Skip to main content

Tentang 38 Tahun yang Sudah Dilewati

Pada postingan kali ini spesial hanya ingin berbicara dengan diri sendiri. Tidak masalah teman-teman ikut tau dan membaca. Tapi sejatinya, tulisan ini hanyalah refleksi ke dalam diri saya sendiri. Mungkin sedikit tidak beraturan dan juga tidak nyambung dengan judul. Tapi tak mengapa, ini cuma postingan suka-suka.
Yes, hari ini 38 tahun sudah kesempatan diberikan oleh Sang Maha Pemilik kehidupan untuk menikmati suka duka kehidupan duniawi. Dilahirkan oleh seorang perempuan sederhana dan dirawat penuh kasih oleh pasangan orang tua yang luar biasa.

38 tahun
pixabay.com

Saya bahagia ditakdirkan sebagai diri sendiri. Kalau pun ada kesempatan untuk terlahir kembali, saya tidak ingin terlahir sebagai orang lain. Saya hanya ingin terlahir kembali sebagai diri sendiri dengan semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Dan berusaha menjalani hidup dalam versi yang jauh lebih baik.
Banyak hal sudah terlewati dalam 38 tahun ini. Banyak tawa, juga tangis yang telah menghiasi hari-hari. Banyak pencapaian, kejutan dan juga kekecewaan yang menyertai. Semua adalah anugerah yang pantas disyukuri.
Takdir yang saya jalani hingga detik ini mungkin tidak seindah takdir orang lain. Saya pun pernah iri dengan takdir indah yang hadir dalam hidup orang lain. Namun, seiring pertambahan usia, saya belajar bahwa takdir yang saya jalani saat ini adalah yang paling baik dan paling sesuai untuk hidup saya.
Ya, takdir yang saya jalani memang tidak seindah jalan takdir orang lain. Namun, dalam setiap jejak takdir yang saya lewati, Allah sudah menyelipkan pesan cinta di sana. Tugas saya adalah berusaha menemukan pesan cinta itu, menjalankannya dan menciptakan keindahan dalam setiap takdir yang Allah tetapkan. 
Meyakini semua ini membuat saya jauh lebih bersyukur dan ridho dengan semua takdir Allah. Tidak ada yang buruk, yang ada terkadang harap kita selalu tidak sealur dengan ketetapan Allah. Namun, ketika kita ridho dengan semua ketetapan Allah semua menjadi indah dan jauh lebih mudah.
Tidak dipungkiri terkadang ada masa di mana saya kecewa dengan takdir Allah. Saya berharap begini, kok takdir Allah yang datang justru begitu. Saya pernah menangis, saya pernah kecewa dengan takdir yang tidak sealur dengan harap di hati. Namun, seiring waktu selalu ada masa di mana saya justru berbalik mensyukuri takdir yang tadinya saya tangisi.
Contoh kecilnya adalah ketika Allah menakdirkan kami tidak jadi menempati kontrakan yang awalnya ditawarkan oleh seseorang. Padahal waktu itu saya merasa sudah sangat jatuh cinta dengan rumah dan lingkungan yang ditawarkan. Belum lagi kala itu, lokasi rumah sangat berdekatan dengan lokasi tanah kebun yang dikerjakan oleh suami.
Tidak hanya sekedar kecewa karena tidak jadi menempati rumah itu. Namun ada hal lain yang membuat saya kecewa dan merasa di php. Ditambah lagi ketika mencari kontrakan baru juga sempat diiyakan dan kemudian dibatalkan. Saya merasa sangat kecewa dan menangis saat itu. Saya sampai berburuk sangka pada diri sendiri. Apa ada yang salah dengan diri saya? Apakah saya ini punya imej jelek di mata orang sehingga mencari kontrakan saja ditolak sana sini.
Bersyukurnya ada suami yang selalu membesarkan hati. "Mungkin Allah punya rencana lain. Kontrakan itu mungkin memang bagus, namun belum tentu yang terbaik untuk kita." hibur suami kala itu.
"Ayo kita cari kontrakan lain!" ajak suami menyemangati.
Akhirnya bismillah kami memutuskan untuk mencari kontrakan lain. Ikhtiar sepenuh hati sambil tetap tawakal pada Allah. Kami percayakan langkah kaki ini berjalan dengan bimbingan Allah, menemukan rumah dan lingkungan terbaik untuk kami bertumbuh ke depannya.
Dan subhanallah akhirnya kami dipertemukan dengan rumah kontrakan yang sampai saat ini masih kami tempati. Sebuah rumah petak sederhana satu kamar dengan harga yang terjangkau. Fasilitas air gratis dan memiliki halaman samping yang memadai sebagaimana yang kami impikan. 
Tidak hanya itu, di sini suami juga mendapatkan lahan untuk bercocok tanam yang jauh lebih baik. Bahkan tidak sedikit tawaran lahan untuk diolah dari orang-orang yang baru kami kenal di lingkungan ini. Di sini kami juga diberi rezeki tetangga yang baik-baik dan lingkungan yang sangat cocok untuk mengembangkan minat kami di dunia pertanian.
Banyak rezeki lain yang mendekati kami setelah menempati kontrakan yang baru ini. Mungkin rumah ini memang sangat sederhana sekali, tapi sangat nyaman untuk kami tempati. Posisi dan lingkungannya juga sangat support dengan mimpi-mimpi kami.
Dan di titik ini, ketika saya mengingat kembali kegagalan pertama mendapatkan kontrakan yang dijanjikan saya malah sangat mensyukuri kegagalan itu. Ternyata benar, kontrakan sebelumnya memang bagus tapi bukan yang terbaik untuk kami. Yang terbaik adalah apa yang kami tempati saat ini.
Dari sini saya belajar bahwa kita tidak perlu bersedih dengan apa yang tidak bisa kita raih. Jika sesuatu itu memang ditakdirkan untuk kita, maka Allah akan memberikan sesuatu itu di waktu yang tepat. Tapi jika sesuatu itu tidak ditakdirkan untuk kita, maka yakin saja Allah akan ganti dengan hal lain yang jauh lebih baik untuk kita.
Wallahu'alam

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Belanja Buku di Gramedia.com

[AFF POST] Belanja Buku – Jadi ceritanya saya sudah lama banget pengen punya buku orang-orang biasa karya Pak Cik Andrea Hirata. Sudah searching di google untuk cek harga dan mencari olshop yang menjual, amun belum menemukan yang sreg untuk membeli buku ini.  Beberapa kali mencoba nitip sama teman-teman yang kebetulan lagi di Pekanbaru. Maklum, tinggal di pelosok daerah yang sulit menemukan toko buk yang lengkap. Ada sih beberapa kedai buku, namun buku yang dicari tidak ditemukan. Buku-buku terbitan terbaru memang butuh waktu untuk sampai ke sini. Kalau pun ada terkadang itu adalah buku-buku bajakan. Duh, sedapat mungkin saya berusaha menghindari membeli buku bajakan.

Cara Menyisipkan Halaman Landscape Diantara Halaman Portrait pada Dokumen Word

Coba perhatikan layout halaman pada dokumen word! Pada umumnya layuot halaman word itu seragam dari awal sampai akhir kan? Jika di awal kita setting landscape maka layout halaman sampai akhir akan tetap landscape. Dan sebaliknya, jika kita setting portrait maka sampai akhir halaman word itu akan tetap dalam layout portrait.  Lalu, bagaimana jika kita ingin membuat dokumen dengan layout yang berbeda dalam satu file word? Misalnya nih, di halaman awal kita menulis dokumen dengan layout portrait. Namun ketika sampai di halaman berikutnya kita harus membuat dokumen dengan layout landscape, karena berisi tabel yang memanjang ke samping misalnya. Apakah bisa disusun dalam satu file yang sama? Ataukah kita harus membuat file khusus untuk halaman yang berlayout lanscape ini? Tentu saja bisa! Sahabat pembaca, setting default dokumen word memang seragam dari awal sampai akhir. Namun, jika kita ingin membuat dokumen dengan layout portrait dan landscape secara bergantian juga bisa. Baga

Nasehat Kematian

Infografis Kabar kematian datang silih berganti tanpa mengenal hari. Seperti subuh ini kami kembali disentakkan oleh berita kematian. Malaikat izroil bekerja tanpa lelah, menjemput satu demi satu hamba Allah yang sudah menuntaskan rezekinya di bumi. Akhir-akhir ini ada rasa yang berbeda setiap kali mendengar berita kematian. Ada setitik pilu yang tak bisa digambarkan dalam bait apapun. Mengingat sudah demikian banyak waktu dan rezeki hidup dinikmati. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk menuntaskannya. Kabar kematian seakan mengingatkan diri bahwa pada suatu titik nanti saya akan berapa pada posisi yang sama dengan keluarga si mayit. Berduka sebab ditinggal orang yang dicintai. Pada suatu titik yang lain bahkan saya juga akan berada pada posisi yang sama dengan si mayit. Ditangisi, dimandikan, dikafani dan dikuburkan dalam liang lahan yang sempit. Allah, getir sekali membayangkan semua itu. Adakah diri ini siap menghadapi hari di mana semua kenikmatan dunia diputus?