Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

Khayalan-khayalanku Tentang Rumah Impian

Boleh dibilang aku adalah anak rumahan. Senang sekali tinggal di rumah. Bagiku rumah adalah tempat yang paling nyaman dan menyenangkan. Namun, di rumah bukan berarti aku tidak menghasilkan apa-apa. Justru di rumahlah aku bekerja untuk menjemput rezeki dan menghasilkan berbagai karya. Karenanya, aku selalu berkhayal untuk membangun sebuah rumah impian. Aku membayangkan di rumah impian tersebut nantinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sedang saja. Dilengkapi dengan ruangan-ruangan sebagaimana rumah pada umumnya, namun ada satu yang membedakan rumah impianku dengan rumah-rumah lain. Yaitu memiliki ruangan khusus seluas minimal 4 x 4 meter sebagai ruang karya. Nah, ruangan ini akan menjadi tempat bagiku untuk merenung, mencari ide, menulis dan menghasilkan karya-karya positif bersama notebook mungil yang selalu setia menemaniku. Tidak hanya itu, Aku juga berkhayal di ruangan itu saya tidak ingin sendiri. Aku ingin mengajak perempuan-perempuan lain berkarya di sana. Ya, Ak

Tradisi Menuliskan Rasa Syukur untuk Kehidupan yang Lebih Sehat dan Bahagia

Resep sehat itu ternyata sederhana. Hanya dengan membiasakan tradisi-tradisi positif dalam hidup kita. Belakangan ini saya sedang berusaha untuk menerapkan tradisi sederhana sehabis sholat subuh. Bukan tradisi yang luar biasa sebenarnya. Sederhana saja. Habis sholat subuh, saya segera membereskan mukena kemudian mengambil sebuah buku dan pena. Selanjutnya, saya menulis di lembaran kosong pada buku tersebut. Apa yang saya tulis? Saya tidak menuliskan hal-hal yang berat. Saya hanya menuliskan hal-hal yang membuat saya bersyukur masih diberi kesempatan membuka mata hari ini. Saya menuliskan apa saja yang melahirkan setitik bahagia di hati. Saya menuliskan apa saja yang pantas saya syukuri, tanpa beban dan tanpa berpikir berat. Contohnya:   Alhamdulillah malam ini saya tidur dengan nyenyak Terimakasih ya Allah masih mengizinkan saya menghirup nafas hari ini. Kemaren berhasil menulis 2 artikel, alhamdulillah. Semoga hari ini bisa lebih   Alhamdulillah pagi ini bangun s

Konsumsi Lalapan, Tradisi Baik yang Menyehatkan

  Keluarga kami adalah pecinta lalapan. Mulai dari Bapak yang sangat tergantung pada lalapan. Sayur menjadi tidak terlalu penting jika di meja makan sudah ada lalapan. Jika ingin melihat Bapak makan dengan lahap, maka sediakanlah lalapan. Maka nasi satu piring akan ludes dalam sekejap. Kebiasaan ini ternyata menular pada ibu, saya dan adek-adek. Boleh dibilang, keluarga kami adalah keluarga pecinta lalapan.  Sepiring Lalapan untuk Makan Malam Asyiknya, kami sekeluarga tidak pilih-pilih jenis lalapan yang dikonsumsi. Jenis lalapan apapun kami suka. Mulai dari yang umum dan sering djual di pasar seperti daun kemangi, kol, selada, dan ketimun. Hingga jenis lalapan lain yang jarang dijual di pasar seperti daun pepaya, daun jambu dan daun marpoyan yang masih muda juga dijadikan lalapan. Bahkan, jika tidak ada daun-daunan tersebut sebagai lalapan, teron rimbang dan cabe muda juga oke dijadikan lalapan. Daun Pepaya Muda Lalapan Favorit Bapak Kebiasaan mengkons

Memasyarakatkan Jamu dengan Lisan dan Tulisan

Sejatinya, saya termasuk orang yang terlambat tertarik dengan jamu. Mungkin, karena saya hidup di lingkungan keluarga yang tidak dekat dengan tradisi minum jamu. Kalaupun mengkonsumsi jamu itu bukan dari ramuan sendirian. Melainkan, membeli dari mbak-mbak bakul jamu gendong yang rutin datang seminggu sekali di depan rumah. Perkenalan paling mengesankan dengan jamu adalah saat masih duduk di sekolah dasar. Kala itu sedang ngetren jamu ‘buyung upik’ yaitu jamu yang rasanya lebih manis –karena diberi campuran madu yang banya-- khusus untuk anak-anak. Saya tidak tau pasti apa khasiatnya. Tapi yang jelas waktu itu, saya suka sekali jika mbak jamu lewat depan rumah. Itu artinya saya bisa merengek minta dibelikan jamu ‘buyung upik’ pada ibu. Tradisi minum jamu ini tidak berlangsung langgeng. Begitu mbak-mbak jamu itu tidak pernah datang lagi, tradisi minum jamu keluarga kami juga berhenti. Padahal, di sekitar rumah kami sebenarnya tanaman obat yang bisa diolah menjadi jamu banyak te

Kami Menyebutnya Pohon Kehidupan

Ketika membaca tema GA ini --Aku dan Pohon--, aku sejenak berpikir. Apa yaa.. pohon yang paling berkesan dalam hidupku? Tiba-tiba ingatanku terpaku pada sosok pohon tanaman tahunan yang berbaris rapi di sebuah lahan seluas satu hektar. Lahan yang hampir setiap hari dikunjungi oleh sepasang bidadari dari mulai ditanami hingga hari ini. Setiap hari juga sepasang bidadari itu mendatangi satu demi satu pohon yang berbaris tersebut untuk menggoreskan ujung pisau bersiku ke kulit pohon untuk mengeluarkan cairan putih susu. Sejenak nafasku tiba-tiba sesak, mata berkabut menahan rasa haru yang tiba-tiba membuncah. Slide demi slide suka duka bersama barisan pohon dan sepasang bidadari itu, menari-nari di benakku. Kisah itu belum selesai, bahkan masih berlanjut hingga hari ini. Bagaimana, pohon yang tumbuh kokoh itu rela dilukai setiap hari untuk diambil cairan putih susu yang mengalir pada goresan luka itu. Bagaimana sepasang bidadari bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah dari ba