Skip to main content

Silaturahmi dan Teknologi Tumbuhkan Rasa Aman

Saya bersyukur bisa hidup dan tinggal di kampung kelahiran yang masih kental dengan semangat kekeluargaan. Tinggal di rumah orang tua yang tanpa pagar dan tanpa penjagaan khusus. Dan seandainya Saya bersama eluarga pergi jauh dan dalam waktu yang lama, biasanya Saya pamit terlebih dahulu pada tetangga kiri dan kanan rumah. Karena, bagi Saya mereka adalah keluarga terdekat yang akan menjaga rumah dan sekelilingnya saat Saya dan keluarga tidak ada. Sehingga saya sekeluarga pun nyaman meninggalkan rumah tanpa penjaga.

Perasaan nyaman meninggalkan rumah beserta isinya tidak mungkin bisa saya miliki jika saya tidak menjalin hubungan silaturahmi yang baik dengan masyarakat, khususnya tetangga. Karena adanya hubungan baiklah maka saya kemudian mempercayakan keamanan rumah pada mereka saat bepergian. Kepercayaan itu yang kemudian menumbukan rasa aman dalam diri saya.

Ya, rasa aman itu memang mahal. Namun ia bisa diperoleh dengan cara yang sangat sederhana dan alami. Yaitu menjaga hubungan silaturahmi yang baik dengan orang-orang di sekitar kita. Membangun komunikasi, saling percaya dan saling menjaga. Jika hal ini sudah dijalankan, maka rasa aman itu akan tumbuh di lingkungan kita.

Selain silaturahmi, ada kekuatan lain yang bisa digunakan untuk menjaga keamanan ruang privat kita. Yaitu kekuatan teknologi. Adalah teknologi Speedy Monitoring yang memungkinkan kita menangkap, merekam, dan memantau suatu ruangan atau area tertentu dengan menggunakan IP Camera yang terhubung ke jaringan Speedy. Teknologi ini bekerja layaknya cctv online yang sangat membantu meningkatkan kewaspadaan dan keamanan rumah. Dengan bekal smartphone di tangan kita bisa memantau kondisi rumah dari mana saja.

Jika tetangga adalah life monitoring, maka speedy monitoring adalah online monitoring yang akan memantau keamanan rumah dan lingkungan. Kedua-duanya sama-sama dibutuhkan dan saling melengkapi. Karena rasa aman adalah harta termahal. Maka menjaga silaturahmi dan teknologi adalah usaha saya untuk melanggengkan harta termahal tersebut.


Comments

  1. Nah, ini yang kurang Mak di lingkungan baru saya.
    Tetangga ketahuan gak ada di rumah justru setelah malam, karena rumahnya gelap.

    Baru tahu saya Mak kalo ada speedy monitoring, patut di coba nih, kayaknya keren hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu dimulai dari kita mungkin mak, dg mencoba silaturahmi ke rumahnya :)

      Sy juga baru tau ada speedy monitoring gara2 ikut lomba ini hehe...:D

      Thankyu yah mak dah mampir, salam bloger

      Delete

Post a Comment

Tinggalkan Komen Ya!

Popular posts from this blog

Puasa Syawal Atau Puasa Qadha Dulu?

Ini menjadi pertanyaan para muslimah di bulan syawal. Sekalipun sudah belasan bahkan puluhan kali melewati bulan Syawal, hal ini tetap saja menjadi pertanyaan di kalangan muslimah. Mana satu yang harus di dahulukan? Apakah puasa sunnah enam hari di bulan syawal ataukah membayar hutang puasa Ramadhan (Qadha)? Apakah sahabat blogger juga mempertanyakan hal yang sama?

Senyum di Wajah Mereka adalah Berkah Terindah yang Selalu Ingin Kumiliki

Apa yang kita cari dalam hidup kalau bukan kebahagiaan. Harta, pangkat, jabatan, pasangan, anak, dan semua yang kita perjuangkan hanyalah media untuk meraih kebahagiaan tersebut. Namun, kebahagiaan justru tidak lahir dari apa yang kita dapatkan. Akan tetapi, kebahagiaan  justru hadir dari apa yang kita bagikan. Ketika kita bisa melukis senyum di wajah orang lain, justru di sanalah senyum juga akan terukir di wajah kita. Ketika kita bisa memberi kebahagiaan pada orang lain, justru di sanalah kita akan merasakan bahagia. Dari sini aku menyadari bahwa berkah terindah dalam hidupku bukanlah ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu. Akan tetapi berkah terindah yang selalu ingin aku miliki adalah senyum terindah di wajah mereka. Senyum terindah yang terukir karena setitik kebaikan yang bisa aku berikan untuk mereka.
Senyum Di Wajah Kedua Orang Tuaku
Berkah terbesar dalam hidupku adalah ketika bisa melukis senyum di wajah kedua orang tuaku. Setiap jengkal perjuanganku tidak lain adalah untuk m…

Inilah 3 Alasan Mengapa Kita Harus Menyegerakan Kebaikan

Seringkali kita menunda-nunda amal baik dengan berbagai pertimbangan. Padahal peluang amal itu sudah terbentang di depan mata. Peluang pahala sudah menanti-nanti tangan kita untuk meraihnya. Namun, lagi-lagi karena berbagai alasan remeh peluang besar itu kita abaikan. Manusia memang mahluk yang lemah, sangat lemah. Hatinya mudah sekali dibolak-balikkan oleh sifat ragu-ragu. Langkahnya dengan gampang sekali dicekal oleh rasa malas, rasa takut dan tidak percaya diri. Sehingga, peluang besar, dan keuntungan menggunung raib begitu saja dengan sekejab. "niat baik itu jangan ditunda-tunda" petuah orang tua tua yang sering kita dengarkan.