Skip to main content

Menggapai Kebahagiaan dengan Iman Dan Taqwa

Dokpri
Menggapai kebahagiaan dengan iman dan taqwa, demikian tema ceramah Wirid Gabungan Majlis Taklim se Desa Baturijal Barat (02/08) yang dilaksakan di Mushollah Nurul Yaqin Pengalian. Ceramah Agama diisi oleh mubaligh muda Ust. Syahroni dari desa Baturijal Hulu. Wirid Gabungan merupakan kegiatan pengajian rutin sebulan sekali yang dilaksanakan secara bergiliran oleh tiga masjlis taklim yang ada di desa Baturijal Barat yakni Majlis Taklim Melur, Dasa Wisma Wanita Kreatif dan Majlis Taklim Mekar Indah.  Wirid Gabungan Bulan ini dilaksanakan oleh Majlis Taklim Mekar Indah sebagai panitia pelaksana. Kegiatan wirid diawali dengan hafalan surat-surat pendek beserta saritilawahnya oleh ibu-ibu Majlis Taklim Mekar Indah.

Ustad Syahroni menyampaikan bahwa kebahagiaan merupakan ketenangan jiwa yang disebabkan oleh proses penanaman iman dan taqwa. Selanjutnya, beliau menjabarkan langkah-langkah untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu:

Pertama: Memiliki Iman dalam Dada.
Apa itu iman? Iman artinya percaya atau yakin, keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang diimani. Iman yang benar adalah iman yang diucapkan oleh lisan, dibenarkan oleh hati dan dilaksanakan oleh anggota badan. 

Bagaimana keimanan bisa melahirkan kebahagiaan? Hati yang beriman selalu percaya bahwa ada Allah yang Maha Mengatur kehidupan ini. Hati yang beriman tidak akan pernah khawatir akan kekurangan, karena ia yakin Allah Maha Mencukupi. Hati yang beriman tidak akan pernah takut dengan makhluk, karena ia yakin Allah Maha Melindungi. 

Keimanan yang kuat akan kekuasaan dan janji Allah, membuat hati kita tenang. Karenanya klo masih galau juga, yuk perbahurui keimanan kita pada Allah. Yakinlah bersama Allah semua menjadi mudah. Punya masalah sebesar gunung? Percayalah kita punya Allah yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Mudah bagi Allah mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Kedua: Ketaqwaan
Taqwa secara bahasa artinya adalah takut, dalam artian takut pada Allah Swt.  Taqwa juga bisa diartikan sebagai suatu sifat dalam diri manusia yang cenderung mengajak pada kebaikan-kebaikan. Taqwa merupakan buah dari keimanan. 

Orang yang bertaqwa cenderung taat dengan aturan-aturan Allah dan gemar berbuat kebaikan. Kebaikan-kebaikan yang ditanamkannya akan menarik banyak kebaikan dari sekelilingnya, sehingga hatinya tenang. 

Kegiatan wirid gabungan ditutup dengan doa dan sholat ashar berjamaah. Kemudian acara dilanjutkan dengan musyawarah untuk kegiatan peringatan 1 Muharam.

Comments

Popular posts from this blog

Puasa Syawal Atau Puasa Qadha Dulu?

Ini menjadi pertanyaan para muslimah di bulan syawal. Sekalipun sudah belasan bahkan puluhan kali melewati bulan Syawal, hal ini tetap saja menjadi pertanyaan di kalangan muslimah. Mana satu yang harus di dahulukan? Apakah puasa sunnah enam hari di bulan syawal ataukah membayar hutang puasa Ramadhan (Qadha)? Apakah sahabat blogger juga mempertanyakan hal yang sama?

Senyum di Wajah Mereka adalah Berkah Terindah yang Selalu Ingin Kumiliki

Apa yang kita cari dalam hidup kalau bukan kebahagiaan. Harta, pangkat, jabatan, pasangan, anak, dan semua yang kita perjuangkan hanyalah media untuk meraih kebahagiaan tersebut. Namun, kebahagiaan justru tidak lahir dari apa yang kita dapatkan. Akan tetapi, kebahagiaan  justru hadir dari apa yang kita bagikan. Ketika kita bisa melukis senyum di wajah orang lain, justru di sanalah senyum juga akan terukir di wajah kita. Ketika kita bisa memberi kebahagiaan pada orang lain, justru di sanalah kita akan merasakan bahagia. Dari sini aku menyadari bahwa berkah terindah dalam hidupku bukanlah ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu. Akan tetapi berkah terindah yang selalu ingin aku miliki adalah senyum terindah di wajah mereka. Senyum terindah yang terukir karena setitik kebaikan yang bisa aku berikan untuk mereka.
Senyum Di Wajah Kedua Orang Tuaku
Berkah terbesar dalam hidupku adalah ketika bisa melukis senyum di wajah kedua orang tuaku. Setiap jengkal perjuanganku tidak lain adalah untuk m…

Inilah 3 Alasan Mengapa Kita Harus Menyegerakan Kebaikan

Seringkali kita menunda-nunda amal baik dengan berbagai pertimbangan. Padahal peluang amal itu sudah terbentang di depan mata. Peluang pahala sudah menanti-nanti tangan kita untuk meraihnya. Namun, lagi-lagi karena berbagai alasan remeh peluang besar itu kita abaikan. Manusia memang mahluk yang lemah, sangat lemah. Hatinya mudah sekali dibolak-balikkan oleh sifat ragu-ragu. Langkahnya dengan gampang sekali dicekal oleh rasa malas, rasa takut dan tidak percaya diri. Sehingga, peluang besar, dan keuntungan menggunung raib begitu saja dengan sekejab. "niat baik itu jangan ditunda-tunda" petuah orang tua tua yang sering kita dengarkan.