Skip to main content

#BeraniLebih Banyak Mencoba untuk Mewujudkan Mimpi Orang-orang Tersayang

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba melakukan sambung pucuk untuk tanaman bougenvil si Emak. Ceritanya, si Emak lagi senang-senangnya merawat tanaman hias, termasuk bunga bougenvil. Bunga bougenvil akan lebih cantik jika disambung atau okulasi dengan tanaman bugenvil lain yang memiliki bentuk dan warna berbeda. Hal itulah yang mendorong Emak meminta saya membuat sambung pucuk untuk tanaman bougenvil.
Sambung pucuk adalah salah satu teknik pembiakan vagetatif pada tanaman. Tidak terlalu sulit jika kita sudah mengetahui tekniknya. Berbekal sedikit pengalaman pernah melakukan teknik sambung pucuk ketika duduk di bangku sekolah dan kuliah saya pun memenuhi permintaan Emak.
Karena sudah lama tidak memprakterkkan ilmu ini, sambung pucuk pertama yang saya lakukan gagal. Bagian tanaman yang disambungkan layu dan mati setelah disambungkan. Namun saya belum menyerah. Saya mencoba melakukan sambung pucuk pada pucuk yang lain. Hasilnya masih sama, bagian yang disambungkan tetap saja layu dan mati. Saya masih mencoba beberapa kali lagi, namun tetap belum memberikan hasil yang menggembirakan.

Pucuk Layu dan Busuk Setelah Satu Minggu
Saya mulai jengkel dan ingin menyerah saja. “Mendingan beli aja di tempat pembibitan bunga” pikir saya waktu itu.
Namun, tiba-tiba saya teringat bahwa Thomas Alfa Edison melakukan lebih dari 99 kali percobaan hingga akhirnya menghasilkan satu lampu fijar yang berfungsi. Coba seandainya dia menyerah pada percobaan yang ke 99 itu. Mungkin hingga hari ini kita masih berada dalam kegelapan. Lalu, saya mencoba melihat pada kondisi saya saat itu. Percobaan sambung pucuk yang saya lakukan mungkin baru hitungan jari. Itu artinya saya baru mengalami sedikit kegagalan. Jika saya menyerah dengan kegagalan ini, berarti saya tidak akan pernah bisa untuk selamanya. Tapi, kalo saya terus mencoba, saya akan terus belajar dan memperbaiki kesalahan. Boleh jadi pada percobaan berikutnya saya berhasil.
Berkaca dari semangat Thomas Alfa Edison, saya pun memutuskan untuk #BeraniLebih Banyak Mencoba. Saya tidak boleh menyerah dengan dua, tiga kali kegagalan. Saya akan terus mencoba dan mencoba hingga kegagalan itu bosan menghampiri saya.
#BeraniLebih banyak mencoba bukan berarti mengulang-ulang sesuatu dengan cara yang sama. Akan tetapi dalam mencoba ada proses belajar. Ulangi dan perbaiki kesalahan yang ada. Try and error. Cari tau penyebab mengapa percobaan pertama, kedua dan seterusnya gagal, kemudian temukan solusinya.
#BeraniLebih Banyak Mencoba
Hingga akhirnya pada kali mencoba berikutnya, membuahkan hasil yang menggembirakan. Sambung pucuk yang saya buat tidak lagi layu. Pucuk tetap segar, meski sudah berusia satu minggu semenjak disambung. Sekitar satu minggu lagi saya kira plastik pelindungnya sudah bisa dibuka. Dan tinggal menunggu waktu, bougenvil dengan bunga warna warni dalam satu pohon akan dimiliki. 
Akhirnyaaa....Berhasil!
Senangnya bisa mewujudkan keinginan Emak untuk memiliki bunga bougenvil aneka warna. Andai saya berhenti mencoba kemarin, mungkin saya tidak akan pernah bisa mewujudkan keinginan Emak dengan tangan sendiri. Alhamdulillah saya memutuskan untuk #BeraniLebih Banyak mencoba. Sehingga bisa melukis senyum puas di wajah Emak.
So, sahabat, yuk #BeraniLebih Banyak Mencoba. Agar semakin banyak mimpi orang-orang tersayang yang berhasil diwujudkan oleh tangan kita.

Neti Suriana
Twitter: @Aura_Husna


Comments

  1. saya juga suka dengan bunga bougenvil mak, tapi belum pernah coba untuk sambung pucuk sendiri :D

    ReplyDelete
  2. Kalo ga berani mencoba, ga bakal tau hasilnya ya Mak ^_^

    ReplyDelete

Post a Comment

Tinggalkan Komen Ya!

Popular posts from this blog

Puasa Syawal Atau Puasa Qadha Dulu?

Ini menjadi pertanyaan para muslimah di bulan syawal. Sekalipun sudah belasan bahkan puluhan kali melewati bulan Syawal, hal ini tetap saja menjadi pertanyaan di kalangan muslimah. Mana satu yang harus di dahulukan? Apakah puasa sunnah enam hari di bulan syawal ataukah membayar hutang puasa Ramadhan (Qadha)? Apakah sahabat blogger juga mempertanyakan hal yang sama?

Senyum di Wajah Mereka adalah Berkah Terindah yang Selalu Ingin Kumiliki

Apa yang kita cari dalam hidup kalau bukan kebahagiaan. Harta, pangkat, jabatan, pasangan, anak, dan semua yang kita perjuangkan hanyalah media untuk meraih kebahagiaan tersebut. Namun, kebahagiaan justru tidak lahir dari apa yang kita dapatkan. Akan tetapi, kebahagiaan  justru hadir dari apa yang kita bagikan. Ketika kita bisa melukis senyum di wajah orang lain, justru di sanalah senyum juga akan terukir di wajah kita. Ketika kita bisa memberi kebahagiaan pada orang lain, justru di sanalah kita akan merasakan bahagia. Dari sini aku menyadari bahwa berkah terindah dalam hidupku bukanlah ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu. Akan tetapi berkah terindah yang selalu ingin aku miliki adalah senyum terindah di wajah mereka. Senyum terindah yang terukir karena setitik kebaikan yang bisa aku berikan untuk mereka.
Senyum Di Wajah Kedua Orang Tuaku
Berkah terbesar dalam hidupku adalah ketika bisa melukis senyum di wajah kedua orang tuaku. Setiap jengkal perjuanganku tidak lain adalah untuk m…

Inilah 3 Alasan Mengapa Kita Harus Menyegerakan Kebaikan

Seringkali kita menunda-nunda amal baik dengan berbagai pertimbangan. Padahal peluang amal itu sudah terbentang di depan mata. Peluang pahala sudah menanti-nanti tangan kita untuk meraihnya. Namun, lagi-lagi karena berbagai alasan remeh peluang besar itu kita abaikan. Manusia memang mahluk yang lemah, sangat lemah. Hatinya mudah sekali dibolak-balikkan oleh sifat ragu-ragu. Langkahnya dengan gampang sekali dicekal oleh rasa malas, rasa takut dan tidak percaya diri. Sehingga, peluang besar, dan keuntungan menggunung raib begitu saja dengan sekejab. "niat baik itu jangan ditunda-tunda" petuah orang tua tua yang sering kita dengarkan.