Skip to main content

Desember, Yuk Mulai Menulis Jurnal Syukur!

Jurnal Syukur - Ada juga yang menyebutnya Gratitude Diary, yakni sebuah catatan yang mendokumentasikan rasa syukur, rasa bahagia dan ungkapan cinta untuk diri. Saya sendiri pun baru mengenal aktivitas ini di medsos. Belakangan, beberapa penulis bahkan sudah menuliskannya dalam bentuk buku.

Gratitude Diary
Menulis Jurnal Syukur
(Gambar by Pixabay)

Serius, saya merasa telat banget mengenal aktivitas positif ini. Padahal, saya pernah menuliskan manfaat menulis rasa syukur bagi diri lebih dari sepuluh tahun yang lalu dalam sebuah antologi.

Ternyata, saya duluan tau teori tapi telat dalam aplikasi.

Oke, tidak masalah, yang penting mulai sekarang dimulai. Nah, untuk memulai sebenarnya tidak terlalu sulit. Cukup, menuliskan hal-hal positif yang dirasakan hari ini. Yang sulit adalah bagaimana konsisten menjalankannya setiap hari.

Cara Menulis Jurnal Syukur

Tidak ada aturan baku cara menulis jurnal syukur yang benar. Bebas saja kita mau menulis dengan gaya seperti apa dan bagaimana? Kitalah penentu mau dibikin seperti apa gratitude diary ini nantinya.

Menulis dalam bentuk pointerkah? Dalam bentuk narasi kah? Atau menulislah senyaman kita seperti layaknya kita curhat dalam diary.

Saya sendiri lebih memilih menulis dalam bentuk narasi layaknya buku diary. Menulis gratitude diary dengan gaya ini secara tidak langsung melatih keterampilan menulis kita. Terutama bagi teman-teman yang ingin jadi penulis, saya sarankan untuk menulis jurnal syukur dengan gaya ini.

Contohnya:

Subuh ini saya kembali berjuang agar tidak tidur lagi setelah sholat. Dari bangun tidur saya terus mengingatkan diri, "ayoo Neti, hari ini kamu tidak boleh kalah!"

Begitu selesai sholat saya langsung bangkit membereskan mukena dan sajadah. Tidak, tidak boleh duduk apalagi berbaring. Setelah itu, saya beranjak membuka semua pintu dan jendela. Memberi ruang pada udara pagi memasuki ruangan rumah. 

Wusss...udara segar berebut memasuki rumah, menghalau udara malam yang terkepung di dalam rumah.

Alhamdulillah, bisa melewati pagi dengan lebih baik. Golden time yang penuh berkah ini tidak boleh dilewati dengan tidur. Saya bahagia, bisa mengalahkan semua rasa malas dan kantuk yang menyerang begitu kuat di pagi hari.

Hari ini saya bahagia, karena bisa memulai hari lebih awal untuk menjemput rezeki Allah di bumi ini.

Sementara bagi teman-teman yang punya sedikit waktu, mungkin lebih cocok dengan metode pointer. Cukup menuliskan poin-poin rasa syukurnya saja. Lebih praktis namun tetap tercatat poin-poinnya.

Contoh:

1. Alhamdulillah pagi ini saya bisa memanfaatkan golden time pagi hari dengan maksimal tanpa tidur lagi setelah subuh.

2. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur hari ini bisa belajar banyak tentang pestisida nabati setelah menemukan kerusakan pada satu petak tanaman bayam akibat serangan hama.

Dan saya pun paham bahwa menulis jurnal syukur artinya kita belajar untuk menemukan kebaikan dalam setiap peristiwa. Menemukan kebaikan dari peristiwa buruk dan menemukan lebih banyak kebaikan dalam peristiwa baik. 

Manfaat Menulis Jurnal Syukur

Jurnal Syukur
Gambar by Pixabay

Ada banyak manfaat menulis jurnal syukur yang akan kita rasakan ketika dilaksanakan dengan konsisten. Berikut beberapa manfaat dari menulis jurnal syukur yang bisa kita rasakan, yaitu:

1. Meningkatkan kesehatan mental.

Kesehatan mental kita akan jauh lebih baik ketika rutin menuliskan rasa syukur setiap hari. Dengan menulis jurnal syukur, secara sadar kita menghadirkan kembali hal-hal positif yang ada dalam hidup kita. Kita pun bahagia, merasa berharga dan dihargai.

2. Melatih keterampilan menulis

Konsisten menulis gratitude diary artinya kita juga konsisten menulis setiap hari. Ada waktu yang diluangkan untuk mengingat, berpikir, menemukan hikmah dan merangkainya dalam kata demi kata setiap hari. Secara tidak langsung aktivitas ini akan melatih keterampilan menulis kita setiap hari.

3. Menemukan optimisme

Menulis jurnal syukur artinya kita sedang belajar untuk menemukan kebaikan dan hal-hal positif dari setiap peristiwa yang di alami. Setiap hari pikiran dilatih untuk berpikiran positif, positif dan positif. 

Dengan terlatih bersyukur kita semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari takdir Allah. Pasti ada hikmah, pasti ada kebaikan dari setiap peristiwa buruk sekalipun. Di sinilah kita akan menemukan optimisme bahwa akan selalu ada kebaikan di jalan hidup kita.

4. Lebih bahagia

Orang yang selalu beryukur, berpikiran positif dan optimis pastinya akan bahagia. Hatinya selalu dipenuhi oleh energi bahagia. Kebahagiaan itu akan terpancar pada wajah, sikap dan perilakunya.

So, teman-teman tertarik untuk menulis jurnal syukur?

Comments

  1. inspiratif mbak, ingin coba juga ah, sekalian refleksi diri setahun ini
    terima kasih ya

    ReplyDelete
  2. Aku juga lagi berusaha konsisten menulis jurnal syukur setiap hari. Kalau metode yang kupakai biasanya pake poin, jadi judulnya: 5 hal yang aku syukuri hari ini. Kadang, kalau hari lagi terasa beraaat, jurnal syukur ini bisa jadi pengingat untuk tetap bersyukur, dan bahwa di balik tiap kesulitan, ada banyak hal yang tetap bisa disyukuri. ^^

    ReplyDelete
  3. Benar-benar kegiatan yang positif ya.. kalau nulis di hp, bisa ga ya? Jadi, ga nulis di buku, gitu?

    ReplyDelete
  4. Baca tulisan kakak jadi ingat ini akhir tahun
    Jadi mau bikin jurnal syukur biar sekalian refleksi diri

    ReplyDelete
  5. terimakasih mbak, saya jadi pengen ikutan buat jurnal syukur....

    ReplyDelete
  6. Ehhh....pas banget. Aku juga baru bikin jurnal-jurnal untuk refleksi diri. Sekaligus luapan emosi juga daripada nyetatus gak jelas di sosmed. Salah satunya Jurnal bersyukur ini. Bagus loh untuk kesehata mental terlebih untuk orang yang rada introvert.

    ReplyDelete
  7. wah terimakasih mbak, jadi ingin rutin mmbuat jurnal syukur...menjadkn pikiran positif dn visioner k depan

    ReplyDelete
  8. Masya Allah. Jadi ingin menulis jurnal syukur.

    ReplyDelete
  9. Wah keren banget mba.. Saya juga sering nulis jurnal begini buat reminder diri sendiri

    ReplyDelete

Post a Comment

Tinggalkan Komen Ya!

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Belanja Buku di Gramedia.com

[AFF POST] Belanja Buku – Jadi ceritanya saya sudah lama banget pengen punya buku orang-orang biasa karya Pak Cik Andrea Hirata. Sudah searching di google untuk cek harga dan mencari olshop yang menjual, amun belum menemukan yang sreg untuk membeli buku ini.  Beberapa kali mencoba nitip sama teman-teman yang kebetulan lagi di Pekanbaru. Maklum, tinggal di pelosok daerah yang sulit menemukan toko buk yang lengkap. Ada sih beberapa kedai buku, namun buku yang dicari tidak ditemukan. Buku-buku terbitan terbaru memang butuh waktu untuk sampai ke sini. Kalau pun ada terkadang itu adalah buku-buku bajakan. Duh, sedapat mungkin saya berusaha menghindari membeli buku bajakan.

Cara Menyisipkan Halaman Landscape Diantara Halaman Portrait pada Dokumen Word

Coba perhatikan layout halaman pada dokumen word! Pada umumnya layuot halaman word itu seragam dari awal sampai akhir kan? Jika di awal kita setting landscape maka layout halaman sampai akhir akan tetap landscape. Dan sebaliknya, jika kita setting portrait maka sampai akhir halaman word itu akan tetap dalam layout portrait.  Lalu, bagaimana jika kita ingin membuat dokumen dengan layout yang berbeda dalam satu file word? Misalnya nih, di halaman awal kita menulis dokumen dengan layout portrait. Namun ketika sampai di halaman berikutnya kita harus membuat dokumen dengan layout landscape, karena berisi tabel yang memanjang ke samping misalnya. Apakah bisa disusun dalam satu file yang sama? Ataukah kita harus membuat file khusus untuk halaman yang berlayout lanscape ini? Tentu saja bisa! Sahabat pembaca, setting default dokumen word memang seragam dari awal sampai akhir. Namun, jika kita ingin membuat dokumen dengan layout portrait dan landscape secara bergantian juga bisa. Baga

Nasehat Kematian

Infografis Kabar kematian datang silih berganti tanpa mengenal hari. Seperti subuh ini kami kembali disentakkan oleh berita kematian. Malaikat izroil bekerja tanpa lelah, menjemput satu demi satu hamba Allah yang sudah menuntaskan rezekinya di bumi. Akhir-akhir ini ada rasa yang berbeda setiap kali mendengar berita kematian. Ada setitik pilu yang tak bisa digambarkan dalam bait apapun. Mengingat sudah demikian banyak waktu dan rezeki hidup dinikmati. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk menuntaskannya. Kabar kematian seakan mengingatkan diri bahwa pada suatu titik nanti saya akan berapa pada posisi yang sama dengan keluarga si mayit. Berduka sebab ditinggal orang yang dicintai. Pada suatu titik yang lain bahkan saya juga akan berada pada posisi yang sama dengan si mayit. Ditangisi, dimandikan, dikafani dan dikuburkan dalam liang lahan yang sempit. Allah, getir sekali membayangkan semua itu. Adakah diri ini siap menghadapi hari di mana semua kenikmatan dunia diputus?