Skip to main content

Visa untuk Perjalanan Wisata, Perlukah?

Hari ke 4  #10daysforASEAN
Saya pribadi sebenarnya belum pernah merasakan bagaimana ribetnya jika mau traveling ke luar negeri. Tapi yang jelas urusannya pasti tidak segampang jika kita ingin traveling atau wisata di dalam negeri. Jika ingin mengunjungi objek wisata di negeri sendiri tentu tidak ribet urus ini dan itu. Ada biaya transpor, tentukan tujuan ya sudah jalan!
Beda halnya jika Anda ingin traveling ke luar negeri --secara legal tentunya--. Anda harus mengurus dan menyiapkan berbagai dokumen perjalanan seperti paspor dan visa. Meskipun proses pengurusannya tidak terlalu sulit, namun tetap saja menghabiskan uang dan waktu bukan? Padahal perjalanan wisata Anda mungkin hanya dua atau tiga hari saja.
Sumber Gambar: www.aseanblogger.com


Kabar baiknya, hampir semua negara-negara ASEAN telah membebaskan pengurusan visa bagi wisatawan yang mengunjungi negaranya. Jadi, jika Anda ingin jalan-jalan ke negara-negara di kawasan ASEAN tidak perlu repot-repot lagi mengurus Visa. Cukup sediakan paspor saja. Yeayy....asyiik kan?
Eiiiit....jangan gembira dulu. Ternyata tidak full semua negara ASEAN yang memberlakukan bebas visa bagi para wisatawannya. Terhitung mulai 1 mei 2010 pemerintah Myanmar mulai memberlakukan wajib visa on arrival (VoA) bagi wisatawan yang berkunjung ke negara mereka. Jadi, jika ingin mengunjungi Myanmar juga Anda wajib mengurus visa. Harga pengurusan visa sekitar USD 30 dan berlaku selama 28 hari.
sumber gambar: www.yahoo.co.id
Nah, ini yang kemudian menjadi pertanyaan, perlukah visa untuk perjalanan wisata? Bukankah kehadiran wisatawan asing merupakan salah satu sumber pendapatan yang cukup potensial bagi sebuah negara? Jika demikian, seharusnya kedatangan wisatawan ke sebuah negara tidak perlu dipersulit. Apalagi untuk negara-negara yang berada dalam satu kawasan seperti halnya negara-negara di ASEAN. Kebersamaan yang sudah dibangun dalam persahabatan bangsa-bangsa ASEAN telah memberi banyak kemudahan bagi masyarakat di negara jiran untuk saling berkunjung tanpa mengantongi visa.

Lalu, mengapa Myanmar tidak?
Sekilas, kebijakan pemberlakuan visa bagi wisatawan oleh pemerintah Myanmar ini memberikan kesan ekslusif pada  negara ini di kawasan ASEAN. Namun, setelah mencari berbagai informasi terkait negara ini, bisa dimaklumi mengapa hal ini diberlakukan.
Seperti diketahui Myanmar merupakan negara yang belum stabil di segi keamanan. Iklim politik Myanmar boleh dibilang paling panas di Asia Tenggara semenjak berada di bawah kekuasaan rezim militer. Belum lagi konflik antar etnis yang belum juga mereda di negara ini.
Kondisi ini mendorong rezim militer yang berkuasa di negara tersebut sangat berhati-hati menerima kunjungan dari luar. Mereka sangat membatasi kunjungan dari warga asing ke negaranya. Karena, bisa saja kan mereka yang mengaku wisatwan ternyata adalah provokator yang ingin menggulingkan rezim mereka atau mungkin wartawan yang ingin tau lebih jauh kondisi dalam negeri Myanmar.Rezim militer tidak ingin kemungkinan-kemungkinan itu terjadi. Sehingga kebijakan pemberlakuan visa ini diberlakukan.

Dari segi  ekonomi sebenarnya pemberlakuan visa terbatas ini merugikan Myanmar sendiri. Karena, sektor wisata mereka tidak akan berkembang pesat seperti halnya negara-negara ASEAN lainnya. Pemberlakuan visa terbatas justru menghambat kedatangan wisatawan luar negari untuk berkunjung ke negara mereka. Itu berarti sumber devisa yang bisa diperoleh dari sektor ini juga akan turun.
Tapi semua kembali pada kebijakan negara mereka masing-masing bukan? Sebagai bangsa yang senang bersilaturahmi a.k.a jalan-jalan hehe...kita tentu sedikit kecewa dengan kebijakan ini. Tapi, lebih sedih dan kecewa lagi melihat konflik dan matinya demokrasi di negara tersebut. 
Kembali pada pertanyaan awal, perlukan visa untuk perjalanan wisata?
Menurut saya, bagi negara-negara yang masih berada dalam satu kawasan --seperti negara-negara ASEAN-- visa perjalanan wisata tidak perlu. Mengapa?
Dari sektor ekonomi kehadiran wisatawan asing merupakan sumber pendapatan devisa negara di sektor pariwisata. Seperti diketahui, para wisatawan yang berkunjung tersebut akan membelanjakan uangnya di negara yang dikunjungi. Hal itu akan menambah peluang pendapatan, baik bagi para pelaku bisnis di sektor parawisata maupun negara itu sendiri. Pemberlakuan visa tentunya akan sedikit mempersulit datangnya para wisatawan.


Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Belanja Buku di Gramedia.com

[AFF POST] Belanja Buku – Jadi ceritanya saya sudah lama banget pengen punya buku orang-orang biasa karya Pak Cik Andrea Hirata. Sudah searching di google untuk cek harga dan mencari olshop yang menjual, amun belum menemukan yang sreg untuk membeli buku ini.  Beberapa kali mencoba nitip sama teman-teman yang kebetulan lagi di Pekanbaru. Maklum, tinggal di pelosok daerah yang sulit menemukan toko buk yang lengkap. Ada sih beberapa kedai buku, namun buku yang dicari tidak ditemukan. Buku-buku terbitan terbaru memang butuh waktu untuk sampai ke sini. Kalau pun ada terkadang itu adalah buku-buku bajakan. Duh, sedapat mungkin saya berusaha menghindari membeli buku bajakan.

Beginilah Cara Allah Menghibur Kita

Suatu ketika kamu merasa beraaat banget mau datang ke acara taklim, tapi entah kenapa ada saja sesuatu yang akhirnya memaksamu untuk pergi. Ajaibnya di acara yang awalnya tak ingin kamu hadiri itu justru memberikan materi yang sangat menyentuh hati dan memberikan jawaban atas semua masalah-masalahmu. 

Cara Menyisipkan Halaman Landscape Diantara Halaman Portrait pada Dokumen Word

Coba perhatikan layout halaman pada dokumen word! Pada umumnya layuot halaman word itu seragam dari awal sampai akhir kan? Jika di awal kita setting landscape maka layout halaman sampai akhir akan tetap landscape. Dan sebaliknya, jika kita setting portrait maka sampai akhir halaman word itu akan tetap dalam layout portrait.  Lalu, bagaimana jika kita ingin membuat dokumen dengan layout yang berbeda dalam satu file word? Misalnya nih, di halaman awal kita menulis dokumen dengan layout portrait. Namun ketika sampai di halaman berikutnya kita harus membuat dokumen dengan layout landscape, karena berisi tabel yang memanjang ke samping misalnya. Apakah bisa disusun dalam satu file yang sama? Ataukah kita harus membuat file khusus untuk halaman yang berlayout lanscape ini? Tentu saja bisa! Sahabat pembaca, setting default dokumen word memang seragam dari awal sampai akhir. Namun, jika kita ingin membuat dokumen dengan layout portrait dan landscape secara bergantian juga bisa. Baga