Monday, September 7, 2020

, , ,

Memahami Misteri Rezeki

Bagaimana rezeki datang menghampiri? Tidak sepenuhnya berada dalam kuasa tangan kita. Ada campur tangan Sang Pemilik rezeki yang seringkali tak terduga. Jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa apa yang ada dalam genggaman seratus persen bisa dikendalikan. Sama sekali tidak! Terkadang apa yang sudah di tangan pun kalau dia tidak ditakdirkan untuk kita bisa lenyap dalam waktu sekejap.

Bicara tentang rezeki memang tidak pernah habisnya. Tulisan, seminar, pelatihan dan buku-buku seputar rezeki selalu laris manis di pasaran. Di agensi penulis, tawaran menulis buku dengan tema seputar rezeki selalu ada. Beberapa buku yang saya tulis pun pernah mengangkat tema ini.

Btw, seringkali kita salah dalam memahami rezeki. Rezeki seringkali kita pahami dalam bentuk uang ataupu benda. Padahal, rezeki Allah itu sungguh luas. Semua nikmat yang dikaruniakan Allah pada kita adalah rezeki, baik nikmat yang memang kita harapkan ataupun tidak.

Memahami Pembungkus Rezeki

Gambar 1. Setiap Makluk Sudah Tertakar Rezekinya

Saya senang belajar dari siapa saja, membaca apa saja, termasuk perkara rezeki ini. Membaca banyak tulisan dan mendengar petuah dari para guru saya memahami bahwa sejatinya apapun yang hadir dalam kehidupan kita adalah rezeki dari Allah. Tidak terkecuali hal-hal yang kita nilai musibah.

Rezeki itu adalah hadiah atau pemberian dari Allah Swt. Lazimnya hadiah, terkadang ada yang diberikan dengan bungkus yang indah, bungkus yang biasa saja atau bahkan tanpa bungkus. Begitu jugalah halnya dengan rezeki. Terkadang ia hadir dengan bungkus yang menyenangkan, hati kita pun bahagia menerimanya. Contohnya, kesuksesan, pasangan yang baik, pekerjaan yang mentereng, dan hal-hal yang membahagiakan lainnya. Kita bahagia dan bangga menerimanya, hal-hal tersebut pun kita sebut dengan rezeki.

Rezeki adalah bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Kasih sayang itu tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan. Terkadang dibungkus dalam bentuk musibah, ujian, kehilangan dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Ketika kehilangan, kita seingkali menganggap bahwa kita sudah kehilangan rezeki. Padahal boleh jadi itulah rezeki yang sesungguhnya yang sedang dibungkus Allah dengan musibah kehilangan. Sebab. Allah tidak mengambil sesuatu dari hamba-Nya melainkan diganti dengan sesuatu yang lebih sesuai dan baik untuk sang hamba tersebut.

Demikianlah rezeki dari Allah. Tidak selalu berbungkus keindahan dan hal-hal yang kita senangi. Allah kuasa dan berkehendak membungkus rezekinya dengan bungkus apapun yang Allah mau. Namun, satu hal yang kita harus yakin adalah bahwa apapun bentuk pembungkus rezeki dari Allah isinya tetaplah baik dan terbaik. Selalu hadir bersamanya pesan-pesan hikmah, jika kita mampu menyelaminya hati akan meleleh tunduk penuh syukur pada Allah Azza Wajalla yang maha mengatur kehidupan kita. Betapa indah dan Maha Pemurahnya Allah mengurus setiap detil kehidupan kita.

Fokuslah Pada Isi Bukan Bungkusnya

Gambar 2. Fokus Pada Isi Bukan Bungkus

Sebelumnya kita sudah paham dan sepakat bahwa Allah menghadirkan rezeki dalam hidup kita beserta bungkusnya. Ada yang dibungkus dengan kesenangan dan sesuai dengan harapan manusiawi kita. Ada juga yang hadir dengan bungkus kesulitan, ujian yang sulit bagi hati kita untuk menerima dengan senang hati. Tapi, itu adalah rezeki yang sudah ditakdirkan Allah yang harus diterima dengan penuh kesyukuran dan kesabaran.

Jika rezeki adalah bentuk kasih sayang Allah, lalu mengapa mesti ada sedih dan kecewa ketika menerimanya dalam bungkus yang tidak sesuai dengan harapan kita? Tak lain karena kita terlalu fokus pada bungkusnya, hingga abai dengan isinya.

Dari sini kita belajar akan pentingnya untuk fokus pada isi bukan pada bungkus. Percaya bahwa takdir Allah adalah yang terbaik.

Contohnya, ketika kehilangan sesuatu yang disayangi secara manusiawi hati kita pasti sedih. Tapi coba sejenak menarik nafas, tahan, lepaskan pelan-pelan. Coba alihkan perhatian kita dari kesedihan akan kehilangan dengan mencoba menemukan apa maksud Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang disayangi tersebut. Adakah mungkin itulah cara Allah untuk mengingatkan kita agar tidak berlebihan dalam menyayangi sesuatu yang bisa melalaikan kita dari mengingat Allah? Ataukah ini adalah cara Allah untuk mengosongkan satu ruang dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. So, bersabarlah dan tetap berbaik sangka pada Allah.

Prasangka Baik adalah Kuncinya

So, kuncinya adalah berbaik sangka selalu pada Allah. Percayalah Allah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan bagi makhluk-Nya. Apa-apa yang diberikan dan apa-apa yang dimbilnya kembali adalah untuk kebaikan kita. Jangan pernah berkecil hati dengan sesuatu yang belum dimiliki dan jangan jumawa dengan semua pencapaian yang telah diraih.

Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagi kita. Dan boleh jadi kita sangat mencintai sesuatu sementara hal tersebut buruk bagi kita. Bukankah Allah Maha Mengetahui sesuatu, sementara pengetahuan manusia terbatas?

So, berbaik sangkalah dengan semua ketetapan Allah Swt.

Keterangan Sumber Foto:

1. Koleksi pribadi

2. Koleksi Pribadi

Continue reading Memahami Misteri Rezeki

Sunday, June 7, 2020

, , , , , ,

Sudah Siapkah Untuk Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal?

New Normal – Tiga bulan sudah kita dituntut untuk melakukan aktivitas di rumah saja. Sedapat mungkin hindari keluar rumah kecuali untuk sesuatu yang benar-benar urgent. Bekerja, belajar dan beribadah semua dilakukan dari rumah. Sehingga muncul berbagai istilah baru seperti work from home, learning from home, buy from home, shopping from home dan lain sebagainya. Pokoknya tiga bulan ini kita benar-benar dilatih untuk mencintai aktivitas di rumah. Kembali mencintai setiap sudut rumah yang selama ini mungkin tidak sempat dilirik karena kesibukan mencari nafkah.

New Normal
Gambar 1. Dunia Menuju New Normal

Berbulan-bulan terkurung di rumah ternyata banyak yang mulai merasa jenuh. Terlebih bagi mereka yang mata pencahariannya tidak bisa dibawa ke rumah. Sementara roda perekonomian keluarga harus tetap jalan, sebab dapur harus tetap ngebu, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak butuh support finansial yang tidak sedikit.

Pemerintah pun ingin segera melonggarkan pembatasan sosial, sebab tidak ingin memperparah dampak sosial yang mungkin terjadi akibat pandemi ini.Tapi sudah siapkah kita? Pelonggaran pembatasan sosial --di saat pandemi belum lagi mereda-- akan menimbulkan dampak yang tidak ringan. Bayangan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 adalah mimpi buruk bagi para tenaga kesehatan khususnya dan bangsa ini umumnya.

Baca Juga: Pelajaran dari Covid-19

Memang tidak ada pilihan yang tanpa resiko di masa pandemi ini. Setiap pilihan yang akan diambil pemerintah tetap akan ada resikonya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pemerintah memutuskan untuk menerapkan tatanan kehidupan New Normal mulai bulan Juni ini. Kebijakan yang menurut Presiden Jokowi sebagai cara kita untuk tetap survive dan hidup berdampingan dengan Covid-19.

Seperti Apa Kehidupan New Normal?

Infografis New Normal
Gambar 2. Infografis Daerah yang Segera Menerapkan New Normal

Sejak awal kebijakan New Normal menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Banyak yang menyayangkan kebijakan ini di saat kurva kasus positif Covid-19 masih cenderung naik, belum menunjukkan tanda-tanda bakal melandai. Namun pemerintah tetap kukuh untuk mulai memasuki tatanan kehidupan normal baru ini. Dilansir dari laman Kompas.com (29/05/2020) ada 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota yang akan mulai menerapkan New Normal di bulan Juni ini. Enam kabupaten/kota di Provinsi Riau yang sebelumnya menerapkan PSBB juga akan ikut menerapkan tatanan kehidupan normal baru ini. Enam kabupaten/kota tersebut adalah Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis.

Jadi, apa sebenarnya New Normal? Kehidupan seperti apa yang ditawarkan dalam kebijakan new normal ini? Benarkah masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas normal seperti sebelum pandemi?

Menurut Wiku Adisasmita, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sebagaimana dikutib dari Kompas.com (20/05/2020), New Normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.

Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Jokowi sebagaimana dilansir dari katadata.co.id (28/05/2020), “Kami ingin sekali lagi bisa masuk ke normal baru, tatanan baru. Dan Kami ingin muncul sebuah kesadaran yang kuat, kedisiplinan yang kuat.”

Membaca pernyataan-pernyataan pemerintah tentang New Normal Saya pribadi memahami bahwa di era New Normal, kesadaran dan peran serta kita sebagai individu untuk menerapkan protokol kesehatan dan social distancing sangat ditekankan. Kita harus punya kesadaran tinggi melindungi diri, keluarga, sahabat dan orang lain dari penularan Covid-19. Di era New Normal kita diberi keleluasan untuk beraktivitas di luar, tapi dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru yang sebelumnya dianggap ‘tidak normal’ secara lebih disiplin lagi. Sekarang semua kebiasaan baru itulah yang dianggap normal dan diyakini bisa membuat kita survive dari pandemi Covid-19. Apa saja kebiasaan-kebiasaan baru tersebut? Yakni kebiasaan selalu menggunakan masker saat keluar rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, dan menjaga jarak dengan sesama.

Sejenak kita mengingat kembali apa yang dijalani selama hari-hari belakangan ini sebenarnya tidak jauh-jauh dari tatanan kehidupan New Normal yang dimaksud. Mungkin sedikit berbeda untuk daerah-daerah yang sebelumnya menerapkan PSBB secara ketat, di mana rumah-rumah ibadah, toko-toko dan pusat-pusat perekonomian banyak yang ditutup tidak dibenarkan beroperasi. Pada fase New Normal secara bertahap semua akan kembali diizinkan beroperasi secara bertahap dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan dan social distancing.

Baca Juga: Suasana Lebaran di Tengah Pandemi

Nah, sampai di sini bisa dipahami kan seperti apa New Normal itu? Sederhananya sekarang kita harus mulai beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya agar bisa survive di tengah pandemi. Jika sebelumnya kemana-mana tanpa masker, sekarang mewajibkan diri untuk memakai masker. Jika sebelumnya cuci tangan hanya sebelum dan sesudah makan, sekarang harus membiasakan diri sering-sering cuci tangan pakai sabun dalam berbagai kesempatan. Kita juga mulai membiasakan diri menghindari kerumunan dan disiplin menjaga jarak (physical distancing).

Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal


Banyak yang khawatir penerapan New Normal akan memicu gelombang kedua peningkatan kasus positif Covid-19 yang lebih parah dari sebelumnya. Hal itu wajar, mengingat kasus penularan masih terus terjadi. Angka kasus positif Covid-19 secara nasional masih terus menunjukkan tren kenaikan.

Saya pribadi selalu percaya pemerintah membuat kebijakan pastinya tidak asal-asalan. Ada kajian dari Tim Pakar yang berkompeten di bidangnya sebelum sebuah kebijakan diluncurkan. Termasuk dalam penerapan New Normal ini, ada kajian sebelumnya, ada regulasi saat penerapan dan ada evaluasi setelahnya. Jadi, kemungkinan efek terburuk dari penerapan New Normal ini memang ada. Di sinilah peran pemerintah, aparat dan kita sebagai elemen masyarakat untuk meminimalisir efek terburuk tersebut. Sebab kebijakan seperti apapun yang diambil dalam kondisi seperti saat ini tetap saja ada resiko terburuknya.

Satu hal yang harus kita ketahui adalah bahwa pemerintah pun tidak menerapkan New Normal secara asal-asalan. Ada serangkaian rules yang sudah disiapkan. Ketika New Normal diberlakukan, bukan berarti semua daerah secara otomatis menerapkan New Normal. Hanya daerah-daerah yang berada dalam zona biru saja yang dibolehkan untuk menerapkan New Normal. Sementara daerah-daerah yang berada di zona kuning dan merah masih harus bersabar dalam pembatasan sosial yang ketat. Penerapan New Normal juga dilakukan secara bertahap dan evaluasi secara berkala.

Nah, pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan yang diharapkan bisa meminimalisir dampak pandemi ini. Adalah peran kita sebagai individu untuk mendukung penuh agar kebijakan ini berdampak positif nantinya. Caranya yaitu dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan dan social distancing.

Baca Juga: Tips Cerdas Agar Tetap Produktif Selama #DiRumahSaja

“Orang yang survive, atau makhluk hidup yang selamat itu adalah makhluk hidup yang bisa beradaptasi,” demikian pesan dr. Indra Yopi Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Riau. So, untuk bisa survive kita harus beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini. Kita harus bisa hidup survive di tengah kepungan Covid-19 yang tidak tampak oleh mata.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa tetap beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru ini?

Sejatinya sejak awal pandemi kita sudah mulai dilatih untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru ini. Sejak awal kita sudah dihimbau untuk senantiasa mematuhi berbagai protokol kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan menghindari kerumunan. Hanya saja, masih banyak diantara kita yang belum menjalankannya dengan disiplin.

Nah di sini Saya akan berbagi tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan ala New Normal:

Pertama, selalu berpikiran positif dan hentikan kecemasan berlebihan. Simpang siur berita seputar Covid-19 belakangan ini, terkadang menimbulkan kecemasan berlebihan. Tidak hanya cemas dengan kesehatan diri, kita juga dilanda kecemasan akan keberlangsungan ekonomi. Menyambut New Normal ada baiknya kita mulai memilah berita dan informasi yang dikonsumsi. Seperti sarannya Pak Dahlan Iskan dalam tulisannya, “sudah tidak ada lagi yang perlu Anda ketahui tentang Covid-19.”

Ya, hampir semua informasi seputar Covid-19, sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Jadi, rem sedikit semangat kita dalam berburu berita seputar Covid-19 agar tidak terjebak dalam pusaran kecemasan berlebihan. Sekarang saatnya untuk lebih selektif dalam memilih berita. Pilih berita-berita positif saja, hindari berita negatif dan HOAX.

Kedua, selalu ingat dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. New Normal bukan berarti kehidupan kita sudah benar-benar terbebas dari Covid-19. Virus ini masih ada dan masih menular dari satu orang ke orang lainnya. Disiplin menjalankan protokol kesehatan adalah salah satu ikhtiar yang mungkin kita lakukan agar terhindar dari penularan virus ini.

New Normal
Gambar 3. Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

Ketiga, selalu jaga imunitas tubuh. Covid-19 mengajarkan pada kita akan pentingnya imunitas tubuh. Banyak informasi kita terima dari berbagai sumber bahwa satu-satunya senjata tubuh untuk melawan infeksi virus Covid-19 adalah imunitas tubuh. Bagaimana cara menjaga imunitas tubuh? Tentunya sudah banyak informasi tentang ini kita dapatkan dari berbagai sumber. Yang pasti selalu jaga pola hidup sehat seperti makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan minum air putih yang cukup.

Keempat, selalu terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat di rumah. Tidak ada yang bisa menjamin anggota keluarga kita bebas dari infeksi Covid-19. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat menjadi keharusan

Kelima, disiplin menjalankan ibadah dan selalu berdoa. Sebagai makhluk beriman sudah seharusnya kita senantiasa untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Menyerahkan seluruh urasan dan harapan kita hanya pada Allah Swt. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi melainkan atas pengetahuan dan ketetapan dari-Nya.

Adaptasi kebiasaan baru di era New Normal ini adalah keniscayaan. Inilah cara terbaik kita untuk bertahan di tengah cekaman pandemi yang belum tau kapan berujung. Yuk terus beradaptasi dengan tatanan kehidupan yang baru! Tingkatkan terus kesadaran diri untuk mematuhi protokol kesehatan dan social distancing!

Referensi Gambar:
1. www.pixabay.com
2. www.kompas.com
3. www.pixabay.com
Continue reading Sudah Siapkah Untuk Beradaptasi dengan Kehidupan New Normal?

Wednesday, June 3, 2020

, , , , ,

Menyimak Pesan Pak Menteri di Live Streaming Rakornas Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2020

Rakornas Program Keluarga Harapan – Untuk pertama kalinya Rakornas Program Keluarga Harapan dilaksanakan secara daring. Ulah pandemi Covid-19 mengharuskan semua kegiatan mengumpulkan banyak orang ditiadakan, termasuk Rakornas PKH. Sehingga rakornas virtual pun menjadi pilihan untuk tahun ini.

Rakornas PKH
Gambar 1. Rakornas Program Keluarga Harapan

Menjelang tengah hari pada Rabu (03/06) sebuah pesan dari Koordinator Wilayah PKH Provinsi Riau masuk ke group PKH INHU. Sebuah pesan yang berisi instruksi pada seluruh SDM PKH agar mengikuti Rakornas PKH Tahun 2020 tersebut melalui Live Streaming Youtube Linjamsos pada pukul 14.00 WIB.

Sejak pandemi, kami memang lebih banyak Work From Home (WFH) karena berbagai kegiatan lapangan ditiadakan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Rabu siang inipun Saya mengikuti instruksi dari Pak Korwil dari rumah saja. Mengikuti live streaming Rakornas PKH melalui chanel youtube Linjamsos.

Dalam video live streaming Menteri Sosial Juliari P. Batubara didampingi Dirjen Linjamsos Pepen Nazaruddin dan Sesdiitjen. Linjamsos MO. Royani memberikan arahan dan membuka Rakornas PKH yang berlangsung secara daring melalui virtual zoom. Selain pejabat struktural Direktoral Linjamsos, Rakornas tersebut juga dihadiri secara virtual oleh para Koordinator Regional dan Koordinator Wilayah dari seluruh Indonesia.

Rakornas PKH
Gambar 2. Arahan Menetri Sosial RI Pada Rakornas PKH Tahun 2020

Adapun pesan-pesan yang berhasil saya tangkap dari arahan Pak Menteri dalam pembukaan Rakornas tersebut ada 5 (lima) poin, yaitu:

Pertama, Menteri Sosial menghimbau kepada seuluruh elemen dan SDM PKH agar senantiasa menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kesempatan sesuai dengan anjuran-anjuran pemerintah dan WHO. Seperti selalu menggunakan masker, mencuci tangan pakai sabun, menghindari kerumunan-kerumunan, meningkatkan daya tahan tubuh dengan tetap berolahraga serta mengkonsumsi makanan yang bergizi

Kedua, Kementrian Sosial sangat berharap banyak kepada para Korwil, Pendamping PKH dan Kepala Dinas Sosial sebagai ujung tombak pelaksanaan PKH di lapangan. Sebab, PKH bukan hanya menjadi perhatian khusus Kementrian Sosial, tapi juga menjadi perhatian khusus dari Bapak Presiden Republik Indonesia.

Dalam kesempatan itu Pak Menteri juga menjelaskan bahwa, seringkali dalam setiap kesempatan Presiden menanyakan tentang perkembangan PKH di lapangan. Dan Alhamdulillah perkembangannya baik, target-target semua bisa tercapai, baik dari target KPM maupun yang lainnya.

“Namun yang terpenting dari itu semua kita bekerja tidak sekedar mengejar target angka saja, tapi lebih dari itu. Yaitu kita ingin pastikan uang negara yang tidak sedikit ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh rakyat.” Pesan Pak Menteri lebih lanjut.

Beliau juga menekankan bahwa kerja kita di PKH adalah untuk melayani masyarakat, melayani rakyat yang membutuhkan.

Ketiga, salah satu dampak dari pandemik Covid-19 ini adalah meningkatnya angka kemiskinan. Peningkatan angka kemiskinan mencapai hingga 4%, dari yang awalnya berada pada kisaran 9,22% menjadi 13%. Peningkatan angka kemiskinan ini akan berdampak juga pada target-target PKH ke depannya.

“Tahun depan ada kemungkinan target penerima manfaat akan bertambah, dan kita harus siap dengan semua kemungkinan itu!” Tegas Pak Menteri.

Keempat, Menteri Sosial juga menyoroti banyaknya keluhan masyarakat tentang kurang tepatnya sasaran program. Ini menyangkut pemberitaan yang sangat masif di media sosial tentang foto-foto rumah yang sudah tidak layak menerima bantuan tapi masih menerima PKH dan ditempeli stiker keluarga miskin. “Ini perlu menjadi perhatian lebih!” tekan beliau.

Menjawab problem tersebut Pak Menteri meminta agar segera dibuatkan regulasi atau aturan yang memungkinkan pendamping merekomendasikan KPM yang sudah mampu tersebut agar segera dikeluarkan. Buat regulasi yang sesederhana mungkin, tidak perlu birokrasi yang terlalu rumit. Tujuannya adalah agar seluruh penerima manfaat PKH benar-benar keluarga yang paling berhak dan layak menerima manfaat PKH.

Kelima, mengenai Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) agar benar-benar dipegang oleh KPM. Pak Menteri tidak ingin lagi mendengar ada SDM PKH yang memegang kartu KKS. Kartu KKS adalah tanggung jawab KPM, jadi KPM lah yang berhak serta bertanggung jawab untuk memegang dan memanfaatkan kartu tersebut. Adapun tugas dari SDM PKH adalah mengedukasi KPM agar mau dan mampu menggunakan KKS tersebut secara baik dan benar.

Alhamdulillah video live streaming Rakornas Program Keluarga Harapan berdurasi 12 menit 28 detik tersebut berhasil dituntaskan. Lima poin pesan dari Pak Menteri ini sengaja Saya ikat melalui tulisan postingan ini. Sengaja diposting di sini agar menjadi pengingat bagi Saya pribadi sebagai SDM PKH, juga menjadi informasi tambahan bagi Sahabat Pembaca yang ingin mengetahui tentang PKH. Sebuah program bantuan sosial unggulan nasional dari Kementrian Sosial. Mohon doanya semoga kami SDM PKH di suluruh Indonesia bisa menjalankan amanah negara ini dengan baik.

Lain waktu, --semoga ada mood dan kesempatan-- Saya berniat ingin menulis lebih banyak tentang PKH. Sebagai salah satu wujud kecintaan saya pada pekerjaan sosia ini. Terimakasih.


Keterangan Sumber Gambar:

  1. Screen Shoot dari Chanel Youtube Linjamsos
  2. Screen Shoot dari Chanel Youtube Linjamsos
Continue reading Menyimak Pesan Pak Menteri di Live Streaming Rakornas Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2020