Friday, February 27, 2015

, ,

My Orange



Buku Solo Pertama
Masih segar diingatan, beberapa tahun yang lalu saya menjemputnya di Zepelin Komputer Air Molek. Tepatnya saya lupa, tapi yang jelas dia saya jemput sebagai hadiah untuk diri sendiri. Hadiah atas salah satu pencapaian saya di  dunia menulis. Yakni terbitnya buku solo pertama saya ‘Doa Penenang Hati’.

Netbook mini berwarna orange ini sangatlah spesial. Karena uang saya gunakan untuk menebusnya adalah hasil jerih payah dari menulis.Yakni fee dari penulisan buku solo pertama itu.

Continue reading My Orange

Sunday, February 22, 2015

Friday, February 20, 2015

Mengeksekusi Mimpi adalah Caraku Mengintip Takdir

“Orang yang bangkrut bukanlah orang yang tidak memiliki harta. Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki mimpi.” H. Qomar
Mimpi yang terus dipupuk membuat hidup menjadi lebih hidup. Karena mimpi adalah secercah harapan yang menuntun kita untuk bergerak untuk meraihnya. Impian akan surga dan kehidupan yang lebih baik di akhirat, membuat manusia bersungguh-sungguh menjalankan tuntunan agama. Mimpi untuk menerbitkan buku, membuat penulis tak menyerah untuk berkarya. Mimpi untuk ke tanah suci membuat seorang muslim tak lelah untuk memantaskan diri untuk ke sana. Mimpi akan kehidupan yang lebih baik, membuat manusia tak pernah lelah untuk berikhtiar.
Continue reading Mengeksekusi Mimpi adalah Caraku Mengintip Takdir

Thursday, February 19, 2015

Pohon Pembawa Keceriaan

Menjaga komitmen memang tidak mudah. Untuk  kedua kalinya hampir mangkir dari komitmen untuk one day one post di blog ini. Demi menjaga komitmen yang sudah dibuat, pagi ini saya mencoba menulis postingan ini.
Meski awalnya blank mau nulis apa, tapi azam sudah ditancapkan. Saya tetap harus menulis, walau hanya beberapa paragraf saja. Tapi menulis tentang apa?
Jangan bingung..., jangan bingung..., please jangan blank....! Bukankah ide itu ada di mana-mana. Bahkan hanya dengan mengalihkan sedikit pandangan kita ke tempat yang berbeda, ada ide yang sudah menunggu untuk dieksekusi. Buka mata, buka telinga dan buka hati! Lihat, dengar, dan rasakan! Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diikat dan bagikan pada yang lainnya.
Itulah yang saya lakukan pagi ini. Berawal dari membuka file dokumen foto pribadi dan mata saya langsung tertuju pada foto pohon ceri di atas. Ini merupakan batang pohon ceri yang tumbuh tepat di depan rumah. Menaungi sebagia halaman dan badan jalan kecil yang ada di sana. Setiap hari, pohon ini selalu menjadi tempat bermain anak-anak. Ada saja anak-anak kecil yang menaiki pohonnya. Mereka bergelantungan di dahannya untuk mengambil buah ceri yang manis atau sekedar bermain di sana.
Saya sangat ingat, pohon ini ditanam oleh Emak. Awalnya saya sempat tidak suka ketika Emak ingin menanamnya. Saya tahu pohon ini memiliki daun yang sangat lebat. Itu artinya, jika ia tumbuh besar, akan membuat halaman rumah kami menjadi kotor. Perlu kerja ekstra setiap hari untuk membersihkannya. Saya pikir, dari pada pohon ceri mendingan pohon mangga. Buahnya lebih besar, manis, elit dan sampah yang dihasilkannya tidak sebanyak pohon ceri.
Tapi rupanya Emak punya pemikiran lain. Beliau tetap bersikukuh menanam pohon itu. 
"Anak-anak pasti suka," kata Emak waktu itu.
Anak-anak? Padahal rumah kami tidak memilki anak-anak kecil. Anak-anak mana yang dimaksud Emak? Tapi, ya sudahlah. Biarkan Emak melakukan apa yang diinginkannya.
Seiring waktu, pohon ceri itu tumbuh dengan subur. Buahnya pun mulai muncul di setiap rantingnya yang lebat. Buahnya bulat kecil dan manis. Disenangi oleh siapapun yang kebetulan mampir ke rumah, apalagi anak-anak.
Ternyata Emak benar, anak-anak pasti suka! Semenjak pohon ceri itu berbuah, halaman rumah kami yang biasanya sepi selalu ramai. Ada saja anak-anak yang bermain dan berteriak minta buah ceri. Ya, pohon ceri ini termasuk tanaman yang berbuah sepanjang musim. Setiap hari ada saja buahnya yang matang, seperti tidak ada habisnya.
Sekarang rumah kami yang biasanya sepi dari suara anak-anak, tidak lagi sesepi dulu. Karena selalu aja ada suara kecil yang menyapa dari pokok pohon ceri. Suara tawa dan teriakan mereka menjadi warna baru bagi rumah kami. Tidak hanya suara anak-anak. Suara burung-burung kecil juga ramai terdengar. Rupanya, buah ceri juga menjadi makanan favorit burung-burung kecil tersebut.
Pohon ceri memang bukan pohon elit yang menjadi favorit semua orang. Buah yang dihasilkannya juga sangat mustahil dijual untuk menghasilkan mater. Namun, pohon ini memberi kami lebih dari sekedar materi. Ada keceriaan dan kebahagiaan yang dihadirkannya untuk kami. Hijau daunnnya mampu menyejukkan pandangan. Manis buahnya telah mengundang tamu-tamu kecil yang selalu mampu menghadirkan senyum di wajah kami.
Memang tidak ada yang sia-sia dari sebuah niat baik. Kebaikan selalu akan melahirkan kebaikan-kebaikan baru. Syukur tak terkira untuk sebuah kebahagiaan kecil ini.
Continue reading Pohon Pembawa Keceriaan

Wednesday, February 18, 2015

,

Menyembuhkan Luka



Jika suatu ketika anggota tubuh terluka cukup dalam, kita pasti akan merasa sakit yang teramat sangat. Perih dan pedih yang menyayat syaraf-syaraf perasa. Rasa sakit itu sampai-sampai tidak sempat memberi kita waktu untuk berfikir bagaimana cara untuk mengatasi luka yang berdarah-darah itu. Bersyukur kita memiliki saudara dan sahabat yang masih bersimpati pada kita. Mereka rela meluangkan waktu mereka untuk membalut luka yang menganga, bahkan mengantarkan kita ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Tapi, luka tidak akan sembuh dengan seketika. Penanganan yang diberikan hanya berfungsi untuk mencegah luka berdarah lebih banyak dan parah. Kulit yang terluka masih dalam kondisi terkoyak dan rentan untuk berdarah lagi. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu agar kembali baik seperti sediakala. Tidak hanya waktu, luka juga membutuhkan pengobatan dan perlindungan agar proses penyembuhannya berlangsung dengan cepat.
Luka mungkin saja akan kembali berdarah ketika terbentur dengan benda keras. Luka juka mungkin akan mengalami infeksi jika tidak diobati dengan telaten. Luka yang dalam memang sangat rentan berdarah ketika bersinggungan dengan sesuatu.
Demikianlah tamsil dari hati yang sempat mengalami luka yang dalam. Tidak gampang untuk memulihkannya seperti sedia kala. Mungkin akan mustahil kembali seperti semula. Tidak hanya bekasnya yang akan menjadi pengingat lara yang pernah dilewati. Bagian yang terluka juga akan rentan kembali berdarah karena sebab gesekan kecil yang tidak kita sadari.
Ya, luka hati yang dalam tidak hanya membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya. Ia juga membutuhkan perlindungan agar tidak kembali kambuh karena gesekan atau singgungan sekecil apapun. Hindarkan luka dari gesekan benda asing. Hindarkan juga luka dari siraman air yang terlalu sering. Sebab, luka membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk kembali pulih..
Karenanya, ketika kita bertemu dengan hati yang luka janganlah sok jadi pahlawan untuk menyembuhkannya sebelum paham dengan sosok dan penyebab luka itu. Karena, hati yang terluka cenderung sangat sensitif. Boleh jadi, treatmen yang kita lakukan bukannya menyembuhkan luka tapi malah menyebabkan luka kembali berdarah.
Berilah si terluka ruang dan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri bersama Rabb-nya. Jangan pernah membuka cerita tentang luka di hadapannya. Karena itu bisa menjadi sebab terkoyaknya bekas luka yang sedang berjuang untuk sembuh. Tahukah kamu? Luka di atas luka jauh lebih menyakitkan. Jauh lebih sulit untuk disembuhkan.
Terkadang mendiamkannya adalah tindakan yang tepat. Mendiamkan bukan berarti tidak peduli. Justru, mendiamkan adalah salah satu bentuk empati. Karena kita sedang memberi waktu pada luka untuk memulihkan dirinya sendiri.
Biarkan hati itu merintih dan mengadu pada Tuhan-Nya. Pada waktunya Dia yang Maha Memiliki setiap hati akan menyembuhkan luka itu dengan sempurna. Dia akan menggantikan rasa sakit dengan rasa syukur yang tak terhingga. Dia juga yang akan membentangkan hikmah dan pelajaran berharga dari cerita lara yang pernah ditangisi.

Continue reading Menyembuhkan Luka

Monday, February 16, 2015

, ,

Menjaga Sebuah Komitmen

"Jika memulai itu sulit, ketahuilah menjaganya jauh lebih sulit"

Setiap kali membuka dashboard blog ini, saya selalu tertegun. Teringat kembali bagaimana saya tergerak
Sumber Gambar: www.aacc.edu
untuk membuat sebuah laman blog. Keinginan untuk memiliki sebuah media online sebagai sarana untuk latihan menulis dan menebarkan kebaikan di dunia yang tanpa batas ini.
Tekad dan semangat kala itu sangat menggebu. Begitu membuncah. Saya membayangkan betapa menyenangkannya bisa menulis dan berbagi setiap saat. Blog ini merupakan media online yang siap mempublish tulisan kapanpun saya mau.
Namun, seiring perjalanan waktu ternyata semua tidak berjalan seperti apa yang dibayangkan. Bukan, bukan kendala teknis yang menyebabkan saya tidak bisa mempublish tulisan setiap hari. Bukan juga penghalang eksternal lain yang membatasi. Akan tetapi permasalahan itu justru datang dari dalam diri sendiri.
Ya, ternyata saya selalu membuat 'excuse' yang menyebabkan saya tidak menulis untuk blog ini.
Saya selalu beralasan tidak punya waktu untuk menulis, kenyataannya saya tidak menyempatkan waktu untuk menulis.
saya selalu beralasan tidak punya ide, kenyataannya saya tidak segera mengeksekusi setial lintasan ide yang hadir setiap saat.
Saya selalu beralasan tulisan saya kurang menarik, kenyataannya saya selalu ingin terlihat perfect.
Akibatnya, komitmen awal untuk mengisi blog ini terabaikan.
Ketika melirik daftar postingan di dashboard saya meringis, menertawakan kelalaian selama ini. Selama blog ini hidup, postingan yang menghiasinya bisa dihitung dengan jari. Kemana saja saya selama ini? Ya, memulai memang mudah, sangat mudah. Akan tetapi menjaga sebuah komitmen itulah yang sulit. Diperlukan tekat yang harus diperbaharui terus menerus. Diperlukan disiplin dan perencanaan tertulis yang harus dipatuhi. Dan sepertinya itulah yang saya lupakan selama ini.
Sekarang...
Ya, sekarang adalah detik dimana saya kembali disadarkan dari kelalaian ini. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk memperbaharui komitmen ini. Untuk mengembalikan fungsi blog ini sebagai sarana untuk latihan merangkai kata, mengikat makna. Kembali untuk menghidupkan blog ini dari mati surinya. 
Semoga tidak berlebihan jika saya berikhtiar untuk memulai kampanye one day one post untuk blog ini! Bismillah...
Continue reading Menjaga Sebuah Komitmen