Saturday, July 10, 2021

, ,

Raja dari Segala Raja

Tadabbur QS. Al Mulk Ayat 1
Made By Canva

Ketika mendengar kata ‘Raja’ apa yang terlintas di pikiran teman-teman? Pastinya kita akan membayangkan sosok yang memiliki kekuasaan, pengaruh yang luas dan kemampuan yang besar. Sosok yang memiliki kuasa atas segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memiliki kuasa untuk mengatur, memimpin, mengayomi dan melindungi apa-apa yang berada di bawah kerajaannya.

Seperti Nabi Sulaiman yang memiliki wilayah kekuasaan yang besar pada masanya. Ia memiliki kekuasaan dan pengaruh tidak hanya pada manusia, tapi juga pada hewan bahkan makhluk jin. Semua tunduk dan patuh pada kekuasaannya. Dengan kekuasaannya ia bisa memerintah tentara jin untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis.

Ada Fir’aun yang memiliki kekuasaan besar di tepian sungai Nil pada masanya. Dengan tangan kekuasaannya dia mampu menggerakkan bala tentara agar membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir pada masa itu. Sebab ia khawatir bayi itu tumbuh menjadi pemuda-pemuda tangguh yang akan meruntuhkan dan merebut kekuasaannya. Meski pada akhirnya, ia tidak kuasa menghilangkan nyawa seorang bayi laki-laki yang tumbuh dan berkembang di dalam rumahnya sendiri. Bayi laki-laki yang pada akhirnya benar-benar menjadi pemisah antara ia dan kekuasaan yang selama ini disombongkannya. Bayi laki-laki itu adalah Musa as.

Kisah fenomenal lain yaitu tentang raja Namrud, penguasa Babilonia yang dikenal dengan kesombongannya. Memiliki wilayah kekuasaan yang luas membentang dari belahan bumi timur dan barat. Ia berkuasa dengan sangat bengis dan kejam pada masanya. Sama seperti Fir’aun, dengan tangan kekuasaannya ia tidak segan membunuh bayi laki-laki yang baru lahir karena khawatir akan menyerangnya. Akibat kesombongannya itu ia kemudian diazab Allah melalui seekor nyamuk yang bersemayam di kepalanya selama 400 tahun.

Namun tak sedikit juga raja-raja yang berkuasa dengan adil dan bijaksana. Seperti Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia). Dia dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana dalam berkuasa. Dalam sejarah islam Raja Najasyi dikenal sebagai raja yang pemurah, yang dengan tangan terbuka menerima kaum muslimin yang hijrah ke negerinya pada masa itu. Masa awal-awal kenabian di mana kaum muslimin menerima intimidasi, profaganda dan pemboikotan oleh kaum kafir Quraisy. Berkat kemurahan hati Raja Najasyi, kaum muslimin kemudian mendapat perlindungan dan penghidupan yang layak di negeri tersebut (pojokopini.com, tt).

Demikianlah sebagian kecil gambaran raja-raja dunia dengan karakter kepemimpinannya masing-masing. Namun inti dari tulisan ini tidaklah tentang raja-raja dunia. Melainkan tentang raja dari segala raja, raja yang menguasai para raja.

Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala  sesuatu.” (QS. Al Mulk ayat 1)

Kerajaan Sang Maha Raja

Sebesar apapun kerajaan di dunia ini tetap tidak akan mampu mengalahkan kekuasaan Sang Maha Raja. Kekuasaannya meliputi seluruh mayapada, alam raya, langit dan bumi. Dialah Allah yang memiliki segala kerajaan di langit dan bumi.

Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Allah juga yang maha mengatur, mengawasi dan memenuhi kebutuhan segala makhluknya. Allah yang Maha memberi rezeki seluruh mahluk yang ada di laut maupun di darat.

Allah lah yang menguasai seluruh kerajaan di muka bumi. Jika Allah berkehendak mencabut kekuasaan dari seseorang itu mudah saja terjadi. Allah bisa memberikan kekuasaan kepada siapa yang ia kehendaki dan Allah kuasa mencabut kekuasaan dari siapapun yang ia kehendaki.

Segala sesuatu  berada dalam genggaman kekuasaan Allah, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Allah kuasa mengetahui apa yang kita lahirkan, dan Allah juga kuasa mengetahui apa yang tersembunyi di sudut hati yang paling dalam. Sungguh tidak ada yang luput dari kuasa Allah.

Di sini kita semakin sadar bahwa betapa manusia itu makhluk yang sangat kecil, lemah. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin dan pertolongan Allah. Laa haulawala quwwata illa billah.

Raja dengan Kebaikan yang Luas

Kekuasaan Allah pada setiap makhluk ciptaan-Nya adalah kekuasaan yang mutlak namun penuh dengan kasih sayang. Allah Maha Pengasih lagi maha penyayang terhadap makhluknya. Setiap waktu kebaikan-kebaikan Allah tercurah pada makhluk-Nya dalam takdir-takdir yang dijalaninya dari hari ke hari.

Sekalipun ada diantara takdir itu yang terkadang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun percayalah semua adalah cara Allah untuk mengembalikan kita pada kebaikannya yang banyak lagi tidak pernah putus. Sejatinya Allah hanya menginginkan yang terbaik untuk kita, sekalipun terkadang harus melewati hal-hal yang tidak menyenangnya.

Dialah Allah yang Maha Memiliki Kebaikan yang Maha luas. Kebaikan Robb kepada hambanya yang terus mengalir tiada habisnya setiap waktu dan kesempatan. Kebaikan itu menyelimuti segala sesuatu.

Teruslah meminta kebaikan kepada Allah Swt dalam setiap kesempatan. Sebab kebaikan Allah itu maha luas meliputi seluruh alam semesta yang tidak akan pernah habis. Allah juga maha pemberi kebaikan, dan senang dengan hamba yang meminta (berdoa)kebaikan kepada-Nya.

Allah memiliki keberkahan yang banyak. Dan hanya Allah yang menentukan kepada siapa keberkahan itu akan diberikan. Keberkahan tidak selalu hadir pada sesuatu yang banyak. Tidak jarang Allah hadirkan keberkahan justru pada sesuatu yang sedikit. Keberkahan juga tidak mesti hadir dalam kondisi yang menyenangkan, tidak jarang keberkahan hadir dalam kondisi kurang menyenangkan. Terkadang keberkahan juga hadir pada takdir yang bertentangan dengan yang kita harapkan.

Allah Maha Kuasa dan Allah Maha Berkehendak kepada siapa dan dalam kondisi bagaimana keberkahan itu hadir. Sebab itu, teruslah berikhtiar dan berdoa untuk mendapatkan keberkahan dari Allah Swt dalam hidup kita. Berdoa juga agar Allah beri kita kekuatan dan kesabaran dalam menerima takdir-Nya, serta mampu mengintip pelajaran (hikmah) dari setiap takdir tersebut.

Segala Puji Hanya Milik Allah

Kita punya jabatan, ketahuilah kita tidak bisa apa-apa dengan jabatan itu kecuali atas izin Allah. Kita punya wilayah kekuasaan, ketahuilah jika Allah berkehendak wilayah kekuasaan tersebut tidak akan memberikan manfaat apapun bagi kita. Kita punya pengikut, tapi itu semua tidak menjamin membuat kita menjadi sosok yang terus dituruti semua perintah dan omongannya.

Apa yang kita miliki sejatinya adalah milik Allah yang kapan pun bisa diambil kembali jika Dia berkehendak. Lalu siapa kita (manusia) hendak menyombongkan diri? Ingin dipuji dengan semua pencapaian yang kita raih di dunia ini?

Ketahuilah makhluk tidak berhak memakai pakaian kesombongan, hanya Allah yang berhak. Kita tidak berhak menikmati semua pujian. Karena segala puji hanyalah milik Allah.

Dalam Quran Surat Al Mulk ayat pertama Allah mengabarkan pada kita bahwa tidak ada yang paling tinggi dan paling berkuasa di dunia ini melainkan Allah Swt. Makhluk kemampuannya terbatas, kekuasaannya terbagi, hanya Allah yang mampu menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya. Karenanya Allah mengajak kita untuk memuji-Nya dalam setiap waktu dan kesempatan.

#TadabburAlMulkAyat1


Continue reading Raja dari Segala Raja

Wednesday, June 23, 2021

, , ,

Nasehat Kematian


Infografis

Kabar kematian datang silih berganti tanpa mengenal hari. Seperti subuh ini kami kembali disentakkan oleh berita kematian. Malaikat izroil bekerja tanpa lelah, menjemput satu demi satu hamba Allah yang sudah menuntaskan rezekinya di bumi.

Akhir-akhir ini ada rasa yang berbeda setiap kali mendengar berita kematian. Ada setitik pilu yang tak bisa digambarkan dalam bait apapun. Mengingat sudah demikian banyak waktu dan rezeki hidup dinikmati. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk menuntaskannya.

Kabar kematian seakan mengingatkan diri bahwa pada suatu titik nanti saya akan berapa pada posisi yang sama dengan keluarga si mayit. Berduka sebab ditinggal orang yang dicintai. Pada suatu titik yang lain bahkan saya juga akan berada pada posisi yang sama dengan si mayit. Ditangisi, dimandikan, dikafani dan dikuburkan dalam liang lahan yang sempit.

Allah, getir sekali membayangkan semua itu. Adakah diri ini siap menghadapi hari di mana semua kenikmatan dunia diputus? Sementara hari pertanggungjawaban amal menanti?

Nasehat Kematian
Nasehat Kematian
"Cukuplah kematian sebagai nasehat," (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Rasulullah Saw mengajarkan agar kita senantiasa mengingat kematian sebagai nasehat bagi diri. Banyak hal yang bisa kita tadabburi dari sebuah kematian. Sebagai pengingat diri agar tidak melampaui batas dalam kehidupan ini. Sebagai makhluk kita tidaklah berdaya apa-apa ketika Allah ingin cabut semua yang kita miliki. Karena sejatinya tak ada yang benar-benar kita miliki, semua hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Bahkan, nyawa kita pun tiada kuasa kita pertahankan jika yang Maha Memiliki berkehendak mengambilnya kembali.

Meski ada sendu setiap kali mendengar kabar kematian, namun selalu banyak nasehat yang ditemui di sana. Sudah saatnya kita menyambut kabar kematian dengan kesadaran dan kemauan untuk terus menemukan nasehat yang hadir bersama duka yang menyertainya.

Kematian adalah Sebuah Kepastian yang Misterius

Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al Jumuah ayat 8)

 Begitulah kematian, cepat atau lambat dia pasti datang menghampiri setiap yang bernyawa. Tak satupun yang bakal luput darinya. Bahkan sekalipun kita lari menjauh dan bersembunyi di tempat yang jauh, kematian itu tetap akan menghampiri. 

Meski sudah pasti, kematian tetaplah misteri bagi setiap insan. Kapan dan di mana dia akan datang menjemput, tidak ada satu makhluk pun yang bisa tau. Meski ilmu dan teknologi semakin maju, namun tak satupun bisa menjawab misteri kematian ini. Ilmu dan teknologi cuma mampu sebatas memprediksi, tanpa bisa menjawab dengan pasti jadwal kematian kita.

Kematian adalah kepastian yang misterius. Ini mengingatkan kita agar selalu waspada dan terus mempersiapkan diri menyongsong hari yang dijanjikan itu. Mempersiapkan bekal terbaik dan terus memagari diri dengan amal-amal kebaikan. Agar ketika kematian itu datang kita bisa menyudahi kehidupan dengan senyuman.

Kematian adalah Takdir yang Mustahil Diwakilkan

Setinggi apapun kekuasaan yang dimiliki, sebanyak apapun kekayaan yang dikantongi kematian tetap harus dijalani sendiri. Kematian adalah takdir yang harus dijalani oleh setiap makhluk tanpa terkecuali. So, tak ada pilihan lain selain harus mempersiapkan diri menyambut kematian yang indah.

Kematian mustahil diwakilkan. Ia adalah takdir yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap makhluk bernyawa. 

Kematian Bukan untuk Ditakuti

Tidak jarang kita merasa serem mendengar kata mati. Kematian menjadi peristiwa yang ditakuti dan selalu ingin dihindari. Bayang-bayang kegelapan dan kesendirian mengikuti di belakangnya.

Padahal kematian adalah peristiwa alamiah, sunnatullah yang selalu kita temui. Ia bukan untuk ditakuti, tapi justru diingat dan ditadaburi agar kita mawas diri. Mengingatkan diri bahwa suatu saat nanti kita juga akan menjalankan takdir ini.

Kematian Tidak Butuh Bekal Materi

Apa yang kita kumpulkan siang malam di dunia, pada akhirnya akan ditinggalkan juga. Tidak satu pun bekal materi yang akan kita bawa. Kalau pun ada itu hanya kain kafan yang pada akhirnya juga akan lapuk di liang lahat.

Kematian mengajarkan kita agar tidak terlalu menghamba pada materi. Jadikan materi sebagai bekal amal yang kelak menjadi bekal menuju Allah. Yakni dengan cara memanfaatkan setiap nikmat materi yang kita punya untuk ibadah di jalan Allah.

Begitu banyak nasehat yang hadir bersama kematian. Sebagaimana Rasul mengajarkan, "cukuplah kematian itu sebagai nasehat."

So, ketika menghadiri takziyah kematian jangan hanya sekedar setor muka atau basa basi. Yuk jadikan momen itu sebagai kesempatan untuk tadabbur, mengingatkan dan menasehati diri sendiri. Mengingatkan diri bahwa usia tak abadi, ada batas akhir yang menanti.

Continue reading Nasehat Kematian

Monday, May 24, 2021

, , , , ,

Menerapkan Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan Sebagai Ikhtiar Sayangi Bumi

Berapa banyak sampah makanan yang kita hasilkan setiap harinya? Di rumah kami kadang kala satu mangkok sampah makanan seperti di foto ini sudah teronggok di sudut dapur. Dan hal yang tidak jauh berbeda pastinya juga ditemukan di dapur rumah tangga lainnya. Kira-kira ke mana sampah makanan dari rumah-rumah kita akan berakhir?

Sampah Makanan (Food Waste)
Sejalan dengan semangat Bandung Food Smart City  dalam mewujudkan kota cerdas pangan dan bebas food waste, maka dalam postingan ini saya akan berbagi pengalaman sekaligus ikhtiar kami dalam mengurangi produksi sampah makanan di rumah setiap harinya. 

Sadar atau tidak setiap kita adalah produsen sampah. Sebab itu, setiap kita seharusnya bertangung jawab penuh dengan sampah yang kita hasilkan. Bagaimana agar setiap sampah yang kita hasilkan tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Ada Apa dengan Sampah Makanan?

Sebelumnya yuk kita sepakati apa yang dimaksud dengan sampah makanan. Menurut Food Agriculture Organization (2011) sampah makanan (food waste) merupakan makanan yang seharusnya bisa dikonsumsi oleh manusia namun karena alasan tertentu tidak terkonsumsi dan dibuang.

Sampah makanan, memang mudah terurai, namun jika menumpuk tetap saja bisa mencemari lingkungan. Sebagaimana dilansir dari laman kompas.tv (22/02/2021) tumpukan food waste berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu dampak global yang ditimbulkannya adalah terjadinya peningkatan pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca yang timbul dari proses pembusukan  sampah makanan.

Baca Juga: Bertahan dalam Kepungan Kabut Asap

Jadi, sampah makanan yang membusuk di tumpukan sampah akan menghasilkan gas metana yang mengeluarkan aroma busuk. Tidak hanya mengeluarkan aroma busuk, gas metana ini juga merupakan gas rumah kaca yang 21 kali lipat berpotensi meningkatkan pemanasan global. Nah, tak kalah bahayanya dibanding sampah anorganik bukan?

Sejenak kita intip angka-angka untuk membuka mata kita tentang betapa pentingnya untuk aware dengan sampah makanan ini.  Pertama, laman situs kompas.com melansir bahwa PBB memperkirakan 17 persen dari produksi makanan terbuang sia-sia atau dengan kata lain menjadi sampah. Hal ini berarti, ada sekitar 1,03 milyar ton makanan setiap tahun menjadi sampah. Dan masih menurut data PBB, 61 persen dari sampah makanan itu berasal dari rumah tangga.

Baca Juga: Ular Masuk Rumah Pertanda Apa Ya?

Kedua, menurut catatan dari Economic Intellegence Unit (EIU) tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai Negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia dengan total produksi sampah makanan sebanyak 300 kg/tahun per kapita (www.kontan.co.id).

Ketiga, Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa sampah makanan mendominasi komposisi semua jenis sampah yang dihasilkan  khususnya di beberapa regional seperti pulau Jawa  yaitu sebanyak 46,75 persen. (www.cimsa.ui.ac.id).

Angka-angka di atas bukan angka yang kecil kan? So, sudah saatnya kita peduli dengan dampak lingkungan akibat penimbunan sampah makanan. Tidak perlu berpikir jauh. cukup kita mulai dari hal terkecil dan terdekat yang kita bisa. Yakni lingkungan kita, rumah kita, atau bahkan diri kita sendiri saja dulu. Sebab, gunungan sampah pun awalnya bermula dari serpihan kecil yang dihasilkan oleh orang per orang.

Memulai Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan

Kontribusi yang mungkin kita lakukan saat ini untuk ikut mengurangi timbunan sampah makanan di lingkungan adalah dengan mulai menerapkan gaya hidup bebas sampah makanan dari rumah kita. Inilah cara terbaik yang harus dilakukan saat ini.

Infografis
Infografis Gaya Hidup Bebas Sampah

Menerapkan gaya hidup bebas sampah makanan memang sudah menjadi impian dan tekad saya dan suami dari awal menetap di rumah kontrakan ini. “Jangan pernah ada yang terbuang sia-sia,” itu selalu yang saling kami ingatkan satu sama lain.

Bagaimana gaya hidup bebas sampah makanan yang kami terapkan? Sederhana saja, tidak ada yang rumit. Kami hanya menerapkan hal-hal yang biasa dan mungkin dilakukan. Berikut adalah gaya hidup bebas sampah makanan yang kami lakukan sehari-hari.

Pertama: belanja makanan dan bahan makanan seperlunya

Kami membiasakan diri untuk belanja seperlunya, terlebih untuk urusan dapur. Membuat catatan kecil sebelum ke pasar menjadi rutinitas wajib.

“Bikin catatan belanja dulu,” pesan suami setiap kali mau ke pasar. Dia paham betul saya sering lapar mata kalau sudah ke pasar.

Catatan belanja kami buat sedetil mungkin. Tidak hanya memuat jenis belanjaan, tapi juga volume yang harus dibeli. Volume setiap jenis belanjaan dibuat sesuai dengan kebutuhan saja, tidak perlu berlebihan. Agar tidak ada bahan makanan yang terbuang menjadi sampah.

Kedua: habiskan makanan hingga butir terakhir

Dibesarkan di keluarga sederhana membuat kami terbiasa menghabiskan makanan tanpa sisa. “Elok batamboh dari pado takenyah,” begitu pesan orang tua selalu. Maksudnya, lebih baik mengambil makanan sedikit, jika belum kenyang tambah lagi. Dari pada ambil makanan banyak-banyak dalam piring kemudian bersisa.

Kebiasaan itu juga yang kami terapkan di rumah. Mengambil dan mengolah makanan secukupnya, untuk kemudian dikonsumsi sampai butir terakhir. Bahkan sampai ke kuah dan bumbu-bumbunya. Percayalah, nikmat sekali makan olahan sendiri dalam porsi secukupnya. Semakin puas dan bahagia menyaksikan olahan tangan kita habis tak bersisa setiap kali masak. Perut kenyang tanpa mubazir dan berlebihan.

Demikian juga ketika membeli makanan atau camilan yang diinginkan. Tak pernah malu beli satu porsi untuk dimakan berdua. Sebab, kami pernah kapok beli soto dua porsi makan di tempat, akhirnya kewalahan menghabiskan.

Ketiga: berbagi Makanan

Belanja dan masak seperlunya bukan berarti lupa arti berbagi. Terkadang kami juga mengolah makanan dalam porsi berlebih. Setiap kali dirasa makanan yang diolah berlebih, kami usahakan menyisihkan sebagian untuk tetangga atau saudara.

Alhamdulillah, di sini kami dikelilingi oleh tetangga yang baiknya masha Allah. Mereka begitu peduli dengan kami. Dalam satu pekan ada saja yang mengetuk pintu mengantarkan lauk, buah, kue dan lainnya. Bahkan tanpa kami minta beberapa tetangga sudah mempersilahkan kami untuk memetik buah dan sayur yang ada di halaman mereka kapan kami butuh. Masha Allah nikmat mana lagi yang pantas kami dustakan.

Baca Juga: Misteri Rezeki yang Wajib Kita Tau

Kebaikan tetangga-tetangga baru ini juga yang mengingatkan kami agar jangan pernah pelit berbagi. Karenanya, ketika kami merasa stok makanan kami kebanyakan, lebih dari yang dibutuhkan, kami segera mengirimkannya ke tetangga. Namun, kami sedapat mungkin menghindari untuk membagi makanan sisa.

“Berikan yang terbaik,” itu selalu pesan suami.

Jadi, sebelum dikonsumsi, makanan tersebut dsisihkan dulu untuk dibagi. Misalnya saya masak bubur kebanyakan. Maka sebelum mengambil porsi untuk dimakan, saya sisihkan sebagian untuk dibagi ke tetangga hingga tersisa porsi yang cukup untuk kami konsumsi berdua.

Keempat: menyiapkan tong kompos

Meski sudah berusaha untuk tidak menghasilkan makanan sisa, tetap saja ada sampah makanan yang dihasilkan. Sampah makanan itu berasal ada yang berasal dari sisa makanan, sisa bahan makanan yang tidak bisa dikonsumsi, bahan makanan yang busuk dan lainnya.

Tong Kompos di Sudut Rumah
Kami tetap berkomitmen, tidak boleh ada sampah makanan yang terbuang. Nah, solusinya untuk sampah makanan ini adalah dengan menyediakan tong kompos di sudut dapur.

Dari awal pindah ke kontrakan ini kami sudah menyediakan tong kompos. Tujuannya adalah untuk mengolah sampah-sampah makanan dan sampah organik lainnya yang ada di sekitar kami menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos padat. Selanjutnya, POC dan kompos padat dimanfaatkan untuk menyuburkan media tanam sayuran di halaman rumah.

Prinsipnya, semua yang berasal dari bumi harus dikembalikan ke bumi. Tidak boleh ada yang terbuang sia-sia.

Kelima: Berkebun di pekarangan

Berkebun di Pekarangan
Kriteria pertama yang kami tetapkan ketika mencari kontrakan adalah harus ada halaman yang bisa kami tanami. Tidak perlu luas, yang penting ada lahan di sekitar rumah kontrakan tersebut. Alhamdulillah, ditakdirkan mendiami kontrakan dengan halaman samping yang lebih dari cukup untuk ditanami kebutuhan sayuran sehari-hari.

Baca Juga: Mengenal Tanaman dan Khasiat Binahong

Mengapa harus menanam di pekarangan? Menurut hemat saya dengan menanam sendiri kebutuhan dapur kita bisa berswasembada pangan, minimal sayuran. Jadi, tumpukan stok bahan pangan seperti sayuran untuk diolah setiap minggunya bisa dikurangi. Kebutuhan sayuran dan bumbu kita tinggal panen di halaman, tidak perlu stok lagi. Tumpukan stok bahan pangan seperti sayur, bahan bumbu dan sebagainya tersebut  sangat berpotensi menjadi sampah ketika berlebih.

Inilah lima gaya hidup bebas sampah makanan yang sedang kami ikhtiarkan. Langkah sederhana  sayangi bumi yang juga mendukung program pengiritan pengeluaran bulanan hehehe... Ngirit sambil menerapkan prinsip hidup minim sampah mengapa tidak kan? So, bagaimana gaya hidup bebas sampah versi sahabat? Yuk sharing di komen!

Note: Tulisan ini diiktsertakan dalam Lomba Blog "Gaya Hidup Minim Sampah Makanan" yang diadakan oleh Bandung Food Smart City.

Referensi:

Ada 1,03 Miliyar Ton Makanan Terbuang Sia-sia Setiap Tahun Halaman all - Kompas.com

Bisnis sebagai jawaban masalah darurat sampah makanan di Indonesia (kontan.co.id)

Food Waste dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan – CIMSA UI

Masih Suka Buang-Buang Makanan? Stop Sekarang, Ini Bahayanya (kompas.tv)

SIPSN - Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (menlhk.go.id)

 

Continue reading Menerapkan Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan Sebagai Ikhtiar Sayangi Bumi

Sunday, May 16, 2021

, , , , , , , , , ,

Ramadhan Tahun Ini Ada yang Beda

Ramadhan
Sumber: www.pixabay.com


Post terakhir blog ini tercatat tanggal 07 September 2020. Masha Allah sudah setengah tahun lebih tidak disentuh. Keriwuhan akhir tahun dengan urusan pribadi, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kejutan deadline kerjaan yang bertubi-tubi berdampak juga pada jatah waktu dan konsentrasi untuk mengelola blog ini. Namun, apapun dan bagaimana pun blog ini tidak akan pernah ditinggalkan.
Blog ini adalah rumah sekaligus ladang virtual yang harus terus dirawat. Ada asa, mimpi, cita-cita dan cinta yang tersimpan rapi di sini. Ada lorong-lorong impian masa depan yang juga diselipkan di sini. Mohon doanya ya sahabat semoga saya bisa terus istiqomah menulis dan berbagi melalui blog ini. Mohon doanya agar selalu Allah beri ilham untuk menghasilkan tulisan-tulisan bermanfaat bagi pembaca.
Okey sahabat, Ramadhan tahun ini ada yang beda bagi saya. Ada warna baru yang dihadirkan Allah dalam hidup ini, dengan kehadiran laki-laki pilihan Allah yang mengucapkan janji suci di majlis akad nikah pada 19 Desember 2020 yang lalu. Ramadhan pertama dengan status sebagai seorang istri, masha Allah. Sebuah anugerah besar, sekaligus amanah dan tanggung jawab yang besar juga.
Ramadhan dengan status sebagai seorang istri tentunya berbeda. Ada tanggung jawab dan kewajiban baru yang menyertai hari-hari. Ada suami yang perlu dilayani dan diurusi kebutuhannya. Namun di sisi lain juga ada rasa bahagia dan ketenangan yang menyertai. Berumah tangga memang memberikan warna berbeda. Nuansa Ramadhan tidak lagi bisa sama seperti Ramadhan sebelumnya, terlebih dengan semua jalan cerita hidup yang kami pilih sekarang.

Ramadhan Di Rumah Kontrakan

Alhamdulillah satu bulan sebelum Ramadhan kami sudah mendiami rumah kontrakan baru. Tinggal berdua saja di sini, tepisah dari orang tua dan keluarga. Belajar untuk mandiri dan bertanggungjawab dengan kehidupan rumah tangga yang sudah dibangun berdua. Sejak awal menikah saya dan suami memang sudah berkomitmen untuk tinggal terpisah dari orang tua, bagaimanapun kondisinya. Kami ingin memulai kehidupan rumah tangga dengan kaki dan tangan kami sendiri. Sesulit apapun jalan itu, yakin dan percaya ada Allah yang maha mencukupi. 
Dan Ramadhan kali ini kami lewati berdua di rumah kontrakan. Beda, sudah pasti beda. Karena sekarang hari-hari Ramadhan dilewati bersama orang yang berbeda dan tanggung jawab yang berbeda. Jika Ramadhan sebelumnya tidak perlu mikir nanti buka apa dan sahur makan apa? Waktunya sahur dan berbuka semua sudah tersaji dengan lengkap di hidangan. Ada ibunda tercinta yang selalu sigap dan cekatan menyajikan semua menu itu sebelumnya. Sekarang? Tentunya jadi berbeda. Tanggung jawab untuk menyediakan menu sahur dan berbuka berada di tangan kita. Jadi, setiap hari menu sahur dan berbuka menjadi rincian wajib yang harus dipikirkan.
Ribet? Ah tidak juga, justru menjadi kesenangan baru yang sangat disyukuri. Merancang dan mengolah menu sahur dan berbuka bersama yang tercinta sekarang menjadi rutinitas harian. Romantisme mana lagi yang perlu didustakan?

Ramadhan dengan Setumpuk Deadline Kerjaan

Yes, Ramadhan kali ini bertepatan dengan jadwal pemukhtahiran dan input data verifikasi komitmen KPM PKH dampingi. Jadinya, hari-hari pun dilewati dengan aktivitas input data dari pagi hingga sore. Fix selama Ramadhan aktivitas lapangan dikurangi. Semua kegiatan Pertemuan Kelompok (PK) PKH sudah diselesaikan sebelum Ramadhan. Akhir april juga disibukkan dengan perbaikan data KPM di SIKS-NG, deadline kerjaan seperti timpa menimpa. Sempat bikin stress, namun sangat bersyukur sekali semua bisa dilewati dengan baik.
meski deadline pekerjaan padat merayap, namun saya sangat bersyukur sekali karena semua bisa dikerjakan dari rumah. Work from home, alhamdulillah fleksibelitas pekerjaan sebagai pendamping sosial PKH adalah suatu hal yang sangat saya syukuri. Terlebih di bulan Ramadhan, di mana fisik sudah pasti cenderung lebih lemah saat berpuasa. Bekerja dari rumah memberi saya kenyamanan dan keleluasaan dalam menyelesaikan tugas dengan baik.

Ramadhan ini Kembali Belajar Bercocok Tanam

Menjatuhkan pilihan pada bidang pertanian saat memilih jurusan di perguruan tinggi dulunya, bukan tanpa alasan. Meski tidak begitu terampil bercocok tanam, namun tanaman dan alam adalah dua hal yang sangat disukai. Sangat senang bermain dan menyatu dengan alam.
Alhamdulillah, Allah sambut semua minat dan kecintaan dengan mempertemukan saya dengan laki-laki yang juga sangat menjiwai pertanian.
"Pertanian adalah jiwa saya," ungkapnya ketika saya tanya minatnya untuk berikhtiar di dunia pertanian saat kami masih proses ta'aruf.
Ungkapan yang kemudian semakin memantapkan hati saya untuk menerimanya menjadi partner sehidup sesurga. Dan sekarang kami bersama untuk berikhtiar mengembangkan pertanian organik dari nol. Benar-benar dari nol! Berbekal sedikit lahan yang dipinjamkan oleh orang-orang baik hati yang dihadirkan Allah di sekeling kami.
Allah benar-benar Maha Baik pada kami. Ia menitipkan semua kebaikannya di hati hamba-hamba-Nya yang sholeh yang ada di sekeliling kami. Di sini kami mendapatkan begitu banyak kemudahan. Orang-orang yang belum kami kenal sebelumnya di sini begitu ringan sekali menawarkan kebaikan demi kebaikannya kepada kami, bahkan tanpa kami minta sekalipun. Pada mereka kami melihat kebaikan Allah dan kasih sayang Allah dititipkan begitu banyak.
Dan di Ramadhan inilah saya kembali belajar bercocok tanam. Kali ini tidak lagi belajar teori sebagaimana dulu saat kuliah. Namun, langsung praktek lapangan menanam benih yang kami punya. Gagal coba lagi, gagal lagi dan coba lagi. Menyingkirkan semua rasa malas, malu dan takut. Yang ada hanya keinginan untuk terus mencoba, pantang menyerah untuk bercocok tanam organik. Saya percaya, ketika kami terus menanam maka akan ada masanya kami panen. Dan alhamdulillah, Ramadhan ini kami sudah panen kangkung dan kacang panjang organik berkali-kali. Alhamdulillah nikmat Tuhan Mana lagi yang pantas didustakan?

Ramadhan dalam Kepungan Pandemi

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Disiplin menjalani protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun dan menghindari kerumunan masih harus diterapkan. Namun sayangnya, semakin hari masyarakat semakin abai dengan protokol kesehatan. Padahal angka penyebaran Covid-19 yang dirilis pemerintah terus meningkat tajam.
Kejenuhan masyarakat dengan beragam informasi seputar Covid-19 menjadi salah satu faktor pemicu keacuhan tersebut. Namun bagi saya, Ramadhan di tengah pandemi ini tetap beda. Ramadhan dalam kepungan pandemi, mengingatkan kita betapa kematian itu begitu dekat. Dalam bulan Ramadhan ini saja, berita duka silih berganti menghampiri. Baik kematian mereka yang dekta di mata maupun yang jauh hanya terdengar di berita. Tak sedikit juga diantaranya meninggal setelah terpapar virus Covid-19.

Ramadhan tahun ini memang ada yang beda. Namun, bagaimana pun warna Ramadhanmu tahun ini, tetaplah jalani dengan bahagia dan penuh syukur. Nun jauh di sana, di negeri para syuhada, saudara-saudara kita melwati Ramadhan dengan darah dan air mata. Tidak seperti anak-anak kita yang melewati akhir Ramadhan dengan letusan bedil dan percikan kembang api. Anak-anak mereka di sana melewati akhir Ramadhan di tengah desingan peluru dan dentuman meriam. Astagfirullah. Doa terbaik dan sedekah terbaik mari kita kirimkan untuk Palestina. Al Fatihah.

Continue reading Ramadhan Tahun Ini Ada yang Beda

Monday, September 7, 2020

, , ,

Memahami Misteri Rezeki

Bagaimana rezeki datang menghampiri? Tidak sepenuhnya berada dalam kuasa tangan kita. Ada campur tangan Sang Pemilik rezeki yang seringkali tak terduga. Jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa apa yang ada dalam genggaman seratus persen bisa dikendalikan. Sama sekali tidak! Terkadang apa yang sudah di tangan pun kalau dia tidak ditakdirkan untuk kita bisa lenyap dalam waktu sekejap.

Bicara tentang rezeki memang tidak pernah habisnya. Tulisan, seminar, pelatihan dan buku-buku seputar rezeki selalu laris manis di pasaran. Di agensi penulis, tawaran menulis buku dengan tema seputar rezeki selalu ada. Beberapa buku yang saya tulis pun pernah mengangkat tema ini.

Btw, seringkali kita salah dalam memahami rezeki. Rezeki seringkali kita pahami dalam bentuk uang ataupu benda. Padahal, rezeki Allah itu sungguh luas. Semua nikmat yang dikaruniakan Allah pada kita adalah rezeki, baik nikmat yang memang kita harapkan ataupun tidak.

Memahami Pembungkus Rezeki

Gambar 1. Setiap Makluk Sudah Tertakar Rezekinya

Saya senang belajar dari siapa saja, membaca apa saja, termasuk perkara rezeki ini. Membaca banyak tulisan dan mendengar petuah dari para guru saya memahami bahwa sejatinya apapun yang hadir dalam kehidupan kita adalah rezeki dari Allah. Tidak terkecuali hal-hal yang kita nilai musibah.

Rezeki itu adalah hadiah atau pemberian dari Allah Swt. Lazimnya hadiah, terkadang ada yang diberikan dengan bungkus yang indah, bungkus yang biasa saja atau bahkan tanpa bungkus. Begitu jugalah halnya dengan rezeki. Terkadang ia hadir dengan bungkus yang menyenangkan, hati kita pun bahagia menerimanya. Contohnya, kesuksesan, pasangan yang baik, pekerjaan yang mentereng, dan hal-hal yang membahagiakan lainnya. Kita bahagia dan bangga menerimanya, hal-hal tersebut pun kita sebut dengan rezeki.

Rezeki adalah bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Kasih sayang itu tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan. Terkadang dibungkus dalam bentuk musibah, ujian, kehilangan dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Ketika kehilangan, kita seingkali menganggap bahwa kita sudah kehilangan rezeki. Padahal boleh jadi itulah rezeki yang sesungguhnya yang sedang dibungkus Allah dengan musibah kehilangan. Sebab. Allah tidak mengambil sesuatu dari hamba-Nya melainkan diganti dengan sesuatu yang lebih sesuai dan baik untuk sang hamba tersebut.

Demikianlah rezeki dari Allah. Tidak selalu berbungkus keindahan dan hal-hal yang kita senangi. Allah kuasa dan berkehendak membungkus rezekinya dengan bungkus apapun yang Allah mau. Namun, satu hal yang kita harus yakin adalah bahwa apapun bentuk pembungkus rezeki dari Allah isinya tetaplah baik dan terbaik. Selalu hadir bersamanya pesan-pesan hikmah, jika kita mampu menyelaminya hati akan meleleh tunduk penuh syukur pada Allah Azza Wajalla yang maha mengatur kehidupan kita. Betapa indah dan Maha Pemurahnya Allah mengurus setiap detil kehidupan kita.

Fokuslah Pada Isi Bukan Bungkusnya

Gambar 2. Fokus Pada Isi Bukan Bungkus

Sebelumnya kita sudah paham dan sepakat bahwa Allah menghadirkan rezeki dalam hidup kita beserta bungkusnya. Ada yang dibungkus dengan kesenangan dan sesuai dengan harapan manusiawi kita. Ada juga yang hadir dengan bungkus kesulitan, ujian yang sulit bagi hati kita untuk menerima dengan senang hati. Tapi, itu adalah rezeki yang sudah ditakdirkan Allah yang harus diterima dengan penuh kesyukuran dan kesabaran.

Jika rezeki adalah bentuk kasih sayang Allah, lalu mengapa mesti ada sedih dan kecewa ketika menerimanya dalam bungkus yang tidak sesuai dengan harapan kita? Tak lain karena kita terlalu fokus pada bungkusnya, hingga abai dengan isinya.

Dari sini kita belajar akan pentingnya untuk fokus pada isi bukan pada bungkus. Percaya bahwa takdir Allah adalah yang terbaik.

Contohnya, ketika kehilangan sesuatu yang disayangi secara manusiawi hati kita pasti sedih. Tapi coba sejenak menarik nafas, tahan, lepaskan pelan-pelan. Coba alihkan perhatian kita dari kesedihan akan kehilangan dengan mencoba menemukan apa maksud Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang disayangi tersebut. Adakah mungkin itulah cara Allah untuk mengingatkan kita agar tidak berlebihan dalam menyayangi sesuatu yang bisa melalaikan kita dari mengingat Allah? Ataukah ini adalah cara Allah untuk mengosongkan satu ruang dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. So, bersabarlah dan tetap berbaik sangka pada Allah.

Prasangka Baik adalah Kuncinya

So, kuncinya adalah berbaik sangka selalu pada Allah. Percayalah Allah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan bagi makhluk-Nya. Apa-apa yang diberikan dan apa-apa yang dimbilnya kembali adalah untuk kebaikan kita. Jangan pernah berkecil hati dengan sesuatu yang belum dimiliki dan jangan jumawa dengan semua pencapaian yang telah diraih.

Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagi kita. Dan boleh jadi kita sangat mencintai sesuatu sementara hal tersebut buruk bagi kita. Bukankah Allah Maha Mengetahui sesuatu, sementara pengetahuan manusia terbatas?

So, berbaik sangkalah dengan semua ketetapan Allah Swt.

Keterangan Sumber Foto:

1. Koleksi pribadi

2. Koleksi Pribadi

Continue reading Memahami Misteri Rezeki

Sunday, June 7, 2020

, , , , , ,

Sudah Siapkah Untuk Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal?

New Normal – Tiga bulan sudah kita dituntut untuk melakukan aktivitas di rumah saja. Sedapat mungkin hindari keluar rumah kecuali untuk sesuatu yang benar-benar urgent. Bekerja, belajar dan beribadah semua dilakukan dari rumah. Sehingga muncul berbagai istilah baru seperti work from home, learning from home, buy from home, shopping from home dan lain sebagainya. Pokoknya tiga bulan ini kita benar-benar dilatih untuk mencintai aktivitas di rumah. Kembali mencintai setiap sudut rumah yang selama ini mungkin tidak sempat dilirik karena kesibukan mencari nafkah.

New Normal
Gambar 1. Dunia Menuju New Normal

Berbulan-bulan terkurung di rumah ternyata banyak yang mulai merasa jenuh. Terlebih bagi mereka yang mata pencahariannya tidak bisa dibawa ke rumah. Sementara roda perekonomian keluarga harus tetap jalan, sebab dapur harus tetap ngebu, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak butuh support finansial yang tidak sedikit.

Pemerintah pun ingin segera melonggarkan pembatasan sosial, sebab tidak ingin memperparah dampak sosial yang mungkin terjadi akibat pandemi ini.Tapi sudah siapkah kita? Pelonggaran pembatasan sosial --di saat pandemi belum lagi mereda-- akan menimbulkan dampak yang tidak ringan. Bayangan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 adalah mimpi buruk bagi para tenaga kesehatan khususnya dan bangsa ini umumnya.

Baca Juga: Pelajaran dari Covid-19

Memang tidak ada pilihan yang tanpa resiko di masa pandemi ini. Setiap pilihan yang akan diambil pemerintah tetap akan ada resikonya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pemerintah memutuskan untuk menerapkan tatanan kehidupan New Normal mulai bulan Juni ini. Kebijakan yang menurut Presiden Jokowi sebagai cara kita untuk tetap survive dan hidup berdampingan dengan Covid-19.

Seperti Apa Kehidupan New Normal?

Infografis New Normal
Gambar 2. Infografis Daerah yang Segera Menerapkan New Normal

Sejak awal kebijakan New Normal menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Banyak yang menyayangkan kebijakan ini di saat kurva kasus positif Covid-19 masih cenderung naik, belum menunjukkan tanda-tanda bakal melandai. Namun pemerintah tetap kukuh untuk mulai memasuki tatanan kehidupan normal baru ini. Dilansir dari laman Kompas.com (29/05/2020) ada 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota yang akan mulai menerapkan New Normal di bulan Juni ini. Enam kabupaten/kota di Provinsi Riau yang sebelumnya menerapkan PSBB juga akan ikut menerapkan tatanan kehidupan normal baru ini. Enam kabupaten/kota tersebut adalah Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis.

Jadi, apa sebenarnya New Normal? Kehidupan seperti apa yang ditawarkan dalam kebijakan new normal ini? Benarkah masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas normal seperti sebelum pandemi?

Menurut Wiku Adisasmita, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sebagaimana dikutib dari Kompas.com (20/05/2020), New Normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.

Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Jokowi sebagaimana dilansir dari katadata.co.id (28/05/2020), “Kami ingin sekali lagi bisa masuk ke normal baru, tatanan baru. Dan Kami ingin muncul sebuah kesadaran yang kuat, kedisiplinan yang kuat.”

Membaca pernyataan-pernyataan pemerintah tentang New Normal Saya pribadi memahami bahwa di era New Normal, kesadaran dan peran serta kita sebagai individu untuk menerapkan protokol kesehatan dan social distancing sangat ditekankan. Kita harus punya kesadaran tinggi melindungi diri, keluarga, sahabat dan orang lain dari penularan Covid-19. Di era New Normal kita diberi keleluasan untuk beraktivitas di luar, tapi dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru yang sebelumnya dianggap ‘tidak normal’ secara lebih disiplin lagi. Sekarang semua kebiasaan baru itulah yang dianggap normal dan diyakini bisa membuat kita survive dari pandemi Covid-19. Apa saja kebiasaan-kebiasaan baru tersebut? Yakni kebiasaan selalu menggunakan masker saat keluar rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, dan menjaga jarak dengan sesama.

Sejenak kita mengingat kembali apa yang dijalani selama hari-hari belakangan ini sebenarnya tidak jauh-jauh dari tatanan kehidupan New Normal yang dimaksud. Mungkin sedikit berbeda untuk daerah-daerah yang sebelumnya menerapkan PSBB secara ketat, di mana rumah-rumah ibadah, toko-toko dan pusat-pusat perekonomian banyak yang ditutup tidak dibenarkan beroperasi. Pada fase New Normal secara bertahap semua akan kembali diizinkan beroperasi secara bertahap dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan dan social distancing.

Baca Juga: Suasana Lebaran di Tengah Pandemi

Nah, sampai di sini bisa dipahami kan seperti apa New Normal itu? Sederhananya sekarang kita harus mulai beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya agar bisa survive di tengah pandemi. Jika sebelumnya kemana-mana tanpa masker, sekarang mewajibkan diri untuk memakai masker. Jika sebelumnya cuci tangan hanya sebelum dan sesudah makan, sekarang harus membiasakan diri sering-sering cuci tangan pakai sabun dalam berbagai kesempatan. Kita juga mulai membiasakan diri menghindari kerumunan dan disiplin menjaga jarak (physical distancing).

Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal


Banyak yang khawatir penerapan New Normal akan memicu gelombang kedua peningkatan kasus positif Covid-19 yang lebih parah dari sebelumnya. Hal itu wajar, mengingat kasus penularan masih terus terjadi. Angka kasus positif Covid-19 secara nasional masih terus menunjukkan tren kenaikan.

Saya pribadi selalu percaya pemerintah membuat kebijakan pastinya tidak asal-asalan. Ada kajian dari Tim Pakar yang berkompeten di bidangnya sebelum sebuah kebijakan diluncurkan. Termasuk dalam penerapan New Normal ini, ada kajian sebelumnya, ada regulasi saat penerapan dan ada evaluasi setelahnya. Jadi, kemungkinan efek terburuk dari penerapan New Normal ini memang ada. Di sinilah peran pemerintah, aparat dan kita sebagai elemen masyarakat untuk meminimalisir efek terburuk tersebut. Sebab kebijakan seperti apapun yang diambil dalam kondisi seperti saat ini tetap saja ada resiko terburuknya.

Satu hal yang harus kita ketahui adalah bahwa pemerintah pun tidak menerapkan New Normal secara asal-asalan. Ada serangkaian rules yang sudah disiapkan. Ketika New Normal diberlakukan, bukan berarti semua daerah secara otomatis menerapkan New Normal. Hanya daerah-daerah yang berada dalam zona biru saja yang dibolehkan untuk menerapkan New Normal. Sementara daerah-daerah yang berada di zona kuning dan merah masih harus bersabar dalam pembatasan sosial yang ketat. Penerapan New Normal juga dilakukan secara bertahap dan evaluasi secara berkala.

Nah, pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan yang diharapkan bisa meminimalisir dampak pandemi ini. Adalah peran kita sebagai individu untuk mendukung penuh agar kebijakan ini berdampak positif nantinya. Caranya yaitu dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan dan social distancing.

Baca Juga: Tips Cerdas Agar Tetap Produktif Selama #DiRumahSaja

“Orang yang survive, atau makhluk hidup yang selamat itu adalah makhluk hidup yang bisa beradaptasi,” demikian pesan dr. Indra Yopi Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Riau. So, untuk bisa survive kita harus beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini. Kita harus bisa hidup survive di tengah kepungan Covid-19 yang tidak tampak oleh mata.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa tetap beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru ini?

Sejatinya sejak awal pandemi kita sudah mulai dilatih untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru ini. Sejak awal kita sudah dihimbau untuk senantiasa mematuhi berbagai protokol kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan menghindari kerumunan. Hanya saja, masih banyak diantara kita yang belum menjalankannya dengan disiplin.

Nah di sini Saya akan berbagi tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan ala New Normal:

Pertama, selalu berpikiran positif dan hentikan kecemasan berlebihan. Simpang siur berita seputar Covid-19 belakangan ini, terkadang menimbulkan kecemasan berlebihan. Tidak hanya cemas dengan kesehatan diri, kita juga dilanda kecemasan akan keberlangsungan ekonomi. Menyambut New Normal ada baiknya kita mulai memilah berita dan informasi yang dikonsumsi. Seperti sarannya Pak Dahlan Iskan dalam tulisannya, “sudah tidak ada lagi yang perlu Anda ketahui tentang Covid-19.”

Ya, hampir semua informasi seputar Covid-19, sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Jadi, rem sedikit semangat kita dalam berburu berita seputar Covid-19 agar tidak terjebak dalam pusaran kecemasan berlebihan. Sekarang saatnya untuk lebih selektif dalam memilih berita. Pilih berita-berita positif saja, hindari berita negatif dan HOAX.

Kedua, selalu ingat dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. New Normal bukan berarti kehidupan kita sudah benar-benar terbebas dari Covid-19. Virus ini masih ada dan masih menular dari satu orang ke orang lainnya. Disiplin menjalankan protokol kesehatan adalah salah satu ikhtiar yang mungkin kita lakukan agar terhindar dari penularan virus ini.

New Normal
Gambar 3. Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

Ketiga, selalu jaga imunitas tubuh. Covid-19 mengajarkan pada kita akan pentingnya imunitas tubuh. Banyak informasi kita terima dari berbagai sumber bahwa satu-satunya senjata tubuh untuk melawan infeksi virus Covid-19 adalah imunitas tubuh. Bagaimana cara menjaga imunitas tubuh? Tentunya sudah banyak informasi tentang ini kita dapatkan dari berbagai sumber. Yang pasti selalu jaga pola hidup sehat seperti makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan minum air putih yang cukup.

Keempat, selalu terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat di rumah. Tidak ada yang bisa menjamin anggota keluarga kita bebas dari infeksi Covid-19. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat menjadi keharusan

Kelima, disiplin menjalankan ibadah dan selalu berdoa. Sebagai makhluk beriman sudah seharusnya kita senantiasa untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Menyerahkan seluruh urasan dan harapan kita hanya pada Allah Swt. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi melainkan atas pengetahuan dan ketetapan dari-Nya.

Adaptasi kebiasaan baru di era New Normal ini adalah keniscayaan. Inilah cara terbaik kita untuk bertahan di tengah cekaman pandemi yang belum tau kapan berujung. Yuk terus beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru! Tingkatkan terus kesadaran diri untuk mematuhi protokol kesehatan dan social distancing!

Referensi Gambar:
1. www.pixabay.com
2. www.kompas.com
3. www.pixabay.com
Continue reading Sudah Siapkah Untuk Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal?