Skip to main content

Tradisi Menuliskan Rasa Syukur untuk Kehidupan yang Lebih Sehat dan Bahagia



Resep sehat itu ternyata sederhana. Hanya dengan membiasakan tradisi-tradisi positif dalam hidup kita. Belakangan ini saya sedang berusaha untuk menerapkan tradisi sederhana sehabis sholat subuh. Bukan tradisi yang luar biasa sebenarnya. Sederhana saja. Habis sholat subuh, saya segera membereskan mukena kemudian mengambil sebuah buku dan pena. Selanjutnya, saya menulis di lembaran kosong pada buku tersebut.
Apa yang saya tulis?
Saya tidak menuliskan hal-hal yang berat. Saya hanya menuliskan hal-hal yang membuat saya bersyukur masih diberi kesempatan membuka mata hari ini. Saya menuliskan apa saja yang melahirkan setitik bahagia di hati. Saya menuliskan apa saja yang pantas saya syukuri, tanpa beban dan tanpa berpikir berat.

Contohnya:
  •   Alhamdulillah malam ini saya tidur dengan nyenyak
  • Terimakasih ya Allah masih mengizinkan saya menghirup nafas hari ini.
  • Kemaren berhasil menulis 2 artikel, alhamdulillah. Semoga hari ini bisa lebih
  •  Alhamdulillah pagi ini bangun sebelum azan, saya bisa sholat tepat waktu.
  •  Alhamdulillah, subuh ini diberi kekuatan untuk menulis. Biasanya habis subuh tidur lagi hehe… Semoga rezeki hari ini lebih melimpah dan berkah.

Ya, rasa syukur yang sederhana seperti itu saja yang saya tuliskan. Terkesan sederhana dan simpel kan? Tapiii, efeknya sungguh luar biasa. Setelah rutin menerapkan tradisi menuliskan rasa syukur setiap pagi, saya merasakan beberapa efek positif dalam hidup saya. Diantaranya yaitu:

Pertama: saya tidak lagi tidur habis subuh hehe… J *)tutup muka pake wajan :p
Ya, sebelumnya saya hobi sekali tidur habis sholat subuh. Rasanya kelopak mata ini beraaaat betul untuk dibuka. Bahkan tidak jarang saya tertidur di atas sajadah….upss :p Tapiii…, semenjak membiasakan diri menulis semua rasa syukur sehabis subuh kebiasaan itu jadi berubah. Saya tidak lagi tidur habis subuh. Melainkan, langsung memaksa diri untuk mengambil buku dan pena, kemudian menuliskan semua rasa syukur saya hari ini.

Kedua: saya merasa lebih bersemangat dan optimis menyambut aktivitas hari itu
Setelah puas menuliskan semua rasa syukur saya hari ini, biasanya saya langsung membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang masih terbengkalai. Saya percaya bahwa waktu-waktu setelah subuh adalah golden time, waktu-waktu emas. Saat yang paling tepat untuk mengerjakan hal-hal produktif untuk menjemput rezeki.
Karena menulis merupakan sumber penghasilan utama saya, maka menulis adalah aktivitas pilihan yang saya lakukan setelah subuh hingga matahari terbit. Setelahnya baru mengerjakan berbagai aktivitas rumah tangga yang tak kalah menyita waktu dan energi. Kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih, sholat dhuha dan kembali ke laptop hehe… Demikianlah rutinitas frelancer yang sering dianggap pengangguran ini J
Menuliskan rasa syukur membuat pikiran saya menjadi lebih refres dan ringan. Saya menjadi lebih bersemangat untuk melakukan rangkaian aktivitas demi aktivitas. Selalu optimis bahwa rezeki dari Allah selalu akan mengalir selama saya terus berusaha. Tidak peduli apakah bulan ini ada SPK yang ditanda tangani atau tidak. Tidak peduli apakah artikel yang saya tulis nantinya akan dimuat atau tidak. Yang penting saya sudah ikhtiar dengan maksimal, hasilnya biarlah menjadi ketetapan Allah. Saya yakin Allah Maha adil kok J

Ketiga: saya lebih enjoy menjalani hidup
Saya sekarang cenderung lebih enjoy, rileks dan tawakal. Mengapa? Karena setiap kali menginventaris hal-hal yang pantas saya syukuri setiap hari, saya merasa bahwa Allah begitu sayang sama saya. Disaat ibadah dan ketaatan saya masih secuil, Allah justru melimpahkan begitu banyak nikmat-Nya pada saya. Tidak jarang saya menemukan bahwa di balik setiap musibah yang saya alami ada hal-hal besar yang diselamatkan oleh Allah untuk saya melalui musibah tersebut. Jadi, masih pantaskah saya untuk mendustakan semua nikmat-Nya.
Jadi, sekarang saya cenderung lebih tenang ketika mengalami sebuah musibah. Saya berusaha melihat apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan Allah di balik musibah ini. Sehingga saya menjadi lebih enjoy menjalani hari demi hari. Karena saya yakin Allah hanya menginginkan yang baik-baik saja untuk saya.

Keempat: Saya merasa lebih sehat.
Semenjak rutin menuliskan rasa syukur dan meninggalkan kebiasaan tidur setelah subuh, saya merasa jauh lebih sehat. Biasanya kepala saya pusing ketika bangun pagi setelah tidur ronde kedua, alhamdulillah sekarang tidak lagi. Tubuh pun terasa lebih sehat karena setiap hari menghirup udara segar dan menyongsong matahari pagi dengan penuh semangat.
Dan taraaa…
Ternyata manfaat yang saya rasakan dari tradisi menulis rasa syukur secara rutin ini juga sudah dibuktikan secara ilmiah. Seorang profesor bidang psikologi dari Universitas of California, Amerika Serikat yaitu Prof. Robert Emmons merupakan pakar terkemuka dalam bidang penelitian “sikap syukur”. Dari beberapa hasil penelitiannya Prof. Emmons melaporkan bahwa seseorang yang setiap hari mencatat rasa syukur atas semua kebaikan yang diterimanya, cenderung akan lebih teratur berolah raga, jarang mengeluhkan gejala penyakit dan merasa bahwa secara keseluruhan kehidupannya lebih baik.
Sebagai seorang muslim saya pun meyakini akan janji Allah dalam Al quran:
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman: ‘sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Referensi: 
Sriherwanto, C. 2008. Temuan Ilmiah Modern, Syukur Menambah Nikmat. Majalah Sabili Edisi 05 TH. XVI. Hal: 50-53.
 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Belanja Buku di Gramedia.com

[AFF POST] Belanja Buku – Jadi ceritanya saya sudah lama banget pengen punya buku orang-orang biasa karya Pak Cik Andrea Hirata. Sudah searching di google untuk cek harga dan mencari olshop yang menjual, amun belum menemukan yang sreg untuk membeli buku ini.  Beberapa kali mencoba nitip sama teman-teman yang kebetulan lagi di Pekanbaru. Maklum, tinggal di pelosok daerah yang sulit menemukan toko buk yang lengkap. Ada sih beberapa kedai buku, namun buku yang dicari tidak ditemukan. Buku-buku terbitan terbaru memang butuh waktu untuk sampai ke sini. Kalau pun ada terkadang itu adalah buku-buku bajakan. Duh, sedapat mungkin saya berusaha menghindari membeli buku bajakan.

Beginilah Cara Allah Menghibur Kita

Suatu ketika kamu merasa beraaat banget mau datang ke acara taklim, tapi entah kenapa ada saja sesuatu yang akhirnya memaksamu untuk pergi. Ajaibnya di acara yang awalnya tak ingin kamu hadiri itu justru memberikan materi yang sangat menyentuh hati dan memberikan jawaban atas semua masalah-masalahmu. 

Cara Menyisipkan Halaman Landscape Diantara Halaman Portrait pada Dokumen Word

Coba perhatikan layout halaman pada dokumen word! Pada umumnya layuot halaman word itu seragam dari awal sampai akhir kan? Jika di awal kita setting landscape maka layout halaman sampai akhir akan tetap landscape. Dan sebaliknya, jika kita setting portrait maka sampai akhir halaman word itu akan tetap dalam layout portrait.  Lalu, bagaimana jika kita ingin membuat dokumen dengan layout yang berbeda dalam satu file word? Misalnya nih, di halaman awal kita menulis dokumen dengan layout portrait. Namun ketika sampai di halaman berikutnya kita harus membuat dokumen dengan layout landscape, karena berisi tabel yang memanjang ke samping misalnya. Apakah bisa disusun dalam satu file yang sama? Ataukah kita harus membuat file khusus untuk halaman yang berlayout lanscape ini? Tentu saja bisa! Sahabat pembaca, setting default dokumen word memang seragam dari awal sampai akhir. Namun, jika kita ingin membuat dokumen dengan layout portrait dan landscape secara bergantian juga bisa. Baga