Wednesday, May 27, 2020

, , , , ,

Lebaran Di Tengah Pandemi, Antara Kekonyolan dan Sepinya Silaturahmi

www.pixabay.com
Tak pernah terbayang sebelumnya lebaran kali ini akan memberi cerita berbeda. Lebaran dalam bayangan kita awalnya tetaplah sama dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Diawali dengan gema takbir yang meluruhkan air mata suka cita kemenangan, kemudian berlanjut dengan silaturahmi dan keceriaan tahunan yang menciptakan tawa canda. Lebaran adalah kegembiraan ummat dan tradisi kebersamaan keluarga yang dinanti. Para perantau bahkan rela mengorbankan dana, tenaga dan waktu lebih agar bisa berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman.

Namun, lebaran tahun ini jauh berbeda. Keceriaan lebaran tahun ini sedikit tertutup oleh kabut pandemi. Banyak tradisi yang harus berubah bahkan ditiadakan, demi untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Tidak ada sholat ied berjamaah di masjid-masjid atau lapangan sebagaimana biasa di daerah dengan status zona merah. Tradisi silaturahmi dengan saling mengunjungi terpaksa dihindari atau bahkan ditiadakan untuk kawasan zona merah, berganti dengan silaturahmi virtual saja. Meski tetap saling sapa, namun tetap saja tak bisa menggantikan nuansa keceriaan ketika saling jumpa.

Kekonyolan di Malam Hari Raya

Koleksi Pribadi
Magrib menjelang dan gema takbir mulai berkumandang dari speaker-speaker masjid dan mushola kampung. Masjid dan mushola di kampung ini tetap buka dan memberikan layanan ibadah sebagaimana biasa. Status zona hijau memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menjalankan ritual ibadah di masjid dan mushola lebih luas pastinya.

Meski pembatasan di daerah kami tidak terlalu ketat, namun tetap saja banyak tradisi dan ritual ibadah syawal yang tidak bisa dijalankan sebagaimana biasa. Salah satunya yang cukup terasa adalah tradisi takbir keliling yang ditiadakan. Gema takbir cuma terdengar dari rumah-rumah ibadah saja itupun dibatasi durasinya.

Awalnya saya pikir dengan ditiadakannya tradisi takbir keliling, maka malam satu syawal akan sepi dari keramaian warga sebagaimana biasa. Jalanan tentunya akan lengang karena tidak ada arak-arakan pawai takbiran seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi ternyata saya salah....

“Jalanan macet!” cerita adek yang baru dari luar.

Oh, ternyata takbiran ditiadakan bukan berarti tiada kerumunan. Tetap saja hasrat untuk meramaikan malam satu syawal tidak bisa dibendung. Masyarakat tetap keluar rumah memadati jalanan untuk mendatangi toko-toko dan pusat perbelanjaan yang tetap buka dalam suasana darurat covid-19 ini. Sebuah kekonyolan sejati disaat pandemi kita dihimbau untuk mematuhi aturan social distancing. Bahkan sepertinya aparat pun tak mampu membendung keramaian yang tiba-tiba tercipta di malam lebaran ini.

Ya, malam lebaran yang saya pikir bakal sepi karena adanya himbauan #dirumahsaja ternyata salah. Jalanan tetap ramai, toko-toko, mini market bahkan mall kabarnya tetap ramai. Seolah semua lupa dengan bahaya penyebaran covid-19 yang mengintai di tengah kerumunan. Pada akhirnya kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga tidak ada berita buruk yang menyapa setelah ini.

Ah, kadang heran juga dengan kondisi yang terjadi. Akhir-akhir ini sering kita dengar keluhan masyarakat tentang sulitnya ekonomi sebagai salah satu dampak dari pandemi. Banyak berita warga yang kehilangan pekerjaan hingga kelaparan. Tapi kok ya malam lebaran gini jalanan dan pusat-pusat perbelanjaan penuh sesak oleh warga yang berbelanja. Padahal itu bukan kebutuhan primer kan? Berarti banyak yang kelebihan duit dong!

Ah pandemi ini kadang mempertontonkan begitu banyak kekonyolan.

Hari Fitri di Tengah Pandemi

Lebaran
Koleksi Pribadi
Bagaimana hari fitri sahabat di tengah pandemi? Lebaran tahun ini memang tidak seramai biasa. Tahun ini, sanak keluarga yang merantau di luar daerah banyak yang tidak pulang kampung. Pembatasan sosial membuat gerak warga untuk perjalanan jauh antar daerah sedikit dipersulit. Sehingga, jamaah sholat iedul fitri tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Di kampung kami,

Silaturahmi lebaran saling berkunjung satu sama lain tetap dijalani. Rumah-rumah tetap terbuka menyambut tamu-tamu yang datang berkunjung. Toples-toples kue masih setia menghiasi meja menyambut tamu. Dan keluarga kami pun tetap menjalankan tradisi silaturahmi lebaran, hanya saja tidak banyak rumah yang dikunjungi. Hanya rumah-rumah sanak keluarga inti saja, kemudian kembali ke rumah.

Ya, meski malam lebaran jalanan ramai, namun jalanan pagi syawal tidaklah demikian. Tak banyak yang hilir mudik di jalanan untuk saling berkunjung satu sama lain. Semakin siang jalanan semakin sepi. Ditambah lagi cuaca siang hari lumayan panas terik menghalangi langkah kaki untuk melangkah ke luar rumah.

Sisa hari akhirnya dihabiskan di rumah. Nonton tv, makan-makan, bercengkrama dengan anggota keluarga lain, makan lagi, begitu saja sampe sore. Bersyukurnya ada keponakan kecil imut yang rela ditinggalkan kedua orang tuanya di rumah ini. Suasana lebaran jadi lebih ceria dengan celoteh dan tingkah polosnya.

Bagaimana dengan tamu? Alhamdulillah, pagi-pagi rumah kami sudah disambangi segerombolan tamu-tamu kecil. Anak-anak tetangga yang kebetulan ngaji di rumah. Ada juga beberapa sanak keluarga yang datang berkunjung untuk silaturahmi lebaran, meski tidak seramai biasa tapi cukup memberikan nuansa lebaran bagi rumah kami.

Memang lebaran ini lebih sepi dari biasa. Tidak ada halal bil halal, tidak ada perlombaan, tidak ada permainan rakyat dan berbagai keramaian yang biasa diadakan untuk memeriahkan suasana lebaran. Silaturahmi pun tidak semeriah biasa. Banyak kaki yang berat melangkah untuk saling mengunjungi satu sama lain. Banyak juga yang memilih #DiRumahSaja saat lebaran ini dan memilih untuk silaturahmi virtual dengan keluarga dan sanak saudara yang lain.

Kadang merasa lucu melihat realita yang ada. Di satu sisi keramaian yang tidak penting dan mendesak tetap tercipta tanpa bisa dicegah, seperti keramaian di malam lebaran. Di sisi lain, pertemuan dan perkumpulan dihindari dengan dalih memutus mata rantai penyebaran covid-19. Inkonsisten yang entahlah....!

Apapun itu, bagaimanapun kondisinya Iedul Fitri tetap membawa pesan yang sama kembali ke fitrah dan tingkatkan amalan. Selamat Iedul Fitri 1441 H, semoga Allah Swt menerima amal ibadah kita selama Ramadhan.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komen Ya!