Friday, June 19, 2020

, ,

Hari Pertama Kembali Mengaji Di Rumah Tahfiz Al Hidayah Pasca Darurat Pandemi Covid-19

Rumah Tahfiz Al Hidayah
Gambar 1. Kelas Al Quran Putri Rumah Tahfiz Al Hidayah Jl. Napal Desa Gumanti

Rumah Tahfiz Al Hidayah – Assalamualaikum Sahabat Pembaca yang sudah berkenan mampir di laman ini. Bagaimana suasana New Normal hari ini? Sudah mulai ramai beraktivitas di luar rumah kah? Bagaimana pun aktivitas New Normal sahabat, tetap patuhi protokol kesehatan  dan jaga jarak ya!

Pandemi Covid-19 memang telah mempengaruhi banyak hal, tidak terkecuali aktivitas belajar mengajar di Rumah Tahfiz Al Hidayah. Dua bulan lebih aktivitas belajar mengajar diliburkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dampak dari pandemi ini. Hari-hari yang biasanya dikelilingi riuhnya lantunan Al quran dari lisan-lisan kecil anak-anak mendadak hening. Bersyukur sore dan malam anak-anak yang mengaji di rumah masih tetap berdatangan.

Dua bulan lebih tak kumpul dengan anak-anak pastinya rindu. Karenanya, ketika Ustaz Rahmad Hidayatullah, pimpinan Rumah Tahfiz meminta pendapat tentang kemungkinan kegiatan belajar mengajar di Rumah Tahfiz Al Hidayah kembali dibuka, Saya langsung mengiyakan. Seketika wajah-wajah polos dan ceria anak-anak memenuhi slide momori di kepala.

Pelukan Pertama Pasca Pandemi dan Bagaimana Saya Berada di Sini

Rumah Tahfiz Al Hidayah
Gambar 2. Musholla Mini Al Hidayah

Senin (08/06/2020) pukul 14.00 WIB kurang lima belas menit saat Saya sampai di depan Warung Sarapan ‘Nyak Ni’, tempat di mana proses belajar mengajar santri putri Rumah Tahfiz Al Hidayah berlangsung. Untuk sementara kegiatan belajar mengajar santri putri memang masih di mushola kecil di belakang warung ini. Hanya santri putra yang sudah menempati saung belajar di Kompleks Rumah Tahfiz Al Hidayah yang baru dalam proses pembangunan.

Sampai di sana ternyata anak-anak sudah menunggu. Ada sekitar 10 orang anak-anak usia Sekolah Dasar. Beberapa tampak khusyuk mengulang hafalan, sementara yang lain asyik ngobrol dan bercanda dengan kawannya. Melihat kedatangan Saya kompak mereka bangun dan berlari menyambut. Tanpa dikomando mereka membentuk antrian untuk salim.

“Assalamualaikum ustazah,” sapa riang anak-anak ditimpali celoteh khas mereka. Satu demi satu anak-anak salim, cium tangan dan memeluk Saya eraaat sekali. Ini adalah pelukan pertama mereka pasca pandemi. Masha Allah, bahagia sekali kembali bisa memeluk tubuh-tubuh mungil ini. Dua bulan lebih tidak merasakan ritual ini, karena sejak libur memang tidak pernah bertemu dengan mereka. Lebih dari itu, kebahagiaan terbesar adalah ketika bisa kembali berkumpul dan membersamai mereka dalam ikhtiar mencintai Al Quran.

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang pantas kami dustakan. Ketika Engkau menggariskan jalan takdirku berada di tengah-tengah mereka. Berada dalam barisan generai terbaik, generasi Al Quran.

Sebelumnya, tak pernah berani bermimpi bisa menghafal Al quran apalagi mendampingi para penghafal Al quran seperti ini. Terlebih Saya bukanlah lulusan pesantren penghafal Al Quran, bukan juga lulusan sekolah agama. Saya hanya perempuan sederhana yang selalu bersemangat untuk belajar agama dan terlebih ilmu Al quran dari mana saja. Bahkan termasuk dari mereka yang sedang belajar sekalipun.

Saya selalu ingat nasehat guru ngaji puluhan tahun lalu saat baru belajar mengaji di Mesjid Al Mukmin Desa Semelinang Darat. Sang guru selalu mengajarkan kami hadist Rasul yang berpesan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dari buaian hingga ke liang lahat. Jadi, tidak ada kata lulus dalam menuntut ilmu. Ilmu Allah ini maha luas dan tidak akan pernah selesai untuk diarungi. Nasehat itulah yang terus memelihara semangat dan motivasi Saya untuk belajar dari waktu ke waktu.

Semangat itu juga yang kemudian mengantarkan Saya berada di tengah-tengah generasi pecinta Al quran ini. Saya tidak tau seperti apa orang lain menilai kemampuan Saya dalam mengaji Al quran. Namun yang jelas, ketika sudah diminta berkali-kali –sebelumnya sempat Saya tolak-- untuk mengajari anak-anak mengaji di Rumah Tahfiz Al Hidayah, Saya merasa malu untuk menolak lagi. Klo cuma sekali mungkin Saya masih bisa berkilah belum mampu, ataupun belum saatnya. Tapi kalau sudah berkali-kali Saya merasa malu sama Allah yang Maha Baik. Mungkin ini adalah cara Allah untuk memberi kesempatan pada Saya mengalirkan ilmu dan semangat yang dititipkan agar tidak berhenti hanya pada diri.

Gotong Royong dan Bermain

Rumah Tahfiz Al Hidayah
Gambar 3. Santri Putri Rumah Tahfiz Al Hidayah Gotong Royong Membersihkan Musholla Tempat Mengaji

“Ustazah Mushollanya kotor,” lapor anak-anak.

Dua bulan lebih libur ngaji, musholla kecil tempat mengaji itu memang tidak pernah digunakan. Sebenarnya bangunan itu bukan musholla kampung yang biasa digunakan untuk tempat sholat lima waktu. Bangunan tersebut sebentuk pondok kecil yang memang dibangun khusus untuk tempat belajar mengaji anak-anak. Ketika aktivitas mengaji libur otomatis tidak ada yang menempati dan mengurusi kebersihannya.

Saran dari Bunda Akri, --Bundanya Al Hidayah :)-- kegiatan Rumah Tahfiz Al Hidayah hari pertama ini sebaiknya gotong royong dan bermain bersama saja. “Lepas kangen dulu dengan anak-anak,” saran Beliau.

Jadilah gotong royong dan bermain bersama menjadi kegiatan anak-anak putri Rumah Tahfiz Al Hidayah di hari pertama ngaji. Anak-anak dengan penuh semangat menyapu, mengepel lantai dan membersihkan behel serta meja Al quran. Ternyata cukup banyak juga sampah-sampah plastik makanan yang berserakan di sekitar mushola. Satu PR lagi yang harus ditanamkan pada anak-anak agar ‘tidak buang sampah sembarangan’.

Belajar Al quran wajib, menghafal Al quran perlu, mengaji itu sangat penting, tapi yang jauh lebih wajib, perlu dan penting adalah membentuk akhlak anak-anak termasuk akhlak pada lingkungan. Inilah yang kami coba terapkan di Rumah Tahfizh Al Hidayah. Tidak mudah memang, terlebih jika anak-anak sudah terbiasa buang sampah sembarangan di rumah dan lingkungannya. Tapi dengan terus diingatkan, beri contoh dan doa yang tak putus, semoga kebiasaan baik yang kita tanamkan tubuh menjadi karakter dalam diri anak-anak.

“Dooorrr!” letusan keras dari arah tempat pembakaran. Seketika semua kaget, semua panik!

 “Ada petasan mungkin yang ikut terbakar tu,” seru Bunda Akri dengan santai dari dapur.

Ooo akhirnya semua bernafas lega melanjutkan acara bersih-bersih. Tidak butuh waktu lama mushola mungil itu sudah bersih dan siap digunakan.

“Haus Ustazah,”

“Panas Ustazah, ke depan aja yuk!”

Anak-anak mulai mengeluh kehausan dan kepanasan. Beberapa tampak mulai tak nyaman dan ingin melepas jilbab. Kalau tidak takut dihukum mungkin sudah pada lepas jilbab hehe.... Beberapa juga mulai guling-guling di lantai.

Setelah sekeliling musholla dipastikan bersih kami pun pindah ke depan, lebih tepatnya ke ruangan tamu rumah bunda akri. Di sana anak-anak berebut duduk depan kipas sementara Saya dan Ustazah Tasya ke dapur bunda minta dibuatkan minuman untuk anak-anak.

Waktu masih menunjukkan pukul 15.00 WIB kurang saat anak-anak selesai menikmati minumannya. Masih ada waktu lebih kurang setengah jam menjelang ashar. Mengisi waktu menjelang ashar ini, Ustazah Tasya memandu anak-anak bermain estapet gelang karet. Sayangnya lupa dokumentasi kemaren, padahal seru!

Capek bermain, anak-anak kembali duduk melingkar. Kali ini kegiatan diisi dengan saling berbagi cerita selama libur kemaren. Tidak lupa Saya cek hafalan mereka dengan teknik sambung ayat, mengingat banyak yang cerita selama di rumah tidak lagi mengulang-ulang hafalannya. Dan kegiatan ngaji hari pertama ini pun ditutup dengan doa dan sholat ashar berjamaah.

Keterangan Sumber Gambar:

1. Koleksi Pribadi

2. Koleksi Pribadi

3. Koleksi Pribadi

1 comment:

Tinggalkan Komen Ya!