencintai setiap sudut rumah yang selama ini mungkin tidak sempat dilirik karena kesibukan mencari nafkah.

New Normal
Gambar 1. Dunia Menuju New Normal

Berbulan-bulan terkurung di rumah ternyata banyak yang mulai merasa jenuh. Terlebih bagi mereka yang mata pencahariannya tidak bisa dibawa ke rumah. Sementara roda perekonomian keluarga harus tetap jalan, sebab dapur harus tetap ngebu, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak butuh support finansial yang tidak sedikit.

Pemerintah pun ingin segera melonggarkan pembatasan sosial, sebab tidak ingin memperparah dampak sosial yang mungkin terjadi akibat pandemi ini.Tapi sudah siapkah kita? Pelonggaran pembatasan sosial --di saat pandemi belum lagi mereda-- akan menimbulkan dampak yang tidak ringan. Bayangan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 adalah mimpi buruk bagi para tenaga kesehatan khususnya dan bangsa ini umumnya.

Baca Juga: Pelajaran dari Covid-19

Memang tidak ada pilihan yang tanpa resiko di masa pandemi ini. Setiap pilihan yang akan diambil pemerintah tetap akan ada resikonya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pemerintah memutuskan untuk menerapkan tatanan kehidupan New Normal mulai bulan Juni ini. Kebijakan yang menurut Presiden Jokowi sebagai cara kita untuk tetap survive dan hidup berdampingan dengan Covid-19.

Seperti Apa Kehidupan New Normal?

Infografis New Normal
Gambar 2. Infografis Daerah yang Segera Menerapkan New Normal

Sejak awal kebijakan New Normal menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Banyak yang menyayangkan kebijakan ini di saat kurva kasus positif Covid-19 masih cenderung naik, belum menunjukkan tanda-tanda bakal melandai. Namun pemerintah tetap kukuh untuk mulai memasuki tatanan kehidupan normal baru ini. Dilansir dari laman Kompas.com (29/05/2020) ada 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota yang akan mulai menerapkan New Normal di bulan Juni ini. Enam kabupaten/kota di Provinsi Riau yang sebelumnya menerapkan PSBB juga akan ikut menerapkan tatanan kehidupan normal baru ini. Enam kabupaten/kota tersebut adalah Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis.

Jadi, apa sebenarnya New Normal? Kehidupan seperti apa yang ditawarkan dalam kebijakan new normal ini? Benarkah masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas normal seperti sebelum pandemi?

Menurut Wiku Adisasmita, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sebagaimana dikutib dari Kompas.com (20/05/2020), New Normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.

Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Jokowi sebagaimana dilansir dari katadata.co.id (28/05/2020), “Kami ingin sekali lagi bisa masuk ke normal baru, tatanan baru. Dan Kami ingin muncul sebuah kesadaran yang kuat, kedisiplinan yang kuat.”

Membaca pernyataan-pernyataan pemerintah tentang New Normal Saya pribadi memahami bahwa di era New Normal, kesadaran dan peran serta kita sebagai individu untuk menerapkan protokol kesehatan dan social distancing sangat ditekankan. Kita harus punya kesadaran tinggi melindungi diri, keluarga, sahabat dan orang lain dari penularan Covid-19. Di era New Normal kita diberi keleluasan untuk beraktivitas di luar, tapi dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru yang sebelumnya dianggap ‘tidak normal’ secara lebih disiplin lagi. Sekarang semua kebiasaan baru itulah yang dianggap normal dan diyakini bisa membuat kita survive dari pandemi Covid-19. Apa saja kebiasaan-kebiasaan baru tersebut? Yakni kebiasaan selalu menggunakan masker saat keluar rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, dan menjaga jarak dengan sesama.

Sejenak kita mengingat kembali apa yang dijalani selama hari-hari belakangan ini sebenarnya tidak jauh-jauh dari tatanan kehidupan New Normal yang dimaksud. Mungkin sedikit berbeda untuk daerah-daerah yang sebelumnya menerapkan PSBB secara ketat, di mana rumah-rumah ibadah, toko-toko dan pusat-pusat perekonomian banyak yang ditutup tidak dibenarkan beroperasi. Pada fase New Normal secara bertahap semua akan kembali diizinkan beroperasi secara bertahap dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan dan social distancing.

Baca Juga: Suasana Lebaran di Tengah Pandemi

Nah, sampai di sini bisa dipahami kan seperti apa New Normal itu? Sederhananya sekarang kita harus mulai beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya agar bisa survive di tengah pandemi. Jika sebelumnya kemana-mana tanpa masker, sekarang mewajibkan diri untuk memakai masker. Jika sebelumnya cuci tangan hanya sebelum dan sesudah makan, sekarang harus membiasakan diri sering-sering cuci tangan pakai sabun dalam berbagai kesempatan. Kita juga mulai membiasakan diri menghindari kerumunan dan disiplin menjaga jarak (physical distancing).

Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal


Banyak yang khawatir penerapan New Normal akan memicu gelombang kedua peningkatan kasus positif Covid-19 yang lebih parah dari sebelumnya. Hal itu wajar, mengingat kasus penularan masih terus terjadi. Angka kasus positif Covid-19 secara nasional masih terus menunjukkan tren kenaikan.

Saya pribadi selalu percaya pemerintah membuat kebijakan pastinya tidak asal-asalan. Ada kajian dari Tim Pakar yang berkompeten di bidangnya sebelum sebuah kebijakan diluncurkan. Termasuk dalam penerapan New Normal ini, ada kajian sebelumnya, ada regulasi saat penerapan dan ada evaluasi setelahnya. Jadi, kemungkinan efek terburuk dari penerapan New Normal ini memang ada. Di sinilah peran pemerintah, aparat dan kita sebagai elemen masyarakat untuk meminimalisir efek terburuk tersebut. Sebab kebijakan seperti apapun yang diambil dalam kondisi seperti saat ini tetap saja ada resiko terburuknya.

Satu hal yang harus kita ketahui adalah bahwa pemerintah pun tidak menerapkan New Normal secara asal-asalan. Ada serangkaian rules yang sudah disiapkan. Ketika New Normal diberlakukan, bukan berarti semua daerah secara otomatis menerapkan New Normal. Hanya daerah-daerah yang berada dalam zona biru saja yang dibolehkan untuk menerapkan New Normal. Sementara daerah-daerah yang berada di zona kuning dan merah masih harus bersabar dalam pembatasan sosial yang ketat. Penerapan New Normal juga dilakukan secara bertahap dan evaluasi secara berkala.

Nah, pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan yang diharapkan bisa meminimalisir dampak pandemi ini. Adalah peran kita sebagai individu untuk mendukung penuh agar kebijakan ini berdampak positif nantinya. Caranya yaitu dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan dan social distancing.

Baca Juga: Tips Cerdas Agar Tetap Produktif Selama #DiRumahSaja

“Orang yang survive, atau makhluk hidup yang selamat itu adalah makhluk hidup yang bisa beradaptasi,” demikian pesan dr. Indra Yopi Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Riau. So, untuk bisa survive kita harus beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini. Kita harus bisa hidup survive di tengah kepungan Covid-19 yang tidak tampak oleh mata.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa tetap beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru ini?

Sejatinya sejak awal pandemi kita sudah mulai dilatih untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru ini. Sejak awal kita sudah dihimbau untuk senantiasa mematuhi berbagai protokol kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan menghindari kerumunan. Hanya saja, masih banyak diantara kita yang belum menjalankannya dengan disiplin.

Nah di sini Saya akan berbagi tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan ala New Normal:

Pertama, selalu berpikiran positif dan hentikan kecemasan berlebihan. Simpang siur berita seputar Covid-19 belakangan ini, terkadang menimbulkan kecemasan berlebihan. Tidak hanya cemas dengan kesehatan diri, kita juga dilanda kecemasan akan keberlangsungan ekonomi. Menyambut New Normal ada baiknya kita mulai memilah berita dan informasi yang dikonsumsi. Seperti sarannya Pak Dahlan Iskan dalam tulisannya, “sudah tidak ada lagi yang perlu Anda ketahui tentang Covid-19.”

Ya, hampir semua informasi seputar Covid-19, sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Jadi, rem sedikit semangat kita dalam berburu berita seputar Covid-19 agar tidak terjebak dalam pusaran kecemasan berlebihan. Sekarang saatnya untuk lebih selektif dalam memilih berita. Pilih berita-berita positif saja, hindari berita negatif dan HOAX.

Kedua, selalu ingat dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. New Normal bukan berarti kehidupan kita sudah benar-benar terbebas dari Covid-19. Virus ini masih ada dan masih menular dari satu orang ke orang lainnya. Disiplin menjalankan protokol kesehatan adalah salah satu ikhtiar yang mungkin kita lakukan agar terhindar dari penularan virus ini.

New Normal
Gambar 3. Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

Ketiga, selalu jaga imunitas tubuh. Covid-19 mengajarkan pada kita akan pentingnya imunitas tubuh. Banyak informasi kita terima dari berbagai sumber bahwa satu-satunya senjata tubuh untuk melawan infeksi virus Covid-19 adalah imunitas tubuh. Bagaimana cara menjaga imunitas tubuh? Tentunya sudah banyak informasi tentang ini kita dapatkan dari berbagai sumber. Yang pasti selalu jaga pola hidup sehat seperti makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan minum air putih yang cukup.

Keempat, selalu terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat di rumah. Tidak ada yang bisa menjamin anggota keluarga kita bebas dari infeksi Covid-19. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat menjadi keharusan

Kelima, disiplin menjalankan ibadah dan selalu berdoa. Sebagai makhluk beriman sudah seharusnya kita senantiasa untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Menyerahkan seluruh urasan dan harapan kita hanya pada Allah Swt. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi melainkan atas pengetahuan dan ketetapan dari-Nya.

Adaptasi kebiasaan baru di era New Normal ini adalah keniscayaan. Inilah cara terbaik kita untuk bertahan di tengah cekaman pandemi yang belum tau kapan berujung. Yuk terus beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru! Tingkatkan terus kesadaran diri untuk mematuhi protokol kesehatan dan social distancing!

Referensi Gambar:
1. www.pixabay.com
2. www.kompas.com
3. www.pixabay.com
Continue reading Sudah Siapkah Untuk Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal?