Skip to main content

Salon Thailand Profesional Bersertifikat Internasional, Siapa Takut?

Tema hari pertama lomba blog #10daysforASEAN ini cukup menarik, yaitu bagaimana seandainya di lingkungan kita berdiri salon Thailand yang profesional dan bersertifikat internasional? Mampukah salon-salon lokal kita bersaing di negeri sendiri?
Ya, berbicara tentang Thailand saya jadi teringat dengan berbagai produk pertanian yang dikenal dengan embel-embel Thailand di belakangnya. Salah satu diantaranya adalah beras thailand. Pengamatan saya beras thailand cukup populer di kalangan masyarakat, mengingat harganya cukup bersaing dengan kualitas yang bagus. Beberapa saat, beras Thailand sempat meranjai pasar-pasar beras di daerah bahkan sampai ke desa-desa termasuk desa saya. Namun, tidak sampai mematikan pasar beras-beras lokal yang juga tidak kalah berkualitas bagus.
Lalu, bagaimana seandainya salon-salon Thailand profesional dan bersertifikat benar-benar muncul di lingkungan kita?
Berbicara tentang salon Thailand, saya pribadi belum mengetahui layanan apa saja yang mereka tawarkan dan apa keunggulannya. Namun, ketika ada embel-embel 'profesional dan bersertifikat internasional' jelas kita bisa dipastikan salon ini memiliki keunggulan dalam hal produk layanan dan dengan dukungan tenaga profesional di bidangnya. 
Sementara, salon lokal yang ada di lingkungan kita masih memberikan pelayanan yang seadanya dengan kualitas SDM yang jauh dari kata 'profesional'.  Mampukah mereka bersaing.

Salon Lokal Tak Perlu Gentar
Melihat kasus ini, saya jadi teringat dengan cerita inspiratif dalam buku 'Setengah Isi Setengah Kosong' karya Parlindungan Marpaung. Dalam salah satu ceritanya dikisahkan tentang cara nelayan Jepang untuk memperpanjang usia ikan tangkapannya. Mengingat, orang-orang Jepang merupakan penggemar ikan-ikan segar hasil tangkapan. Bagi mereka ikan segar jauh lebik enak dibandingkan ikan-ikan yang sudah dibekukan.
Agar ikan hasil tangkapan mereka tidak segera mati, mereka memberikan treatment, yaitu dengan memasukkan anak ikan paus ke dalam bak penampungan ikan tersebut. Kehadiran anak ikan paus ini menyebabkan ikan-ikan yang ada dalam bak penampungan tersebut selalu bergerak, lari menghindar dari tangkapan anak ikan paus.
Ternyata, aktivitas gerak aktif dari ikan-ikan ini membuat ikan tetap segar dan tidak mati lemas. Padahal, jika ikan-ikan tersebut dibiarkan tanpa memberikan 'tantangan' mereka akan mati lemas di dalam bak penampungan tersebut sebelum kapal nelayan sampai ke pinggir pantai.
Nah, saya melihat demikian juga halnya dengan kehadiran salon-salon Thailand profesional dan bersertifikat internasional ini di lingkungan kita. Mungkin, pada awalnya akan menimbulkan ketakutan atau kekhawatiran di kalangan pemilik salon-salon lokal. Mereka khawatir, salon-salon Thailand ini akan menggusur eksistensi mereka sebagai salon pilihan konsumen.
Kehadiran salon-salon Thailand ini akan mengeluarkan salon-salon lokal dari zona nyaman mereka. Dan, menurut saya ini adalah sinyal bagi salon-salon lokal untuk mulai bergerak lebih aktif dan kreatif. Agar tetap bisa survive ketika keluar dari zona nyaman tersebut.
Kehadiran salon-salon Thailand ini ibarat anak ikan paus yang mengejar ikan-ikan dalam bak penampungan nelayan Jepang tersebut. Ia memang menjadi ancaman yang menakutkan bagi ikan-ikan tangkapan tersebut. Akan tetapi kehadirannya justru melahirkan stimulus bagi ikan-ikan tanggapan agar terus bergerak dan bergerak. Sehingga ikan-ikan tersebut tetap segar dan tidak segera mati lemas berdesak-desakan dalam bak penampungan.
Demikian juga halnya dengan kehadiran salon Thailand ini. Salon-salon Thailand ini ibarat anak ikan paus bagi salon-salon lokal. Kehadirannya merupakan ancaman sekaligus tantangan bagi salon-salon lokal. Tantangan ini yang akan menggerakkan pemiliki salon untuk mengupgrade kualitas layanan merekan. Menghadirkan produk layanan khusus yang menjadi keunggulan salon mereka. Dan memberikan layanan-layanan kemudahan yang memanjakan konsumen. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah dengan menghadirkan tenaga-tenaga profesional yang terlatih. Tidak lagi mengandalkan tenaga-tenaga yang bekerja asal bisa

Comments

Popular posts from this blog

Puasa Syawal Atau Puasa Qadha Dulu?

Ini menjadi pertanyaan para muslimah di bulan syawal. Sekalipun sudah belasan bahkan puluhan kali melewati bulan Syawal, hal ini tetap saja menjadi pertanyaan di kalangan muslimah. Mana satu yang harus di dahulukan? Apakah puasa sunnah enam hari di bulan syawal ataukah membayar hutang puasa Ramadhan (Qadha)? Apakah sahabat blogger juga mempertanyakan hal yang sama?

Senyum di Wajah Mereka adalah Berkah Terindah yang Selalu Ingin Kumiliki

Apa yang kita cari dalam hidup kalau bukan kebahagiaan. Harta, pangkat, jabatan, pasangan, anak, dan semua yang kita perjuangkan hanyalah media untuk meraih kebahagiaan tersebut. Namun, kebahagiaan justru tidak lahir dari apa yang kita dapatkan. Akan tetapi, kebahagiaan  justru hadir dari apa yang kita bagikan. Ketika kita bisa melukis senyum di wajah orang lain, justru di sanalah senyum juga akan terukir di wajah kita. Ketika kita bisa memberi kebahagiaan pada orang lain, justru di sanalah kita akan merasakan bahagia. Dari sini aku menyadari bahwa berkah terindah dalam hidupku bukanlah ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu. Akan tetapi berkah terindah yang selalu ingin aku miliki adalah senyum terindah di wajah mereka. Senyum terindah yang terukir karena setitik kebaikan yang bisa aku berikan untuk mereka.
Senyum Di Wajah Kedua Orang Tuaku
Berkah terbesar dalam hidupku adalah ketika bisa melukis senyum di wajah kedua orang tuaku. Setiap jengkal perjuanganku tidak lain adalah untuk m…

Inilah 3 Alasan Mengapa Kita Harus Menyegerakan Kebaikan

Seringkali kita menunda-nunda amal baik dengan berbagai pertimbangan. Padahal peluang amal itu sudah terbentang di depan mata. Peluang pahala sudah menanti-nanti tangan kita untuk meraihnya. Namun, lagi-lagi karena berbagai alasan remeh peluang besar itu kita abaikan. Manusia memang mahluk yang lemah, sangat lemah. Hatinya mudah sekali dibolak-balikkan oleh sifat ragu-ragu. Langkahnya dengan gampang sekali dicekal oleh rasa malas, rasa takut dan tidak percaya diri. Sehingga, peluang besar, dan keuntungan menggunung raib begitu saja dengan sekejab. "niat baik itu jangan ditunda-tunda" petuah orang tua tua yang sering kita dengarkan.