"Wah gak bener nih yang buang sampah sembarangan," celetuk Qiyya ketika kami melewati jalan di belakang pasar baru. Kawasan ini memang menjadi tempat pembuangan sampah tidak resmi. Banyak tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang dengan sengaja membuang sampah usaha dan sampah rumah tangga mereka ke sini. Celetukan polos dari balita 3 tahun ini mengingatkan saya bahwa edukasi tentang ekonomi sirkular Indonesia itu harus di mulai dari rumah dan sedini mungkin.

Apa Itu Ekonomi Sirkular?

Ekonomi sirkular merupakan model ekonomi yang memperpanjang siklus produk., layaknya siklus alam yang tidak menghasilkan sampah. Alurnya tidak lagi ambil, pakai, buang, tapi diputar terus jadi manfaat. Dalam konsep ekonomi sirkular sampah tidak lagi dipandang sebagai sumber masalah melainkan sumber daya yang terus berputar dan bernilai ekonomi, serta seminimal mungkin berakhir sebagai limbah.
Penerapan konsep ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga disederhanakan dalam konsep 3R yaitu Reduce, Reuse dan Recycle.
Reduce (mengurangi) : mengurangi penggunaan produk jadi yang berpotensi menjadi sampah.
Reuse (menggunakan ulang) : memanfaatkan kembali sumber daya, barang-barang, atau produk jadi baik dengan fungsi yang sama ataupun fungsi yang berbeda.
Recycle (mendaur ulang) : mengubah atau mendaur ulang sumber daya menjadi produk lain untuk bisa digunakan lagi dengan fungsi yang berbeda.
Celetukan Qiyya setiap kali melihat sampah yang dibuang tidak pada tempatnya menyadarkan saya bahwa anak sekecil itu pun sudah bisa diedukasi dan dikenalkan dengan konsep ekonomi sirkular, tentunya dengan cara-cara yang fun dan sesuai dengan usianya.
Saat ini Qiyya sudah paham bahwa membuang sampah sembarangan itu adalah tindakan yang tidak bagus. Artinya, Qiyya sudah tau tanggung jawabnya pada sampah. Nah, PR selanjutnya adalah mengedukasi Qiyya tentang cara memilah sampah dan mendaur ulang sampah sesuai usianya.

Edukasi Bertanggung Jawab dengan Sampah Sejak Dini

"Sampahku adalah tanggung jawabku." salah satu slogan yang dikenalkan dan ditanamkan pada anak sejak dini. Sedikit demi sedikit menata perilaku, menumbuhkan kesadaran dan mengajarkan pada anak tentang cara memilah sampah dan menempatkan pada tempat yang benar, mengurangi bahkan mendaur ulang sampah menjadi produk baru.
Di sini peran orang tua sangat penting dalam mengedukasi dan menata perilaku anak dalam mengelola sampah dengan bijak. Berikut adalah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di rumah untuk mengedukasi anak tentang pengelolaan sampah dalam konsep ekonomi sirkular:

a. Mengenalkan benda-benda sekitar

Usia 1-3 tahun adalah masa-masa emas untuk memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak. Pada rentang usia ini, menjadi momen emas bagi orang tua untuk mengenalkan benda-benda yang ada di sekitarnya. Kenalkan anak pada bentuk dan tekstur benda-benda yang ada di sekitarnya. Seperti daun, ranting, batu, pasir, kertas dan lainnya. Lakukan secara berulang-lang sehingga anak bisa membedakan bentuk dan tekstur benda-benda tersebut. Stimulasi ini nantinya akan mempermudah anak dan mengenal dan memilah sampah sesuai jenisnya.

b. Belajar lewat permainan

Mengedukasi anak usia dini tentunya berbeda dengan anak yang lebih besar. Kebiasaan dan kesadaran anak dalam memilah sampah perlu ditanamkan melalui cara-cara yang menyenangkan. Misalnya melalui metode permainan. Orang tua bisa membuat permainan siapa cepat memilah sampah sesuai jenisnya sebagai sarana untuk mengedukasi cara memilah sampah yang benar. 

c. Sediakan tempat sampah sesuai jenisnya

Sediakan beberapa tempat sampah di rumah untuk memisahkan sampah sesuai jenisnya. Misalnya tempat sampah organik, sampah anorganik, sampah kertas, sampah beling. Beri petunjuk visual pada masing-masing tempat sampah tersebut. Misalnya beri petunjuk warna atau gambar untuk memudahkan anak dalam mengenali tempat sampah yang sesuai jenisnya.

d. Beri apresiasi untuk setiap praktek baiknya

Jangan lupa berikan apresiasi setiap kali anak-anak melakukan praktek baik. Misalnya ketika anak benar memasukkan sampah ke dalam tempat sampah sesuai jenis berikan apresiasi dengan memberikan pujian atau hadiah kecil. Diharapkan dengan apresiasi yang tepat anak-anak melanggengkan praktik baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

e. Jelaskan konsekuensi, bukan hukuman

Ketika anak-anak belum melakukan praktik baik sesuai yang diharapkan, jangan dihukum tapijelaskan konsekuensi logis ketika dia tidak melakukan praktik baik tersebut. Misalnya, anak belum mau memilah sampah sesuai jenisnya. Jelaskan konsekuensinya ketika buang sampah tidak pada tempatnya. Lingkungan menjadi kotor, bau, tidak nyaman dan lainnya. Memberi pemahaman jauh lebih baik bagi tumbuh kembang anak dari pada memberi hukuman.

Edukasi tentang memilah sampah dan mengelola sampai harus dilakukan secara terus menerus. Orang tua wajib menjadi role model. Tidak boleh bosan dan jangan menyerah, sebab gerakan perubahan itu adalah gerakan berkelanjutan yang dilakukan terus menerus. 
Untuk itu orang tua butuh partner, lingkungan atau komunitas yang saling mendukung dalam gerakan ini. Nah, salah salah satu organisasi sosial yang sejalan dengan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat ini adalah Bank Sampah Induk Bersinar. 

Edukasi Pengelolaan Sampah Bersama Bank Sampah Induk Bersinar


Bicara tentang edukasi ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah sangat pas jika dikaitkan dengan Bank Sampah Induk bersinar. Bank Sampah Induk Bersinar merupakan sebuah organisasi sosial yang didirikan oleh Ibu Fifie Rahardja di bawah Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI). Saat ini, Bank Sampah Induk Bersinar sedang giat-giatnya membentuk Bank Sampah Unit di berbagai daerah untuk mendukung gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
"Kami ingin Bank Sampah Induk Bersinar menjadi pusat perubahan. Sampah bukan lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menggerakkan ekonomi, pendidikan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat." ujar Indari Mastuti Ketua YSBI dalam siaran persnya.
Tidak cukup hanya menargetkan lahirnya bank sampah unit, Bank Sampah Induk Bersinar juga terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi lingkungan pada anak-anak. YSBI dan Bank Sampah Induk Bersinar sadar betul bahwa edukasi merupakan kunci keberlanjutan program ini ke depannya. 
Melalui edukasi ini, anak-anak diajarkan tentang budaya menjaga lingkungan sejak dini. Bagaimana memilah sampah, mendaur ulang sampah menjadi produk baru dan dikenalkan dengan konsep ekonomi sirkular dari lingkungan terdekat.
Anak-anak merupakan target edukasi yang tepat. Karena semakin dini memperkenalkan dan menanamkan perilaku baik dalam mengelola sampah, maka akan semakin kokoh karakter baik dalam pengelolaan sampah tertanam pada diri anak. Ini adalah modal dasar dalam membentuk generasi masa depan yang sadar akan pentingnya mendukung konsep ekonomi sirkular di masa depan.
Apa yang dilakukan oleh Bank Sampah Induk Bersinar ini adalah sebuah gerakan perubahan dalam pembangunan lingkungan yang lebih baik. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar.


0 Comments