Thursday, April 30, 2020

, ,

Bagaimana Seharusnya Etika Komunikasi di Media Sosial?

Etika Komunikasi di Sosial Media
Sumber: pixabay.com

Etika Komunimasi di Media Sosial – Siang hari saat puasa begini biasanya hari-hari terasa begitu panjang. Terlebih jika sepanjang hari dilewati #DiRumahSaja. Jenuh seringkali menyapa karena melewati aktivitas rumahan yang itu-itu lagi. Nah, di era digital dewasa ini berselancar di media sosial menjadi pilihan untuk menghilangkan kejenuhan sekaligus mencari inspirasi dan informasi.

Ya, penggunaan media sosial dewasa ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Berkomunikasi dan berinteraksi daring di media sosial sudah menjadi gaya hidup masyarakat milenial. Kecanggihan teknologi memberi ruang bagi para pengguna media sosial untuk saling sapa dan saling berbagi tanpa dibatasi sekat wilayah lagi. Media sosial membuat dunia yang luas menjadi begitu dekat. Media sosial membuat dunia hanya selebar layar gadget.

Seperti halnya di kehidupan nyata, komunikasi dan interaksi di media sosial juga berpotensi menimbulkan konflik-konflik sosial antar penggunanya. Tak jarang di medsos kita temui pertengkaran, saling sindir, adu pamer, bullying, provokasi, dan berbagai konflik sosial lainnya. Dan tidak jarang juga konflik yang berawal dari medsos terbawa juga ke dunia nyata atau sebaliknya. Nah untuk meminimalisir konflik-konflik tersebut, maka di sinilah peran penting Etika Komunikasi di Media Sosial.

Apa itu Etika Komunikasi di Media Sosial?

Etika Komunikasi di Media Sosial
Sumber: Pixabay.com

 Etika komunikasi bisa dipahami sebagai cara yang benar secara etika atau sopan santun dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sementara media sosial adalah sarana media daring yang digunakan untuk berkomunikasi dan saling berbagi informasi di era digital. Jadi, Etika komunikasi di media sosial bisa dipahami sebagai sopan santun dalam berkomunikasi dan berinteraksi yang perlu diperhatikan saat berkomunikasi dan saling berbagi informasi secara daring di era digital agar berlangsung nyaman dan terhindar dari konflik sosial yang mungkin terjadi.

Sekalipun tidak bertemu secara fisik, komunikasi di media sosial juga tidak lepas dari berbagai permasalahan dan konflik sosial. Tidak sedikit permasalahan dan konflik sosial yang kita temui di media sosial hingga berujung ke pengadilan. Sebut saja beberapa permasahan sosial yang viral belakangan ini, seperti penyebaran berita hoax, penipuan online, saling sindir, bullying dan masih banyak lagi. Tidak terkecuali konflik pribadi antar pengguna medsos yang berawal dari hal-hal remeh dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian berlanjut di sosmed.

Etika Komunikasi di Media Sosial yang Wajib Diterapkan


Di sinilah pentingnya kita memahami dan menerapkan etika komunikasi di media sosial. Penerapan etika komunikasi yang baik akan berdampak pada terciptanya komunikasi yang baik dan nyaman di media sosial. Kita semua tentunya menginginkan lingkungan sosial yan nyaman dalam berinterakssi termasuk di lingkungan daring bukan? Karena bagaimana pun interaksi kita secara daring juga akan berdampak pada hubungan sosial kita di luring sehari-harinya.
Baca Juga: Mombassador SGM Eksplor
Untuk itu dalam artikel ini secara khusus kita akan berbagi informasi tentang Etika Komunikasi di Media Sosial. Apa saja etika komunikasi yang penting kita jga selama berkomunikasi di media sosial? Berikut adalah beberapa diantaranya yaitu:

1. Perhatikan penggunaan kalimat dalam membuat postingan dan memberi komentar

Penyusunan kalimat dalam berkomunikasi di sosial media sangat penting. Sebab, susunan kalimat yang baik dan benar akan memberikan kenyamanan pada pengguna sosial media yang membaca postingan atau komentar kita. Gunakan susunan kalimat yang rapi, utuh dan gunakan tanda baca yang sesuai. Hindari penggunaan kalimat yang ambigu, karena hal tersebut berpotensi menimbulkan ambiguitas dan kesalah pahaman dalam memahaminya.

2. Hindari menyebarkan berita HOAX, Sara, Pornografi, Provokasi dan Aksi Kekerasan

Banyak berita dan informasi yang bertebaran di sosial media. Terkadang sulit bagi kita untuk membedakan mana berita yang benar dan mana yang tidak benar. Untuk itulah dalam bersosial media, penting bagi kita untuk menahan tangan agar tidak refleks berbagi berita atau informasi yang ditemui. Teliti terlebih dahulu kebenaran berita dan informasi tersebut sebelum dibagikan di timeline sosial media kita. Hal ini penting agar kita terhindar dari tindakan menyebarkan berita bohong atau HOAX.
Baca Juga: Rahasia Diapprove Google Adsense
Tidak hanya berita HOAX, kita juga perlu menahan jemari kita agar tidak menyebarkan konten-konten yang bertentangan dengan norma susila dan berpotensi menimbulkan konflik di lingkungan kita. Contohnya, konten-konten yang mengandung isu sara, pornografi, provokasi dan aksi kekerasan. Nah, jika menemukan konten-konten seperti ini sebaiknya segera diblokir dan dilaporkan sebagai konten bermasalah ke pengelola medsos agar tidak tersebar lebih luas dan dapat mengganggu kenyaman pengguna lainnya.

3. Hargai hasil karya orang lain

Di media sosial ada banyak konten-konten dalam bentuk tulisan, foto dan video yang tersebar. Namun, di balik konten-konten tersebut ada pihak yang bekerja untuk menghasilkannya. Salah satu etika komunikasi yang perlu dijunjung dalam bersosial media adalah menghargai hasil karya orang lain. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan mencantumkan hak cipta karyaatau sumber dari konten-konten yang kita bagikan di media sosial. Ini merupakan salah satu bentuk penghargaan kita terhadap pemilik karya tersebut.

4. Usahakan untuk senantiasa memberikan komentar yang relevan

Tidak jarang kita temui komentar yang tidak relevan di media sosial. Seperti promos jualan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan postingan. Hal ini tentu saja memberikan kesan tidak nyaman bagi pengguna media sosial, terutama pemilik postingan. Hindari juga memberikan komentar yang bernada provokatif dan dapat memancing perdebatan dengan pengguna medsos lainnya. Utamakan untuk memberikan komentar yang sopan, relevan dan menyejukkan.

5. Tidak terlalu mengumbar informasi pribadi

Media sosial adalah ruang publik digital yang bisa diakses oleh semua orang. Kita tidak pernah tau siapa saja yang akan mengkonsumsi informasi yang kita berikan. Kita juga tidak pernah tau, apa motif orang-orang dalam menggunakan media sosial. Tidak sedikit diantara mereka yang berselancar di medsos dengan tujuan-tujuan kejahatan. Oleh karena itu, sedapat mungkin hindari mengumbar informasi pribadi di media sosial. Bagi hal-hal umum yang aman dan perlu diketahui orang lain saja tentang kita.

Nah Sahabat Pembaca demikianlah lebih kurang etika komunikasi di media sosial yang perlu diketahui dan diterapkan oleh nitizen dalam berjejaring sosial. Semoga kita bisa menerapkan etika komunikasi ini dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Agar kegiaan bersosial media kita lebih sehat, nyaman dan menyenangkan. Mari gunakan media sosial secara bijak!

Referensi:
  1. https://zahiraccounting.com/id/blog/etika-dalam-media-sosial/
  2. https://pakarkomunikasi.com/etika-komunikasi-di-media-sosial
Continue reading Bagaimana Seharusnya Etika Komunikasi di Media Sosial?

Friday, April 24, 2020

, , ,

Ramadhan Dalam Balutan Pandemi Tetaplah Berwarna

Ramadhan dalam Balutan Pandemi
Sumber: pixabay.com
Ramadhan – Mengawali postingan ini dengan basmallah, bismillahirrohmanirrohiim. Bagaimana kabarnya Sahabat? Masih setia #DiRumahSaja kah? Ya, pilu pandemi ini telah memberikan warna berbeda untuk Ramadhan kita kali ini. Gegap gempita syiar Ramadhan terasa lebih sepi dari biasanya. Semua karena adanya pembatasan-pembatasan sosial di lingkungan kita. Semua kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang sedapat mungkin dihindari

Ada banyak tradisi dan syiar-syiar beragama yang akhirnya harus ditiadakan tahun ini. Seperti momen bukber yang ditunggu-tunggu, tahun ini ditiadakan dulu. Momen ngabuburit favorit anak muda di titik-titik istimewa harus dipindahkan di rumah saja untuk sementara ini. Momen taraweh dan tadarusan berjamaah di masjid pun harus kembali ke rumah masing-masing. Yang menanti-nanti momen sahur on the road juga harus kembali menikmati sahur sederhana bersama keluarga yang jauh lebih berharga tentunya.
Baca Juga: Puasa Syawal atau Puasa Qadha Dulu?
Duh terasa sangat berbeda yaa...? Rasanya banyaaak banget yang hilang dengan Ramadhan ini. Kita sudah terlalu terbiasa dengan tradisi-tradisi dan syiar-syiar tahunan yang dilakukan berulang-ulang dan dinanti-nanti. Dan, ketika semua itu dipaksa berhenti oleh pandemi, duh kehilangan banget! Warna Ramadhan seketika berubah dalam pandangan kita.

Namun bagaimana pun kondisinya, Ramadhan dalam balutan pandemi Covid-19 tetaplah berwarna.

Hari Pertama Ramadhan Masih #DiRumahSaja

Saya sendiri hari pertama Ramadhan masih #DiRumahSaja. Dari pertengahan bulan Maret, ketika darurat corona bermula kami sebagai SDM PKH diintruksikan untuk meniadakan segala bentuk kegiatan di lapangan, khususnya yang mengharuskan pengumpulan masyarakat seperti kegiatan rutin Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dan kegiatan verifikasi komitmen para peserta PKH.
Sumber: IG Kemsos
Sesuai instruksi Kementrian Sosial RI, SDM PKH seluruh Indonesia melaksanakan Work From Home (bekerja dari rumah) terkait kerja-kerja rutin bulanan meliputi pemukhtahiran data komponen Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan rekonsiliasi penyaluran melalui aplikasi e-PKH. Namun, yang namanya kerjaan lapangan yang melibatkan banyak stake holder, kami tetap saja tidak bisa full kerja dari rumah. Ada saja tugas yang menuntut untuk turun ke lapangan, seperti koordinasi dengan pihak Dinas Sosial, Kecamatan, Desa, Kelurahan dan Lainnya. Tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Sekarang memasuki hari pertama Ramadhan dalam balutan pandemi. Hari pertama Ramadhan ini masih #DiRumahSaja menyelesaikan proses entry pemuktahiran, melaporkan kendala pencairan bantuan dan pengaduan KPM semua dilakukan by system, by online dan by phone. Semua tetap bisa berjalan, semua tetap dalam kendali, semua tetap harus produktif meski hanya dijalankan #DariRumahSaja. Selebihnya, waktu dimaksimalkan untuk ibadah, melatih kemampuan menulis dan mengupgrade ilmu lain yang diminati secara online.

Yang jelas meski #DiRumahSaja kita tetap harus berkomitmen untuk produktif dan bermakna. Sebab, setiap detik waktu yang dilewati kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt.

Syiar Ramadhan Itu Masih Sangat Terasa sekali. Pembatasan sosial disebabkan darurat Covid-19 di setiap daerah berbeda-beda. Daerah dengan status zona merah tentunya menerapkan pembatasan-pembatasan sosial yang jauh lebih ketat dibandingkan daerah-daerah dengan status kuning dan hijau. Seperti daerah Jabodetabek, Bandung, Padang dan Pekanbaru yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tentunya pergerakan warganya jauh lebih dibatasi secara ketat.

Sumber: Pixabay.com

Bersyukur Saya tinggal di lingkungan yang tercatat berstatus zona hijau (aman). Berdasarkan data terakhir, tidak ada ditemukan kasus positif di Kabupaten ini (Indragiri Hulu) hingga hari ini, dan semoga demikian juga seterusnya. Tentunya kami di sini sangat bersyukur, namun tetap dihimbau untuk selalu waspada. Tetap menerapkan tindakan-tindakan pencegahan penyebaran Covid-19 yang disarankan seperti:
  • Menghindari kerumunan dan menerapkan Physical Distancing dengan disiplin.
  • Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir minimal selama lebih kurang 20 detik, terutama setelah menyentuh benda-benda di tempat umum.
  • Selalu menggunakan masker
  • Melaporkan setiap tamu atau anggota keluarganya yang baru datang dari luar daerah, terutama yang datang dari daerah zona merah ke aparat desa atau tim gugus tugas penanganan covid-19 setempat.
Meski berada di zona hijau, berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang juga dibatasi di sini tidak terkecuali kegiatan keagamaan. Namun, sejauh ini kegiatan ibadah berjamaah di masjid, terutama sholat wajib dan jumat masih berjalan sebagaimana biasa. Di bulan Ramadhan ini pun pelaksanaan sholat taraweh secara berjamaah di masjid dan musholla masih diizinkan. Sebagaimana dilansir dari laman halloriau.com (24/04/2020) hal itu didasarkan pada maklumat Bupati Indragiri Hulu nomor 76/Kesra/IV/2020 tentang pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri tahun 1441 H dalam suasana wabah Covid-19.

Dalam maklumat tersebut tercantum beberapa poin penting yang menjadi acuan bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah dan syiar Ramadhan di masa pandemi ini, yaitu:

Pertama, pelaksanaan ibadah sholat fardhu, taraweh, dan witir tetap bisa dilakukan secara berjamaah di masjid dan mushola dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam penanganan Covid-19.

Kedua, pengurus masjid dan musholla dihimbau untuk memperhatikan kebersihan lingkungan masjid, menggulung sajadah, membersihkan tempat wudhu, termasuk menyiapkan alat kebersihan termasuk cairan disinfektan.

Ketiga, untuk mencegah penularan dan penyebaran virus corona masyarakat diminta untuk membawa perlengkapan ibadah dari rumah masing-masing termasuk sajadah.

Keempat, masyarakat yang berstatus ODP dan PDP dilarang keras ikut melaksanakan ibadah di masjid dan mushola. Hal ini bertujuan untuk mengontrol dan mencegah penyebaran virus corona di masyarakat.

Kelima, ummat islam dihimbau agar menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan secara baik dan benar sesuai tuntunan fikh ibadah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Keenam, masyarakat dihimbau agar tidak melaksanakan sahur on the road, buka puasa bersama dan kegiatan berkumpul-kumpul lainnya. Demikian juga dengan kegiatan tilawah dan tadarus Al quran dilaksanakan di rumah masing-masing.

Ramadhan dalam Balutan Pandemi dengan Warna Baru yang Lebih Syahdu

So, di sini syiar Ramadhan tetap terasa kok meski sedikit berbeda tapi bukan berarti tidak berwarna. Memang sih banyak tradisi dan kebiasaan yang harus hilang di Ramadhan kali ini. Tapi percayalah itu hanya kulit pembungkusnya saja. Essensi ibadah Ramadhan yang sesungguhnya tetap masih utuh dan bisa kita reguk sepuas-puasnya. Bahkan, sunyi sebab pandemi kali ini seharusnya membuat kita semakin khusyuk untuk mereguk kenikmatan ibadah Ramadhan yang terhidang di bulan ini.
Baca Juga: Menggapai Kebahagiaan dengan Iman dan Taqwa
Kita boleh kehilangan keseruan bukber, tapi jangan pernah kehilangan kesempatan untuk memperbanyak doa di waktu-waktu menjelang berbuka. Justru ini kesempatan terbaik untuk semakin khusyuk bermunajat di waktu-waktu mustajab.

Kita boleh kehilangan indahnya momen tadarus bersama di masjid, tapi jangan pernah tinggalkan tilawah Al quran di rumah. Justru ini kesempatan untuk memperbanyak tilawah dalam sunyi.

Kita boleh kehilangan momen langka sahur on the road, tapi jangan pernah lewatkan keberkahan makan sahur walau di rumah saja. Justru ini saat yang tepat untuk memperbanyak istighfar dan munajat di waktu sahur.

Ya, Ramadhan berbalut pilu pandemi memang berbeda, tapi tetap berwarna. Ada warna baru yang ditawarkannya menggantikan corak warna sebelumnya yang terlalu gemerlap. Corak warna yang dihadirkannya kali ini memang tidak terlalu mencolok, tapi menyejukkan. Indah tanpa menghilangkan essensi ibadah Ramadhan itu sendiri.
Continue reading Ramadhan Dalam Balutan Pandemi Tetaplah Berwarna

Thursday, April 23, 2020

, ,

Tips Cerdas Agar Tetap Produktif Di Rumah

Produktif Di Rumah – Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillah kembali bisa menyapa Sahabat Pembaca melalui postingan blog. Masih dalam suasana darurat Covid-19 yang telah memberikan warna berbeda dalam kehidupan sosial kita. Adanya pembatasan-pembatasan sosial mengharuskan kita lebih banyak berada di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus corona di negeri ini. Aktivitas di luar rumah sedapat mungkin dibatasi hanya untuk keperluan-keperluan yang urgen saja.

#DiRumahSaja ataupun #WorkFromHome memaksa kita untuk pandai-pandai menyesuaikan diri. Suasana rumah pastinya berbeda jauh dengan suasana di tempat kerja. Bagi mereka yang sehari-hari beraktivitas di luar rumah, membawa tumpukan pekerjaan ke rumah adalah tantangan tersendiri. Jika tidak pandai-pandai menyesuaikan diri, bisa-bisa tumpukan pekerjaan yang di bawa ke rumah akan tetap menggunung. Karena kenyamanan berada di rumah seringkali membuat kita lalai dan menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya sudah diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.

Nah, tentunya kita ingin tetap produktif di rumah bukan? Masa-masa pendemi ini kita dituntut untuk tetap produktif walau #DiRumahSaja. Kita harus bisa mengkondisikan rumah tidak hanya sebagai tempat yang nyaman bersama keluarga, tapi juga sebagai tempat yang nyaman untuk bekerja dan berkarya. Kita percaya setelah musim pandemi ini berakhir kita menjadi pribadi yang baru. Yakni, pribadi yang bisa mengelola waktu dan tempat untuk selalu produktif! Nah, bagi Sahabat yang sedang berjuang menyesuaikan diri dengan suasana rumah, berikut adalah tips cerdas agar tetap produktif di rumah:

Pastikan Menyusun To Do List Harian dan Disiplin Menjalankannya



Jangan berharap bisa produktif di rumah jika hari-hari dilewati mengalir begitu saja tanpa perencanaan yang matang. Navigasi aktivitas harian dengan menyusun to do list harian dalam bentuk daily Schedule serapi mungkin adalah kuncinya. Buat target harian, petakan waktu sesuai peruntukannya. Mana waktu untuk keluarga, mana waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, mana waktu untuk ibadah dan mana waktu untuk menjalankan hobi. Susun to do list serapi dan serealistis mungkin, kemudian jalankan dengan disiplin.

Sahabat bisa meluangkan waktu di malam hari khusus untuk membuat mengevaluasi to do list hari ini dan menyusun to do list untuk hari berikutnya. To do list tidak harus dibuat dengan kaku, namun paling tidak setiap hari ada target-target harian yang berhasil diraih. Hari-hari menjadi lebih produktif dan tidak berlalu begitu saja tanpa makna.

Sudah punya gambaran untuk menyusun to do list harian?

Waspada dengan Teknologi Pencuri Waktu


Salah satu yang perlu diwaspadai saat #DiRumahSaja adalah keberadaan teknologi pencuri waktu. Teknologi ini sejatinya kita butuhkan untuk mempermudah berbagai aktivitas, sarana informasi dan sarana hiburan. Namun, jika tidak digunakan secara bijak justru akan mencuri waktu-waktu produktif kita.

Apa saja teknologi pencuri waktu itu? Yang paling dekat dan paling banyak menyita waktu kita adalah gadget? Hayoo jujur berapa jam sehari mantengin gadget selama #DiRumahSaja? Satu jam, dua jam, tiga jam atau bahkan berjam-jam? Hehe...inilah kondisi kita saat ini. Sang pencuri waktu itu sangat dekat dan selalu dalam genggaman kita. Seringkali tanpa sadar kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuka sosmed di gadget. Apalagi saat di rumah saja di mana tidak ada teman kerja atau bos yang mengawasi kita.

Solusinya apa? Tidak ada pilihan lain selain kita harus tegas dengan diri sendiri. Jauhkan gadget dari genggaman. Jika perlu, di waktu yang dijadwalkan untuk menyelesaikan pekerjaan tempatkan gadget di tempat yang tinggi atau tersembunyi. Pura-puralah sejenak untuk lupa dengan gadget. Jika mengharuskan penggunaan gadget untuk pekerjaan, gunakan gadget yang tidak terkoneksi dengan sosial media atau matikan paket datanya.

Teknologi pencuri waktu lainnya saat #DiRumahSaja adalah televisi. Kotak ajaib satu ini menjadi teman setia orang-orang yang berada di rumah. Sajian hiburan dan informasi yang dihidangkannya seringkali melenakan waktu kita. Tanpa sadar berjam-jam waktu sudah kita habiskan di depan televisi, sementara kerjaan rumah dan kerjaan-kerjaan lainnya masih menumpuk.

Karena itu kita wajib waspada dengan teknologi-teknologi pencuri waktu ini. Gunakan secara bijak dan sesuai dengan keperluannya. Tidak dinampikkan teknologi tersebut sangat diperlukan untuk menunjang berbagai aktivitas kita. Terutama aktivitas komunikasi dan mencari informasi yang diperlukan dalam menunjang pekerjaan kita. Jadi, ketika tidak mungkin bagi kita menghilangkannya dari kehidupan tidak ada pilihan lain selain menggunakannya secara bijak. 

Disiplin Menjaga Vitalitas Tubuh



Yes, tips selanjutnya adalah disiplin menjaga vitalitas tubuh. Bagaimana mungkin kita bisa menjalankan aktivitas dengan baik jika kondisi tubuh tidak fit bukan? Nah untuk itu disiplin menjaga vitalitas tubuh adalah suatu keharusan.

Ada beberapa hal yang perlu disiplin dilakukan untuk menjaga vitalitas tubuh ini, diantara yaitu:
  1. Konsumsi makanan bergizi, beragam dan berimbang. Pastikan asupan nutrisi bagi tubuh terpenuhi secara seimbang. Baik kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, hingga serat. Perhatikan isi piring kita setiap hari apakah sudah terpenuhi kebutuhan nutrisi-nutrisi tersebut?
  2. Minum air putih yang cukup.
  3. Olahraga secara teratur.
  4. Istirahat yang cukup, hindari stres dan selalu berpikiran positif.
  5. Hindari camilan instan yang tinggi kalori dan penyedap rasa.
#DiRumahSaja bagi sebagian orang cenderung membuat mood untuk ngemil meningkat. Akhirnya junk food dan camilan instan menjadi pilihan. Nah kebiasaan ini perlu diwaspadai nih, karena junk food dan camilan instan termasuk jenis makanan yang tidak disarankan untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Sebaliknya jenis makanan ini berpotensi mengganggu kesehatan tubuh.

Miliki Waktu Berkualitas Bersama Keluarga

#DiRumahSaja adalah kesempatan berharga untuk meningkatkan bounding dan kebersamaan dengan keluarga. Mari dimanfaatkan kesempatan baik ini untuk meningkatkan keakraban dengan pasangan, anak, orang tua dan anggota keluarga lain di rumah kita. Diantara tumpukan pekerjaan yang dibawa ke rumah, sisipkan waktu berkualitas untuk bercengkrama dengan keluarga.

Ada banyak momen yang bisa menjadi waktu spesial untuk meningkatkan keakraban bersama keluarga. Seperti waktu makan bersama, waktu ibadah bersama, dan waktu bersantai bersama. Jadikan waktu-waktu tersebut sebagai waktu spesial dan berkualitas bersama keluarga. Sepakati dengan semua anggota keluarga bahwa di waktu-waktu tersebut semua anggota keluarga wajib hadir bersama dan meninggalkan aktifitas pribadi.
Baca Juga: Yang Datang Di Awal Pandemi
Kebersamaan dengan keluarga akan menjadi lebih berkualitas ketika semua anggota keluarga saling ngobrol dan bercengkrama satu sama lain tanpa menggenggam gadget. Nah, hiasi waktu berkualitas bersama keluarga tanpa gadget. Tinggalkan gadget sejenak di kamar dan berkumpullah bersama keluarga. Percayalah tanpa gadget kebersamaan dengan keluarga akan terasa lebih manis, sesingkat apapun waktu yang kita sisihkan untuk berkumpul.

Nah inilah Tips Cerdas Agar Tetap Produktif di Rumah ala saya, bagaimana dengan sahabat? Yuk sharing di komen!
Continue reading Tips Cerdas Agar Tetap Produktif Di Rumah

Sunday, April 19, 2020

, , , ,

Inilah yang Diajarkan Covid-19 Selama #DiRumahSaja




#DiRumahSaja - Hari-hari belakangan ini terasa begitu berbeda. Terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan zona merah Covid-19. Sebagaimana dimaklumi, penyebaran wabah Covid-19 terus meningkat akhir-akhir ini. Berbagai rekayasa sosial dilakukan untuk memutus rantai penyebaran wabah ini di masyarakat. Aktivitas warga dibatasi dan dihimbau untuk tetap di rumah saja.

Tetap di rumah sekilas terdengar menyenangkan. Bisa leyeh-leyeh, rebahan dan bermalas-malasan. Tapi itu cuma menyenangkan jika dilakukan satu dua hari. Kalau sudah berhari-hari, siapa yang bisa menjamin itu menyenangkan. Baru satu minggu dipaksa untuk tetap #DiRumahSaja, sudah banyak keluhan bertebaran di medsos. Hal ini membuktikan bahwa tidak banyak yang bisa menikmati hari-hari #DirRumahSaja. Terutama bagi mereka yang produktivitas hariannya adalah di luar rumah.

Tagar #DiRumahSaja semakin tranding akhir-akhir ini. Memang itulah ikhtiar terbaik yang bisa dilakukan saat ini untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Mau tidak mau kita harus memaksa diri untuk tetap #DiRumahSaja dan menyerap pelajaran-pelajaran berharga yang disuguhkan bersamanya.

#DiRumahSaja Tetap Harus Produktif




Berhari-hari kita dipaksa untuk tetap di rumah saja. Ini adalah sebuah tantangan berat yang harus dilewati dengan bahagia. Tetap #DiRumahSaja jangan sampai membuat kita mati gaya dan tidak produktif. #DiRumahSaja harus tetap produktif dong!

Mungkin bagi Sahabat yang terbiasa produktif di luar, #DiRumahSaja adalah pilihan yang tidak mudah. Namun Covid-19 telah memaksa kita untuk belajar agar tetap produktif walau #DiRumahSaja. Ya, kesempatan di rumah saat ini bukanlah leha-leha. Ini adalah waktu produktif kita. Bagi yang dirumahkan dan harus work from home, waktu di rumah tetap harus kerja sesuai jam kerja kantoran seperti biasa. Hanya tempatnya saja yang sekarang berpindah dari kantor ke rumah. Sedangkan bagi mereka yang dirumahkan atau merumahkan diri karena tidak bisa bekerja selama masa karantina, maka mau tidak mau harus putar otak. Cari ide, bagaimana agar bisa tetap produktif dan menghasilkan selama #DiRumahSaja.

Stop ngeluh, stop ngomelnya, sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan keadaan. Ini adalah ujian yang harus dilewati bersama meski dengan jalan berbeda. Kita manusia makhluk yang dibekali dengan beragam potensi. Sekaranglah saatnya kita menggali semua potensi yang terpendam oleh kenyamanan hidup yang dijalani selama ini. Terkadang kita memang butuh tekanan untuk melahirkan potensi-potensi yang terpendam. Nah, boleh jadi sekaranglah saatnya!

Membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)



Wabah covid-19 telah mengajarkan pada kita tentang pentingnya membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu PHBS yang sangat ditekankan di musim wabah ini adalah mencuci tangan dengan sabun. Dalam banyak kampanye pencegahan penyebaran covid-19 masyarakat dihimbau untuk selalu mencuci tangan dengan sabun secara rutin. Terutama setelah menyentuh benda di tempat umum, sebelum masuk rumah, sebelum mengolah makanan, sebelum makan dan lain-lain.

Tidak hanya mencuci tangan dengan sabun, wabah covid-19 juga mendidik kita untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, mengkonsumsi makanan bergizi, olahraga secara teratur dan rutin berjemur di bawah sinar matahari. Keganasan virus corona telah membangkitkan kesadaran kita agar lebih perhatian dengan kesehatan tubuh dan keluarga. Kita berlomba-lomba dan saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Mikroorganisme ini benar-benar telah meneror kelalaian kita pada PHBS dan pola hidup sehat yang sering dikampanyekan oleh tenaga kesehatan. Kita sering abai untuk mencuci tangan dengan sabun, suka makanan cepat saji tanpa peduli dengan kandungan gizinya, malas olahraga dan malas terpapar sinar matahari. Kehadiran covid-19 seketika menampar kelalaian kita. Selama #DiRumahSaja kita diajak untuk membudayakan PHBS dan pola hidup sehat untuk mempertahankan kesehatan keluarga dari keganasan covid-19.

Lebih Dekat dan Perhatian dengan Keluarga



Hampir satu bulan covid-19 memaksa seluruh anggota keluarga berkumpul #DiRumahSaja. Anak-anak diharuskan belajar di rumah, begitu juga para pekerja diharuskan bekerja dari rumah. Otomatis yang biasanya hari-hari disibukkan dengan kegiatan masing-masing di luar rumah, sekarang dikumpulkan di ruangan yang sama meski dengan aktivitas berbeda. Namun waktu bersama keluarga yang dulu hilang sekarang sudah pulang. Inilah saatnya kita diajarkan untuk lebih dekat dan perhatian dengan keluarga.

Bagaimana tidak? Anak-anak yang sehari-harinya belajar dengan guru di sekolah dan tempat les, hari-hari ini diharuskan belajar bersama orang tua. Banyak yang bisa menikmati tradisi baru yang tercipta selama pandemi ini dan tidak sedikit pula yang stress menjalaninya. Namun semua ini adalah kondisi terbaik yang dihadirkan untuk mendidik kita menjadi pribadi yang lebih aware dengan keluarga. Lebih perhatian dengan pendidikan anak-anak. Mengenal secara langsung kesulitan dan perjuangan anak dalam menuntu ilmu di bangku pendidikan. Bukankah ini pelajaran yang sangat berharga yang dihadirkan bersama musim pandemi ini?

Semangat Saling Berbagi dan Peduli

Pelajaran positif lain yang begitu dirasakan selama pandemi ini adalah tumbuh suburnya semangat saling berbagi dan peduli. Dampak ekonomi wabah virus ini begitu dirasakan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Terutama golongan masyarakat menengah ke bawah. Seruan #dirumahsaja menyebabkan banyak yang harus kehilangan pekerjaan, kehilangan sumber penghasilan, hingga omset usaha yang terjun bebas.

Pada dasarnya hampir semua pihak merasakan dampak ekonomi dari wabah covid-19 ini. Namun, yang paling merasakan tentu saja masyarakat golongan menengah ke bawah yang dalam kondisi normal pun kehidupan mereka serba pas-pasan. Bersyukur kita terlahir di negeri yang terkenal dengan semangat gotong royong dan kebersamaannya. Di masa-masa sulit ini rasa kemanusiaan, semangat saling berbagi dan peduli kita benar-benar diuji. Mampukah kita untuk berbesar hati saling peduli di saat kita sendiri pun sebenarnya juga sedang membutuhkan?
Baca Juga : Tidak Ada yang Benar-benar Gratis
Wabah Covid-19 telah mengetuk nurani kita untuk saling berbagi dan peduli. Tidak lagi semata memikirkan kepentingan dan mimpi-mimpi pribadi yang tak kunjung usai. Sejenak kita diminta untuk memberi jeda pada diri dan mengalihkan fokus pada orang lain. Ada banyak jiwa yang membutuhkan perhatian kita. Semoga kesulitan yang hadir bersama wabah pandemi ini mampu mendidik kita menjadi pribadi yang peduli dan ringan berbagi.

Ya, ada begitu banyak pelajaran berharga yang dihadirkan bersama kedahsyatan wabah ini. Nah Sahabat, pelajaran apa yang berhasil sahabat serap selama pandemi ini? Yuk saling berbagi di komen
Continue reading Inilah yang Diajarkan Covid-19 Selama #DiRumahSaja

Friday, April 17, 2020

, ,

Yang Datang Di Awal Pandemi



Sumber: www.pixabay.com
Isu pandemi sudah merebak kala semua ini bermula. Negeri yang bahagia ini masih tetap santai dan percaya diri bahwa pandemi tidak akan menyapa. Masyarakatnya yang sudah terbiasa hidup santai, kurang peduli dengan budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehata (PHBS) yakin kebal dengan serangan virus mematikan itu.

Kala itu, kita pun masih khusyuk dengan diskusi daring. Saling bertanya dan melempar informasi yang dibutuhkan. Membahas banyak hal untuk memperkuat keyakinan bahwa ada masa yang akan mempertemukan untuk mempersatukan jalan yang selama ini dilewati masing-masing.

Masa-masa diskusi daring pun berlalu dengan sebuah tekad dan janji bahwa pembicaraan serta ikhtiar akan berlanjut di luring. Sementara wabah pandemi mulai menyapa negeri yang tadi begitu yakin bahwa warganya kebal dari serangan virus. Mr. Presiden pun mengabarkan bahwa dua orang warganya positif terinfeksi virus yang berasal dari negeri Cina tersebut. Seketika Republik +62 gempar!

Seiring waktu sang virus mulai menjadi pembicaraan dan perhatian serius warga +62. Mikroorganisme itu kemudian dikenali dengan nama keren Covid-19. Kehadirannya dinegeri khatulistiwa, seketika mengubah begitu banyak tatanan kehidupan warganya. Tidak hanya bidang kesehatan, bidang-bidang kehidupan lainnya seperti ekonomi, pendidikan dan lainnya ikut terpengaruh.
 
Sumber: www.pixabay.com
Sekolah-sekolah diliburkan, pekerja kantoran dirumahkan, pasar-pasar ditutup, pergerakan manusia dibatasi, orang-orang dilarang berkumpul. Semua harus jaga jarak dan menerapkan protokol PHBS dalam berbagai kesempatan. Suasana kehidupan masyarakat berubah drastis, terutama di kawasan zona merah.

Bersyukur daerah kita masih berada dalam kawasan zona hijau. Meski ikut terpengaruh, namun tidak seekstrim yang dilihat di berita-berita televisi. Di sini, masjid masih ramai, pasar masih dibuka, orang masih bebas kemana-mana. Meski sekolah-sekolah sudah pada diliburkan dan anak-anak mulai belajar di rumah.

Di awal pandemi inilah tekad dan kesungguhan itu dibuktikannya. Sempat meragukan karena beberapa kali dipending. Namun di awal merebaknya pandemi di negeri ini, tekad itu betul-betul dibuktikan. Tanpa pengawalan maupun teman, di bawah lebatnya hujan langkah kakinya sampai juga di beranda rumah. Sendirian saja melewati ribuan kilometer, senyumnya menyapa seisi rumah. Ucapan salam yang menyapa di sore itu seketika meruntuhkan semua keraguan yang selama ini menggelayuti hati.

Tidak lama bertandang, namun cukup untuk menguatkan tekad bahwa jalan ini harus disatukan. Menjelang azan magrib ia kembali berlalu membawa tekad yang lebih bulat untuk mewujudkan apa yang diniatkan dari awal. Sementara berita tentang perkembangan wabah pandemi Covid-19 terus bergulir dan semakin mengkhawatirkan. Hari-hari selanjutnya, kita terus disuguhi ragam berita senada yang terus diulang-ulang.
 
Sumber: www.pixabay.com
Sempat terbersit ketakutan di hati wabah pandemi akan menghalangi semua niat baik yang sudah tertanam di hati. Ah, tapi kita tidak boleh kalah oleh wabah ini. Kita harus berjuang untuk menang dan segera keluar dari cekaman wabah menakutkan ini. Sebelumnya kita sudah pernah melewati berbagai bencana di negeri ini dan alhamdulillah bisa melewatinya dengan baik. Percayalah sekarang pun kita pasti bisa melewati badai ini. Kuncinya disiplin dan ikuti arahan dari pemerintah sebagai pihak yang mengomandoi perjuangan melawan Covid-19.

Yakin kita bisa melewati pandemi ini. Percaya Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan kita. Mari kita lewati masa-masa penuh ujian ini dengan bahagia. Yakin masa sulit akan berlalu dan berganti dengan kemudahan demi kemudahan.

Beberapa bulan ke depan adalah masa kita untuk memperbanyak doa, memohon agar dibukakan jalan terbaik oleh-Nya. Mempersiapkan bekal dan mental untuk melewatinya. Mulai membuat to do list apa-apa yang dibutuhkan dan melakukan apa-apa yang harus dilakukan saat ini. Perlahan namun pasti langkah ini akan terus diayunkan.

Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di depan sana. Tidak ada yang bisa menjamin semua akan berjalan sesuai dengan yang dipetakan. Tapi kita selalu percaya bahwa Allah Maha Baik dan rencana-Nya selalu lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Berbaik sangka dan terus berharap pada-Nya, itu saja modal terbaik kita saat ini. Selalu yakin Allah akan mewujudkan lebih dari apa yang kita pinta. Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’mannasiir. Laa haulawala kuwata illa billah!
Continue reading Yang Datang Di Awal Pandemi