Monday, May 24, 2021

, , , , ,

Menerapkan Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan Sebagai Ikhtiar Sayangi Bumi

Berapa banyak sampah makanan yang kita hasilkan setiap harinya? Di rumah kami kadang kala satu mangkok sampah makanan seperti di foto ini sudah teronggok di sudut dapur. Dan hal yang tidak jauh berbeda pastinya juga ditemukan di dapur rumah tangga lainnya. Kira-kira ke mana sampah makanan dari rumah-rumah kita akan berakhir?

Sampah Makanan (Food Waste)
Sejalan dengan semangat Bandung Food Smart City  dalam mewujudkan kota cerdas pangan dan bebas food waste, maka dalam postingan ini saya akan berbagi pengalaman sekaligus ikhtiar kami dalam mengurangi produksi sampah makanan di rumah setiap harinya. 

Sadar atau tidak setiap kita adalah produsen sampah. Sebab itu, setiap kita seharusnya bertangung jawab penuh dengan sampah yang kita hasilkan. Bagaimana agar setiap sampah yang kita hasilkan tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Ada Apa dengan Sampah Makanan?

Sebelumnya yuk kita sepakati apa yang dimaksud dengan sampah makanan. Menurut Food Agriculture Organization (2011) sampah makanan (food waste) merupakan makanan yang seharusnya bisa dikonsumsi oleh manusia namun karena alasan tertentu tidak terkonsumsi dan dibuang.

Sampah makanan, memang mudah terurai, namun jika menumpuk tetap saja bisa mencemari lingkungan. Sebagaimana dilansir dari laman kompas.tv (22/02/2021) tumpukan food waste berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu dampak global yang ditimbulkannya adalah terjadinya peningkatan pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca yang timbul dari proses pembusukan  sampah makanan.

Baca Juga: Bertahan dalam Kepungan Kabut Asap

Jadi, sampah makanan yang membusuk di tumpukan sampah akan menghasilkan gas metana yang mengeluarkan aroma busuk. Tidak hanya mengeluarkan aroma busuk, gas metana ini juga merupakan gas rumah kaca yang 21 kali lipat berpotensi meningkatkan pemanasan global. Nah, tak kalah bahayanya dibanding sampah anorganik bukan?

Sejenak kita intip angka-angka untuk membuka mata kita tentang betapa pentingnya untuk aware dengan sampah makanan ini.  Pertama, laman situs kompas.com melansir bahwa PBB memperkirakan 17 persen dari produksi makanan terbuang sia-sia atau dengan kata lain menjadi sampah. Hal ini berarti, ada sekitar 1,03 milyar ton makanan setiap tahun menjadi sampah. Dan masih menurut data PBB, 61 persen dari sampah makanan itu berasal dari rumah tangga.

Baca Juga: Ular Masuk Rumah Pertanda Apa Ya?

Kedua, menurut catatan dari Economic Intellegence Unit (EIU) tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai Negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia dengan total produksi sampah makanan sebanyak 300 kg/tahun per kapita (www.kontan.co.id).

Ketiga, Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa sampah makanan mendominasi komposisi semua jenis sampah yang dihasilkan  khususnya di beberapa regional seperti pulau Jawa  yaitu sebanyak 46,75 persen. (www.cimsa.ui.ac.id).

Angka-angka di atas bukan angka yang kecil kan? So, sudah saatnya kita peduli dengan dampak lingkungan akibat penimbunan sampah makanan. Tidak perlu berpikir jauh. cukup kita mulai dari hal terkecil dan terdekat yang kita bisa. Yakni lingkungan kita, rumah kita, atau bahkan diri kita sendiri saja dulu. Sebab, gunungan sampah pun awalnya bermula dari serpihan kecil yang dihasilkan oleh orang per orang.

Memulai Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan

Kontribusi yang mungkin kita lakukan saat ini untuk ikut mengurangi timbunan sampah makanan di lingkungan adalah dengan mulai menerapkan gaya hidup bebas sampah makanan dari rumah kita. Inilah cara terbaik yang harus dilakukan saat ini.

Infografis
Infografis Gaya Hidup Bebas Sampah

Menerapkan gaya hidup bebas sampah makanan memang sudah menjadi impian dan tekad saya dan suami dari awal menetap di rumah kontrakan ini. “Jangan pernah ada yang terbuang sia-sia,” itu selalu yang saling kami ingatkan satu sama lain.

Bagaimana gaya hidup bebas sampah makanan yang kami terapkan? Sederhana saja, tidak ada yang rumit. Kami hanya menerapkan hal-hal yang biasa dan mungkin dilakukan. Berikut adalah gaya hidup bebas sampah makanan yang kami lakukan sehari-hari.

Pertama: belanja makanan dan bahan makanan seperlunya

Kami membiasakan diri untuk belanja seperlunya, terlebih untuk urusan dapur. Membuat catatan kecil sebelum ke pasar menjadi rutinitas wajib.

“Bikin catatan belanja dulu,” pesan suami setiap kali mau ke pasar. Dia paham betul saya sering lapar mata kalau sudah ke pasar.

Catatan belanja kami buat sedetil mungkin. Tidak hanya memuat jenis belanjaan, tapi juga volume yang harus dibeli. Volume setiap jenis belanjaan dibuat sesuai dengan kebutuhan saja, tidak perlu berlebihan. Agar tidak ada bahan makanan yang terbuang menjadi sampah.

Kedua: habiskan makanan hingga butir terakhir

Dibesarkan di keluarga sederhana membuat kami terbiasa menghabiskan makanan tanpa sisa. “Elok batamboh dari pado takenyah,” begitu pesan orang tua selalu. Maksudnya, lebih baik mengambil makanan sedikit, jika belum kenyang tambah lagi. Dari pada ambil makanan banyak-banyak dalam piring kemudian bersisa.

Kebiasaan itu juga yang kami terapkan di rumah. Mengambil dan mengolah makanan secukupnya, untuk kemudian dikonsumsi sampai butir terakhir. Bahkan sampai ke kuah dan bumbu-bumbunya. Percayalah, nikmat sekali makan olahan sendiri dalam porsi secukupnya. Semakin puas dan bahagia menyaksikan olahan tangan kita habis tak bersisa setiap kali masak. Perut kenyang tanpa mubazir dan berlebihan.

Demikian juga ketika membeli makanan atau camilan yang diinginkan. Tak pernah malu beli satu porsi untuk dimakan berdua. Sebab, kami pernah kapok beli soto dua porsi makan di tempat, akhirnya kewalahan menghabiskan.

Ketiga: berbagi Makanan

Belanja dan masak seperlunya bukan berarti lupa arti berbagi. Terkadang kami juga mengolah makanan dalam porsi berlebih. Setiap kali dirasa makanan yang diolah berlebih, kami usahakan menyisihkan sebagian untuk tetangga atau saudara.

Alhamdulillah, di sini kami dikelilingi oleh tetangga yang baiknya masha Allah. Mereka begitu peduli dengan kami. Dalam satu pekan ada saja yang mengetuk pintu mengantarkan lauk, buah, kue dan lainnya. Bahkan tanpa kami minta beberapa tetangga sudah mempersilahkan kami untuk memetik buah dan sayur yang ada di halaman mereka kapan kami butuh. Masha Allah nikmat mana lagi yang pantas kami dustakan.

Baca Juga: Misteri Rezeki yang Wajib Kita Tau

Kebaikan tetangga-tetangga baru ini juga yang mengingatkan kami agar jangan pernah pelit berbagi. Karenanya, ketika kami merasa stok makanan kami kebanyakan, lebih dari yang dibutuhkan, kami segera mengirimkannya ke tetangga. Namun, kami sedapat mungkin menghindari untuk membagi makanan sisa.

“Berikan yang terbaik,” itu selalu pesan suami.

Jadi, sebelum dikonsumsi, makanan tersebut dsisihkan dulu untuk dibagi. Misalnya saya masak bubur kebanyakan. Maka sebelum mengambil porsi untuk dimakan, saya sisihkan sebagian untuk dibagi ke tetangga hingga tersisa porsi yang cukup untuk kami konsumsi berdua.

Keempat: menyiapkan tong kompos

Meski sudah berusaha untuk tidak menghasilkan makanan sisa, tetap saja ada sampah makanan yang dihasilkan. Sampah makanan itu berasal ada yang berasal dari sisa makanan, sisa bahan makanan yang tidak bisa dikonsumsi, bahan makanan yang busuk dan lainnya.

Tong Kompos di Sudut Rumah
Kami tetap berkomitmen, tidak boleh ada sampah makanan yang terbuang. Nah, solusinya untuk sampah makanan ini adalah dengan menyediakan tong kompos di sudut dapur.

Dari awal pindah ke kontrakan ini kami sudah menyediakan tong kompos. Tujuannya adalah untuk mengolah sampah-sampah makanan dan sampah organik lainnya yang ada di sekitar kami menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos padat. Selanjutnya, POC dan kompos padat dimanfaatkan untuk menyuburkan media tanam sayuran di halaman rumah.

Prinsipnya, semua yang berasal dari bumi harus dikembalikan ke bumi. Tidak boleh ada yang terbuang sia-sia.

Kelima: Berkebun di pekarangan

Berkebun di Pekarangan
Kriteria pertama yang kami tetapkan ketika mencari kontrakan adalah harus ada halaman yang bisa kami tanami. Tidak perlu luas, yang penting ada lahan di sekitar rumah kontrakan tersebut. Alhamdulillah, ditakdirkan mendiami kontrakan dengan halaman samping yang lebih dari cukup untuk ditanami kebutuhan sayuran sehari-hari.

Baca Juga: Mengenal Tanaman dan Khasiat Binahong

Mengapa harus menanam di pekarangan? Menurut hemat saya dengan menanam sendiri kebutuhan dapur kita bisa berswasembada pangan, minimal sayuran. Jadi, tumpukan stok bahan pangan seperti sayuran untuk diolah setiap minggunya bisa dikurangi. Kebutuhan sayuran dan bumbu kita tinggal panen di halaman, tidak perlu stok lagi. Tumpukan stok bahan pangan seperti sayur, bahan bumbu dan sebagainya tersebut  sangat berpotensi menjadi sampah ketika berlebih.

Inilah lima gaya hidup bebas sampah makanan yang sedang kami ikhtiarkan. Langkah sederhana  sayangi bumi yang juga mendukung program pengiritan pengeluaran bulanan hehehe... Ngirit sambil menerapkan prinsip hidup minim sampah mengapa tidak kan? So, bagaimana gaya hidup bebas sampah versi sahabat? Yuk sharing di komen!

Note: Tulisan ini diiktsertakan dalam Lomba Blog "Gaya Hidup Minim Sampah Makanan" yang diadakan oleh Bandung Food Smart City.

Referensi:

Ada 1,03 Miliyar Ton Makanan Terbuang Sia-sia Setiap Tahun Halaman all - Kompas.com

Bisnis sebagai jawaban masalah darurat sampah makanan di Indonesia (kontan.co.id)

Food Waste dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan – CIMSA UI

Masih Suka Buang-Buang Makanan? Stop Sekarang, Ini Bahayanya (kompas.tv)

SIPSN - Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (menlhk.go.id)

 

29 comments:

  1. AKu nih lagi ngumpulin informasi juga tentang penanganan sampah makanan di rumah, karena berasa banget sedihnya jadi kayak buang makanan belakangan. Ternyata kita pun bisa mengolahnya sendiri di rumah ya mbak.

    ReplyDelete
  2. Setuju. Habiskan makanan hingga butiran terakhir itu wajib deh. Mensyukuri nikmat dengan cara tidak membuang sisa makanan. Bisa juga berbagi makanan kan berpahala juga ya. Pengelolaan sampah rumah tangga ternyata kompleks juga menurutku. Sebab kita yang sudah apik memisahkan sampah organik dan non organik, eeeh si babang tukang sampah menyampurkannya kembali hahahah. Kurang koordinasi dan pengetahuan tentang sampah nih.

    ReplyDelete
  3. Di rumah juga anak-anak udah dibiasakan mengambil makanan secukupnya aja, gak perlu berlebihan. Mending nambah aja, dari pada ngambil kebanyakan dan tersisa.

    Pengen juga nih, nyoba nanam lagi di taman depan rumah. Dulu pernah nanam cabe dan bawang daun, tapi sekarang udah pada mati huhuhu

    ReplyDelete
  4. Pengin mbaa olah sampah giniii.. oia aku baru aja pakai menscup, baru berani setelah sekian lama nih. Supaya nggak nyumbang sampah pembalut lagi..
    Makasih sharingnya mbaa.. ku pun dulu diajarin makan sampai bersih 😁

    ReplyDelete
  5. saya juga yang termasuk sangat ketat soal makanan, sedih banget kalo liat makanan bersisa. kalo makan di luar, masih ada sisa, saya suruh anak bayar sendiri.

    ReplyDelete
  6. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengelola sampah di rumah. Soalnya saat menyisakan makanan sedikt aja, kalau tiap hari bisa numpuk juga.

    ReplyDelete
  7. Sampah makanan jadi bikin pengem nangis liatnya. Sebaiknya sih dipikirkan lg porsi penyajian. Jd gak kebuang kan.

    ReplyDelete
  8. sampah makanan ini yang masih banget jadi pe er, meski berusaha semaksimal mungkin agar gak banyak buang-buang sampah makanan

    ReplyDelete
  9. Rumahnya nyaman pisan mbak, bagus banget langkahnya untuk mengurangi sampah terutama sampah makanan ya.. Aku juga berusaha tidak membuang makanan, mubazir ya..

    ReplyDelete
  10. Aku udah coba yang pake ember kok aku ga tahan sama baunya yaaa.. ini sedang menggali lubang di samping rumah - eeeh ga tahan semut rangrang dan tikus!

    Ada solusi lainkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komposting anaerob memang menimbulkan bau mbak. untuk menghilangkan baunya bisa ditaburi dengan ampas kopi.
      Solusi lain gunakan komposter aerob, ember yang digunakan sebagai komposter dilobangi agar udara (oksigen) bisa masuk. Sehingga bakteri yg bekerja bakteri aerob, sehingga tidak menimbulkan bau tidak sedap lagi.

      Delete
  11. Aku juga sedang berusaha meminimalisir sampah makanan di rumah.. Kebetulan punya ternak ayam, jadi sisa makanan tuh ayam yang habisi hehe
    Kalo buat kulit2 buah sayur dan sampah biasanya kita juga buat pupuk jadi ga ada yang terbuang

    ReplyDelete
  12. Wah, inspiratif Mbak tips gaya hidup bebas sampahnya. Bisa aku adopsi nih, sayang di lingkunganku ga ada saling antar makanan...hahaha. Kaget pertama pindah dulu, ternyata memang gitu, ya udah paling berbagi ke penjual yang lewat, petugas sampah dan lainnya

    ReplyDelete
  13. Sedih mengetahui kenyataan ini : Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia.

    Semoga kesadaran masyarakat untuk meminimalkan sampah makanan makin meningkat ya, biar predikat Indonesia sebagai penghasil sampah makanan bisa menurun

    ReplyDelete
  14. Sepakat banget Mak Neti!
    Memang kita kudu berupaya optimal utk jalankan gaya hidup sehat
    dan meminimalisir produksi sampah ya.

    ReplyDelete
  15. aku sekarang juga sudah menerapkan gaya hidup minim sampah mbak, termasuk sampah makanan
    terus mengolah sampah makanan dgn menggunakan keranjang takakura dan felita

    ReplyDelete
  16. Iya ya mbak, ku jg bersyukur ada tukang sampah tu yg mempertaruhkan hidupnya utk sampah2 kotor heuheu
    Iya nih limbah rumah tangga khususnya sampah sebaiknya ditekan jd sesedikit mungkin ya, khususnya sampah makanan. Caranya dengan belanja kebutuhan secukupnya, serta masak dan makan sesuai kebutuhan jd gak banyak yang terbuang.

    ReplyDelete
  17. Ya Allah aku udah ngincar pengen ikutan lomba ini tapi tetap nggak terkejar waktunya soalnya masih sibuk mengurus baby. Padahal ini temanya suka banget.

    ReplyDelete
  18. pandemi bikin banyak banget sampah makanan ya kalau dipikir2 sedih juga rasanya makin banyak sampah makanan ini huhuhu
    emang masalah ini banget yang tadinya tak terpkir sekarang jadi kepikiran

    ReplyDelete
  19. Bijak bersampah ini menjadi kegiatan yang harus dijadikan kebiasaan dalam keluarga yaa, kak..
    Sejujurnya, aku masih sangat jauh sekali dari mengelola sampah yang baik.
    hiiks~

    Semoga perlahan keluarga kami bisa ikut bijak dalam menangani sampah sehari-hari.

    ReplyDelete
  20. Miris ya skrg banyak bencana banjir tp yang disalahin buminya. Harusnya kt intropeksi diri. Salah satu ikhtiar menjaga bumi adlh mengelolah sampah dengan tepat

    ReplyDelete
  21. Saya tuh suka kagum sama temen-temen yang sudah mampu dan mau mengelola sampah dan komposting. Semoga abis ini saya juga bisa ikutan.

    ReplyDelete
  22. Bagiku, membuat Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos menjadi pe-er besar. Pingin bikin beginian tapi belum ada izin dari keluarga. Padahal manfaatnya banyak, ya ��

    ReplyDelete
  23. Selama ini keluarga saya juga udah berusaha menerapkan gaya hidup minimal sampah ini tapi susah banget kalau pas lagi momen2 kumpul sama temen di rumah atau sama keluarga karena sampah plastik pasti jadi numpuk lagi. Tapi semoga suatu saat bisa ikut mengajarkan ke mereka juga dan pelan2 semua ikut menerapkan lifestyle minimal sampah yang sama.

    ReplyDelete
  24. Setuju dengan pesan orang tua kakak. Ambil secukupnya dulu, kalo kurang bisa nambah. Daripada ambil banyak tapi tidak habis dan jadi mubadzir

    ReplyDelete
  25. Wah, luar biasa sekali pengalamannya bisa bebas sampah makanan, ya. Aku sendiri masih kesulitan.Mau coba bikin bank samaph buat bikin kompos, nggak tahan baunya pas mau ngolahnya, akhirnya paling-paling itu sampah makanan kutaruh di belakang rumah, tiap malem ada yg ngabisin, entah tikus atau kucing liar.

    ReplyDelete
  26. Wah aku masih banyak Pr nih mba untuk urusan sampah rumah tangga terutama sampah makanan ini mba. Jadi malu baca artikel ini hehehe..

    ReplyDelete
  27. Ibuku dulu mengajarkan juga habiskan makanan ga boleh ada sisa. Selalu diimbuhi pesan, inget kere (orang miskin). Kebiasaan sampai sekarang dan diterapkan juga di keluarga sendiri.
    Sudah mulai sih, mencoba membuat kompos sendiri. Anakku yang rajin memilah-milah.
    Terima kasih artikelnya keren...

    ReplyDelete
  28. Wah, Mbak Neti rajin sekali, mengumpulkan sampah makanan untuk dibuat kompos. Saya masih belum terbiasa dengan aromanya, Mbak, jadi makanan sisa lebih sering diberikan untuk ikan di kolam hehehe

    ReplyDelete

Tinggalkan Komen Ya!